Amerika Mulai Runtuh, Indonesia Jangan Cuma jadi Penonton

Oleh: Mayjen TNI Fulad (Purn) (Penasehat Militer RI untuk PBB 2017–2019)
JAKARTA || Koranprogresif.id – Saya ingin menyampaikan beberapa catatan kecil sebagai sumbangan pikiran untuk kita semua. Bukan karena saya paling tahu, tapi karena saya kebetulan pernah duduk di posisi di mana saya harus membaca peta geopolitik dunia secara langsung selama bertugas di PBB. Apa yang terjadi dalam dua pekan terakhir di Timur Tengah, menurut saya, bukan sekadar berita harian. Ini adalah tanda zaman yang sayang jika kita lewatkan begitu saja.
*Tiga Fakta yang Tidak Bisa Kita Abaikan*
*Pertama: Ada kegaduhan internal di tubuh militer Amerika Serikat.*
Kepala Staf Angkatan Darat Amerika, seorang perwira bintang empat, dilaporkan dipecat di tengah ketegangan dengan Iran. Sumber-sumber yang dapat dipercaya menyebutkan bahwa alasan di baliknya adalah karena ia menyatakan ketidaksiapannya untuk terlibat dalam perang skala penuh melawan Iran.
Ini penting bagi kita. Bukan untuk mengejek. Tapi untuk memahami bahwa *negara adidaya pun punya kerapuhan internal.* Ketika profesional militer dipecat karena menyuarakan fakta di lapangan, itu menandakan ada sesuatu yang tidak beres di tingkat pengambilan keputusan.
*Kedua: Ada peristiwa yang secara teknis memalukan bagi kekuatan udara Amerika.*
Sebuah pesawat tempur Amerika berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Iran. Satu pilot dikabarkan ditawan. Saya tidak akan berspekulasi soal detail teknisnya. Tapi secara strategis, ini menunjukkan bahwa superioritas teknologi tidak menjamin kekebalan.
Selama ini kita terbiasa mendengar bahwa kekuatan udara Amerika tidak terkalahkan. Fakta di lapangan berkata lain. Ini pelajaran berharga bagi kita semua: jangan pernah meremehkan lawan, dan jangan pernah terlalu percaya diri dengan kecanggihan senjata.
*Ketiga: Qatar, negara dengan populasi hanya sepersekian dari Jakarta, mengambil langkah diplomatik yang berani.*
Menteri Luar Qatar secara terbuka menyatakan bahwa negaranya melihat hubungan dengan Iran sebagai bagian dari persaudaraan kawasan. Mereka juga menyampaikan kritik bahwa kepentingan Israel seringkali ditempatkan di atas kedaulatan negara-negara Teluk.
Yang lebih menarik, Qatar dilaporkan meminta pasukan Amerika untuk meninggalkan wilayah mereka. Apakah ini kebijakan yang tepat atau tidak, itu urusan mereka. Tapi yang patut kita renungkan: *mengapa negara sekecil itu berani bergerak begitu tegas, sementara kita yang jauh lebih besar seringkali terlihat ragu-ragu?*
Sekali lagi, ini bukan untuk merendahkan. Ini untuk bertanya jujur kepada diri kita sendiri.
*Lalu, Apa Dampaknya untuk Indonesia?*
Saya tidak sedang mengajak kita memusuhi Amerika. Saya tidak sedang mengajak kita mendukung Iran. Saya hanya mengajak kita untuk membaca peta dengan jernih, karena angin sedang berubah.
*Pertama: ekonomi kita akan terkena getahnya.*
Konflik di Teluk selalu berdampak pada harga minyak dan gas dunia. Rupiah kita sudah mulai tertekan. Subsidi energi membengkak. Rakyat kecil yang akan merasakan paling awal. Ini bukan urusan jauh-jauh. Ini urusan harga beras dan BBM di kampung halaman kita.
*Kedua: posisi bebas aktif kita akan diuji.*
Selama ini Indonesia nyaman-nyaman saja berteman dengan semua pihak. Tapi ketika dunia mulai terbelah bukan menjadi dua kubu seperti Perang Dingin dulu, tapi menjadi banyak kepingan, kita harus punya sikap yang jelas. Diam bukanlah strategi. Diam adalah undangan untuk diabaikan.
*Ketiga: kedaulatan maritim kita perlu dijaga ekstra.*
Perairan Indonesia adalah jalur silang perdagangan dunia. Jika ketegangan di Timur Tengah melebar, pergerakan kapal perang asing di sekitar kita akan meningkat. Kita harus siap menjaga wilayah kita tanpa harus ikut-ikutan dalam konflik mereka.
*Pesan untuk yang mengaku menjadi Pemimpin dan Seluruh Anak Bangsa*
Bagi Bapak-Ibu yang mengaku menjadi pemimpin,
Saya tahu kesibukan Bapak-Ibu luar biasa, ada banyak urusan dan tanggung jawab yang tidak kalah mendesaknya. Tapi izinkan saya menyampaikan satu pesan kecil:
*Jangan sampai kesibukan di dalam negeri membuat kita buta terhadap perubahan di luar negeri.*
Rakyat Indonesia tidak butuh pemimpin yang hanya pintar membaca polling. Mereka butuh pemimpin yang *mampu membaca peta dunia* dan mengambil keputusan yang melindungi kepentingan bangsa, bukan kepentingan asing.
Kita bisa belajar dari Qatar. Bukan karena mereka lebih hebat. Tapi karena mereka menunjukkan bahwa *negara kecil pun bisa berdaulat jika punya keberanian dan perencanaan.*
Indonesia lebih besar. Indonesia lebih kaya. Indonesia lebih strategis. Maka seharusnya kita tidak kalah dalam hal keberanian mengambil sikap yang berpihak pada kepentingan nasional.
Penutup.
Saya akhiri opini ini dengan satu kalimat sederhana:
*Dunia sedang berubah. Dan perubahan tidak pernah menunggu yang lambat.*
Amerika, sebagai negara adidaya, mulai menunjukkan tanda-tanda kerapuhan. Bukan berarti mereka akan runtuh besok lusa. Tapi retakan itu nyata. Dan ketika sebuah bangunan besar mulai retak, yang bijak adalah mulai mencari pintu keluar, bukan berdiri di tengah ruangan sambil menonton.
Maka kepada para pemimpin bangsa: *mari kita bergerak*. Bukan dengan teriak-teriak, bukan dengan sikap anti siapa pun. Tapi dengan *perencanaan yang matang, diplomasi yang cerdas, dan keberanian yang tidak berlebihan tapi juga tidak kekurangan.*
Kepada rakyat Indonesia: *jangan takut,* Fakta ada di pihak kita. Kita hanya perlu mau melihatnya.
*Jakarta, 6 April 2026*




