BIOETIKA Dalam Sebuah KESETIAAN CINTA: REVIU FILM “HABIBIE & AINUN”

Oleh: Sekar Arum Ambarwati (Mahasiswa Magister Hukum Kesehatan UGM)
YOGJAKARTA || Koranprogresif.id –
*Sinopsis*
Film “Habibie & Ainun” merupakan film yang menggambarkan kesetiaan cinta dari sepasang kekasih. Kisah cinta ini diawali saat Habibie atau yang biasa dipanggil Rudy dan Ainun duduk di bangku SMA. Awalnya Rudy hanya memantau Ainun dari jauh dan ketika mereka bertemu, Rudy malah menyebut Ainun “Si Gula Jawa”. Si Gula Jawa bisa berarti wanita berkulit sawo matang dengan senyum yang manis seperti gula jawa.
Kemudian, mereka berdua sempat berpisah karena masing-masing ingin menggapai cita-citanya yaitu Rudy yang ingin menjadi Insinyur dan berkuliah di Jerman, sedangkan Ainun yang bercita-cita sebagai Dokter dan berkuliah di Universitas Indonesia.
Dengan segala tantangan pada tahun tersebut karena adanya stigma “Wanita Tidak Pantas Menjadi Dokter”, Ainun membuktikan bahwa ia pantas menjadi dokter dengan predikat sebagai Lulusan Terbaik. Rudy pun sempat mengalami perdebatan dengan teman-teman di kampusnya yang meragukan kecerdasanya. Keduanya masing-masing sempat memiliki hubungan dengan orang lain, tetapi takdir berkata lain hubungan tersebut kandas.
Pada suatu hari, Rudy datang ke rumah Ainun dan pada saat itulah mulai tumbuh kembali perasaan mereka berdua dan mereka berduapun menjadi pasangan kekasih. Singkat cerita keduanya akhirnya memilih untuk menikah dan tinggal di Jerman.
Ternyata Rudy Habibie memiliki riwayat penyakit TBC Tulang saat ia berkuliah di Jerman. Namun, Ainun tetap setia merawat, mengingatkan minum obat, serta mendukung segala yang dilakukan Habibie. Lambat laun Kondisi Ainun pun menurun ketika ia sudah menjadi Ibu Negara, ternyata ia didiagnosis Kanker Ovarium.
Rudy yang mengetahui keadaan istrinya selalu melakukan apapun demi kesembuhan Ainun mulai dari kemoterapi hingga operasi. Namun, kanker tersebut sudah semakin ganas dan akhirnya Rudy memutuskan untuk membawa Ainun ke Jerman untuk melakukan pengobatan dengan alat-alat yang canggih.
Takdir berkata lain, Ainun akhirnya menghembuskan napas terakhirnya dan Rudy merasa sangat kehilangan “Si Gula Jawa” pengisi separuh hidupnya.
*Prinsip dan Kaidah Dasar Bioetika*
Bioetika merujuk pada studi sistematis atas perilaku dalam ilmu-ilmu tentang hidup dan Kesehatan yang diuji dalam nilai dan moral. Bioetika sediri selalu berhubungan dengan segala sesuatu dalam kehidupan. Sama halnya dengan kesetiaan yang merupakan bagian dari sebuah etika dalam menghargai suatu hubungan.
Dari kisah “Habibie & Ainun” berhubungan dengan 4 Kaidah Dasar Bioetika. Dalam film ini pun memberikan contoh Bioetika karena membahas tentang kesetiaan hingga adanya permasalahan klinis.
*Kaidah Dasar Bioetika*
*1. Otonomi (Menghormati Pilihan Pasien)*
Prinsip Otonomi berfokus pada hak pasien untuk menentukan nasibnya sediri, termasuk ketika menerima atau menolak suatu tindakan yang akan diterimanya saat masa perawatan setelah mendapatkan informasi secara lengkap dari dokter.
Dalam Film Habibie & Ainun, prinsip ini menggambarkan bagaimana Ainun menerima keadaannya ketika didiagnosis menderita kanker ovarium yang selanjutnya harus mengambil keputusan untuk melakukan operasi, kemoterapi, atau terapi lainnya setelah ia mendapatkan informasi lengkap dari dokter yang menanganinya.
Dilema Etika yang timbul di film ini terjadi ketika Habibie mengambil sebuah keputusan untuk melakukan pengobatan di Muchen sebelum bertanya kepada Ainun. Meskipun Habibie bertindak atas dasar cinta dan keinginan terbaik untuk Ainun, tetapi akan timbul suatu pertanyaan tentang sejauh mana Otonomi Ainun dihormati sepenuhnya sepanjang proses perawatannya, terutama ketika pengambilan keputusan di akhir hidup Ainun.
