Ragam

Diatas Hamparan Daun Pisang: Halal Bihalal PGSI Usung Ugahari, Langitkan Do’a Keselamatan Bangsa

 

DEMAK|| Koranprogresif.id – Halal bihalal PGSI Demak dan Do’a Kebangsaan Hari Jadi Kabupaten Demak ke-523 tahun 2026, kali ini mengusung konsep Ugahari.

Hal itu disampaikan oleh pengurus PGSI bidang Informasi dan Komunikasi, Hanifudin, disela-sela acara halal bihalal, bertempat di Gedung tua Bakso Idaman, deretan stasiun Demak, Sabtu (28/3/2026).

“Halal bihalal dan do’a kebangsaan PGSI, didesain ala Ugahari atau kesederhanaan, dengan lesehan diatas gelaran daun pisang, sambil menikmati Ketupat yang dibawa oleh masing masing dari rumah dengan saling bertukar, sambil merefleksi atas perjuangan PGSI,” terang Hanifudin.

Senada disampaikan oleh Rikhwan, Ketua DPC PGSI Kecamatan Bonang bahwa, Konsep Ugahari dalam halal bihalal ini menekankan pada pengendalian diri, kesederhanaan, rasa cukup dengan syukur nikmat dan tidak serakah, terlebih sebagai pendidik perlu memberikan keteladanan bagi siswa dan masyarakat, tambah Rikhwan usai pembacaan do’a kebangsaan yang dipimpin oleh Kiyai Abdul Wakhid dari Dempet.

*REFLEKSI DITENGAH ANCAMAN KRISIS BBM*

“Peringatan Hari Jadi Kabupaten Demak ini, bisa menjadi titik balik untuk menengok sejauh mana pembangunan Infrastruktur dan pembangunan SDM di kabupaten Demak telah berjalan, sekaligus merancang langkah kedepan ditengah ancaman krisis BBM”.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua PGSI Demak, Noor Salim didampingi jajaran Ketua DPC dari 14 Kecamatan dan 1 pleton pasukan, usai menghadiri upacara Hari Jadi Kabupaten Demak ke-523 tahun, di halaman Sekda.

Esensi dari peringatan hari jadi, lanjutnya, terletak pada bagaimana seluruh elemen masyarakat dapat guyub bergerak dan berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.

“Untuk itu, PGSI selalu berkolaborasi berupaya maksimal, bergerak memperjuangkan hak- hak guru, juga membangun Sumber Daya Manusia melalui dunia pendidikan dengan mengangkat kearifan lokal, seperti saat ini, mengenakan pakaian adat Demak ala Sunan Kalijaga, dan Selametan dengan konsep Ugahari,” tambah Salim, pria penerima penghargaan tingkat ASEAN.

Salim menjelaskan, bentuk refleksi hari jadi diantaranya:
– Kesatu: Perbanyak ruang dialog antara pemerintah (Bupati dan DPRD) dengan warga, terutama menyikapi kondisi global ancaman krisis BBM, seperti forum RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah), Publik Hearing DPRD, dll.
– Kedua: Pelestarian budaya, salah satunya pengajuan cagar budaya Masjid Agung Demak ke UNESCO yang hingga kini masih menjadi PR Dindikbud.
– Ketiga: Menjadikan menu sate keong dan bubur jamu coro makanan khas tradisional Demak, menjadi sajian acara resmi tingkat Kabupaten, Kecamatan hingga Desa, guna mengangkat ekonomi warga. (Red).

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock