Pulang dari Negeri Beruang Merah: Sebuah Memori tentang Fathan Subchi (II)

Oleh: M.R. Mualimin
YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Kabar duka itu menyeruak tajam, menembus jarak ribuan kilometer dari dinginnya Moskow, Rusia. Fathan Subchi—Anggota VI Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia sekaligus figur yang pernah mengemban amanah di Komisi XI DPR RI—telah berpulang ke hadirat Ilahi di salah satu rumah sakit di sana. Sebagai seseorang yang menyaksikan dan mencatat langsung rekam jejaknya dari dekat, warta ini meninggalkan keheningan yang panjang.
Bagi saya, Fathan bukan sekadar pejabat tinggi negara yang namanya kerap menghiasi berita utama. Ia adalah sahabat diskusi yang hangat, rendah hati, dan selalu membumi di tengah dinamika masyarakat. Ingatan saya langsung melompat pada sejumlah perjumpaan nyata yang merekam watak aslinya.
Masih lekat dalam ingatan tatkala kami berjumpa dalam kehangatan Acara Halal Bihalal Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN) di Resto Bandar Jakarta. Di tengah keriuhan suasana silaturahmi perantau asal Demak, Fathan hadir tanpa sekat pengawalan yang kaku. Ia duduk bersimpuh dalam keakraban, berdiskusi cair tentang kemajuan kampung halaman, merajut simpul-simpul kebersamaan kaum diaspora Demak dengan senyum khasnya yang tidak pernah berubah sejak dulu.
Tak hanya di ruang publik kuliner pesisir Jakarta, kehangatan itu juga saya rasakan tatkala bertamu langsung ke rumah dinasnya di Jakarta. Di balik kediaman resmi seorang pejabat negara, Fathan menyambut para tamu dengan tradisi kesahajaan kaum santri. Meja tamu itu kerap menjadi saksi bisu diskursus-diskursus kritis mengenai arah kebijakan fiskal, nasib wong cilik, hingga penguatan jaringan umat. Ia tahu betul cara membedakan antara atribut kekuasaan dan esensi pengabdian.
Perjumpaan hangat berikutnya terukir di Tangerang Selatan, saat kami menghadiri sebuah pesta pernikahan kerabat. Di tengah kerumunan undangan yang berdesakan, Fathan tetap meluangkan waktu menyapa, melempar gurauan segar, dan menanyakan kabar dinamika pendidikan serta dakwah yang saya geluti di Yogyakarta. Baginya, persahabatan tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan yang sedang dipangku, melainkan dari ketulusan merawat silaturahmi.
Sepak terjangnya di panggung politik nasional hingga kursi auditor utama keuangan negara mencerminkan integritas yang kian langka. Fathan membuktikan bahwa kekuasaan bisa dijalankan dengan nurani yang bersih. Sebagaimana diulas tajam oleh sosiolog politik Gerry van Klinken dalam Minorities, Modernity and the Emerging Nation: Christians in Indonesia, a Biographical Approach (KITLV Press, Leiden, 2003, hlm. 145), keteladanan seorang pemimpin di negeri ini sangat bergantung pada kemampuannya merawat akar kerakyatan dan empati moral di tengah sistem birokrasi yang dingin. Fathan melakoninya secara paripurna; ia adalah teknokrat keuangan yang bernapaskan kebudayaan santri.
Kini, langkah kaki sahabat saya itu telah terhenti selamanya di bumi Rusia. Rangkaian perjumpaan di Bandar Jakarta, rumah dinasnya, hingga sudut kota Tangerang Selatan kini bermetamorfosis menjadi arsip memori yang abadi. Selamat jalan, Mas Fathan. Jejak kebaikan dan ketulusanmu akan terus hidup menuntun nurani kami.***
Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.











