Lambaian Kairo di Simpang Iman

Oleh: M.R. Mualimin
YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Cangkir kopi hitam di sudut kedai kawasan Tebet itu mendidih tipis saat seorang pemuda bercerita tentang masa lalunya di Kota Para Menara. Panggil saja dia Rehan. Ia mengingat betul panasnya terik matahari Kairo, riuhnya riwayat hadis di ruangan kuliah Universitas Al-Azhar, dan harumnya kitab-kitab bergaya turats. Namun, di balik seragam jubah dan kebanggaan alumni kampus Islam tertua dunia itu, ada badai sunyi yang tak pernah dicatat dalam brosur penerimaan mahasiswa baru.
Rehan adalah satu dari sekian banyak potret penjelajah spritual yang memilih berbalik arah. Berpindahnya keyakinan—sebuah langkah ekstrem dari menjadi pembela ajaran menjadi pemeluk Kristen—sering kali dianggap petir di siang bolong bagi keluarga dan masyarakatnya. Namun, fenomena pergeseran iman di kalangan intelektual agama bukanlah fenomena fiktif yang hadir tanpa jejak sejarah dan dinamika sosio-psikologis yang nyata.
Dalam lipatan sejarah sosiologi agama, pengalaman pergulatan batin seperti ini direkam dengan tekun oleh berbagai ilmuwan global. Peneliti Mesir-Amerika, Samuel Zwemer, dalam karyanya The Law of Apostasy in Islam (London: The Marshall Brothers, 1924, hlm. 42) melukiskan bagaimana perbenturan intelektual, krisis eksistensial, serta kekecewaan terhadap realitas politik-sosial umat sering menjadi pintu masuk utama pencarian teologis baru. Perjalanan itu jarang dimulai dari kebencian, melainkan dari tumpukan pertanyaan yang tak kunjung menemukan muara yang menentramkan.
Pergolakan ini kian tajam ketika diuji di medan modernitas. Pengamat Islam kontemporer, Brother Andrew dan Al Janssen, dalam dokumentasi etnografis Light Force: The Can-Do Faith That Initiates Change in the Middle East (Grand Rapids: Fleming H. Revell, 2004, hlm. 115), menggambarkan betapa kompleksnya dinamika batin para pencari Tuhan di Timur Tengah. Ketika seorang penuntut ilmu agama terpapar pada pengalaman personal yang intens, perjumpaan antarbudaya, atau teks-teks pembanding, struktur keyakinan lama yang semula tampak kukuh dapat mengurai secara perlahan.
Mengapa pergulatan ini terasa begitu mengguncang? Sosiolog agama Rodney Stark dalam bukunya Micro-Foundations of Religious Conversion (New York: Routledge, 2009, hlm. 88) menjelaskan bahwa konversi agama di tingkat individu selalu melibatkan akumulasi krisis kognitif (cognitive dissonance). Ketika seseorang merasa ada jarak lebar antara idealisme ajaran ilmiah yang dipelajarinya di bangku kuliah dan kenyataan hidup sehari-hari, retakan emosional itu mulai terbentuk. Dari titik retak itulah interaksi baru dengan komunitas agama lain—yang menawarkan narasi kedamaian atau penerimaan personal—mulai memegang peranan kunci.
Di balik fenomena ini, kita diajak untuk melihat manusia bukan sekadar statistik atau label status sosial semata, melainkan sebagai jiwa-jiwa yang terus bergulat mencari tempat berteduh. Perpindahan iman alumni lembaga besar seperti Al-Azhar adalah cermin rumitnya lanskap psikologi agama modern: bahwa pengetahuan teologis yang tinggi sekalipun tak pernah sepenuhnya mengunci arah pencarian hati nurani manusia.***
Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.