*2. Beneficene (Berbuat Baik)*
Prinsip Beneficene mewajibkan para professional kesehatan untuk bertindak demi kepentingan terbaik pasien guna memberikan manfaat dan mencegah terjadinya bahaya bagi pasien. Dalam film ini pada seluruh upaya tim medis dan Habibie untuk mencari pengobatan terbaik bagi Ainun hingga harus bolak-balik ke Jerman.
Selain itu, keputusan untuk melakukan serangkaian pengobatan dari operasi hingga kemoterapi bertujuan untuk memperpanjang hidup dan meningkatkan kualitas hidup Ainun. Cinta dan dedikasi Habibie untuk Ainun, digambarkan yang selalu mendampingi dan memberikan SEMANGAT, serta juga dapat dilihat sebagai bentuk dukungan emosional yang esensial dalam proses penyembuhan yang merupakan bagian dari kebaikan holistic.
*3. Non-Maleficene (Tidak Menimbulkan Kerugian)*
Prinsip Non-Maleficene berpegang pada semboyan Latin “primum non nocere” yang artinya “pertama-tama, jangan merugikan”. Hal ini berarti kewajiban untuk menghindari Tindakan yang merugikan atau membahayakan pasien, meminimalkan risiko dan tidak memperburuk kondisi pasien.
Film ini menceritakan kasus kanker stadium lanjut yang dapat menimbulkan konflik batin antara mencoba mengobati dengan operasi dan kemoterapi dengan prosedur medis invasive seringkali menimbulkan efek samping yang sangat menyakitkan dan menurunkan kualitas hidup.
Tim dokter dan Habibie terus berjuang untuk menemukan keseimbangan dengan melakukan intervensi yang paling bermanfaat sambil meminimalkan rasa sakit dan penderitaan dengan penanganan rasa nyeri akibat kemoterapi. Dalam prinsip Non-Maleficene, titik kritis berada ketika pengambilan keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan terapi paliatif bagi Ainun, dimana tujuan perawatannya beralih dari menyembuhkan menjadi meringankan penderitaan di akhir hidup.
Bahkan di akhir hidup Ainun, di sanalah Habibie diharuskan mengambil keputusan segera untuk tetap memasang alat medis bagi Ainun atau melepaskannya, dan pada akhirnya Habibie Ikhlas untuk melepaskan alat medis yang dipakai Ainun.
*4. Justice (Keadilan)*
Prinsip Justice berkaitan dengan pembagian sumber daya kesehatan yang adil dan meraata serta perlakuan yang sama tanpa diskriminasi terhadap pasien. Dalam film ini, Keluarga Habibie memiliki akses ke perawatan medis terbaik yang tersedia di Jerman.
Dari sudut pandang Bioetika, ini memicu pertanyaan tentang keadilan distributive yaitu Mengapa hanya orang-orang dengan sumber daya, dana, serta jabatan yang memadai yang dapat mengakses perawatan state-of-the-art ini? Film ini secara implisit menyoroti adanya perbedaan akses ini.
Meskipun memiliki status sosial-politik tinggi, Ainun harus menerima perawatan standar yang berlaku untuk kondisinya. Tidak ada indikasi adanya perlakuan diskriminatif dari tim medis.
*Kesimpulan*
Film Habibie & Ainun secara emosional memaparkan dilema etika yang kompleks yang sering terjadi pada pasien dengan penyakit kritis
Beban Pengambilan Keputusan pada Film ini menggambarkan Beneficene dan Non-Maleficene yang harus dipertimbangkan secara intens dalam situasi tanpa harapan. Keputusan untuk terus berjuang melawan penyakit merupakan suatu tindakan *CINTA* yang didorong oleh Beneficene, tetapi menimbulkan pertanyaan tentang penderitaan yang tak terhindarkan (Non-Maleficene) yang dialami oleh Ainun.
Sementara itu, berdasarkan Otonomi dan Keluarga, meskipun otonomi Ainun adalah utama, film ini menunjukkan bagaimana *CINTA, KESETIAAN, dan DUKUNGAN KELUARGA* yang diwakili oleh Habibie menjadi faktor penentu dan etis yang kuat dalam menghadapi akhir hidup.
Tindakan Habibie didasarkan pada keinginan untuk menghormati janji dan martabat Ainun sebagai manusia, yang merupakan inti dari menghormati otonomi seseorang di saat-saat paling rentan. ***









