Mata Air Kebaikan: Mengenang Sahabat Fathan Subchi

Oleh: Aguk Irawan M.N.
YOGYAKARTA || Koranprogreaif.id – Maut, seperti yang sering ditulis, tidak pernah mengetuk pintu dengan permisi. Ia datang seperti angin gurun yang tiba-tiba melenyapkan jejak kaki di pasir, meninggalkan kita yang hidup tertegun dalam ketidakpercayaan. Selalu ada yang pergi meninggalkan kita. Seseorang pernah ada di sana, juga ada di sini, kemudian tiba-tiba lenyap dan terus menerus lenyap.
Kabar duka yang datang dari Moskow itu membawa saya kembali pada ingatan-ingatan kecil yang lekat, pada musim haji 2024 yang lalu, ketika takdir mempertemukan kami dalam satu rombongan tim pengawas haji.
Ada orang-orang yang kehadirannya seolah-olah dirancang untuk melunakkan kerasnya dunia. Almarhum Fathan Subchi adalah satu dari sedikit orang itu.
Pertemuan pertama kami bermula di lounge Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Di sana, batas-batas birokrasi dan status sosial biasanya terpampang jelas. Beliau adalah seorang anggota dewan yang terhormat, sementara saya hanyalah seorang warga biasa tanpa privilese.
Ketika petugas bandara menyodorkan tarif masuk fasilitas lounge yang dibebankan kepada saya, sebuah tangan dengan cepat mendahului gerak saya. Pak Fathan, yang saat itu baru saja menjabat tangan saya untuk pertama kali sebagai tanda perkenalan, buru-buru menyodorkan kartu debitnya kepada petugas.
Kami baru saja saling menyebut nama, namun sebuah tabungan kebaikan telah ia serahkan tanpa ragu. Di sanalah saya memahami apa yang bertahun-tahun kemudian diucapkan oleh Gus Muhaimin: bahwa almarhum Fathan Subchi laksana sebuah sumur bagi sekelilingnya. Ia tidak menunggu orang lain kehausan untuk memberi air; ia menyediakan dirinya, mengalirkan ketulusan bahkan sebelum keakraban sempat dibangun.
Musim haji tahun itu bukan sekadar perjalanan tugas pengawasan bagi Pak Fathan. Ia turut membawa serta keluarga besarnya. Saya tahu betul bagaimana ketat dan jujurnya beliau menjaga integritas; seluruh anggota keluarganya membayar biaya ekstra secara mandiri dan profesional kepada pihak travel penyelenggara, PT Nur Ramadhani, demi memastikan tidak ada satu pun fasilitas negara yang terpakai untuk kepentingan pribadi.
Hari-hari di bawah terik maktab dan riuh jamaah menjadi saksi bagaimana isi kepala Pak Fathan terus berputar demi kemaslahatan umat. Di sela-sela rehat tugas pengawasan yang melelahkan, kami sering duduk bersama. Tempat favorit beliau adalah Mido Cafe, sebuah sudut hangat yang terselip di kawasan Zam-zam Tower, Makkah. Di sanalah, ditemani aroma kopi arabika yang pekat, ide-ide konstruktif untuk perbaikan pelayanan ibadah haji mengalir deras dari pemikirannya.
Beliau bukan politisi yang gemar berwacana kosong. Ide-idenya sangat tajam dan struktural: mulai dari pentingnya membangun sistem prosedur pelayanan yang serba tanggap dan profesional, urgensi audit keuangan menyeluruh dari hulu hingga hilir (a-z), ketegasan untuk memasukkan perusahaan mitra yang wanprestasi ke dalam daftar hitam (blacklist), hingga strategi meningkatkan daya tawar pemerintah Indonesia terkait kuota dan akomodasi di Mina.
Bahkan, tantangan besar mengenai pembentukan Kementerian Haji pun tak luput dari diskusinya. Di Mido Cafe itu, saya melihat seorang pemikir yang gelisah, yang memandang ibadah haji bukan sekadar ritus tahunan, melainkan sebuah amanah besar yang menyangkut martabat dan keselamatan jutaan nyawa manusia.
Namun, di balik semua gagasan besar itu, sifat jenaka dan kemanusiaan Pak Fathan tidak pernah hilang. Pernah suatu kali, sehabis kami menghabiskan kopi dan beranjak dari meja, beliau tiba-tiba menoleh melihat alas kaki saya yang tampak usang akibat berjalan bermil-mil di antara tenda-tenda jamaah. Dengan santai dan penuh perhatian seorang kakak, beliau menawarkan untuk membelikan saya sepatu baru.
Sebuah perhatian kecil yang remeh bagi sebagian orang, namun sangat membekas bagi siapa saja yang berada di dekatnya.
Kini, sumur itu telah berhenti mengalirkan airnya di dunia. Di usia 56 tahun, saat menjalankan tugas pemeriksaan negara di Rusia, Allah memanggilnya pulang. Kita kehilangan seorang kawan, seorang pengawas yang gigih, dan seorang manusia yang senantiasa basah oleh kebaikan.
Di tengah untaian doa dan tahlil yang mengangkasa, saya tahu bahwa meskipun jasadnya akan beristirahat di tanah kelahiran Demak, mata air kebaikan yang pernah ia gali di hati orang-orang yang mengenalnya akan tetap mengalir, abadi, melampaui usia kematian itu sendiri.
Tak ada hidup yang tak bisa kekal,
meskipun cuma sebentar di dunia. Karena itu kita perlu belajar pada sahabat Fathan — tentang hal-hal terlihat kecil tapi sungguh bermakna bagi orang lain. Selamat jalan, Sahabat. Tabungan kebaikanmu telah genap.***
Penulis adalah:
– Budayawan,
– Novelis Nasional.











