Opini

Embarkasi Kulonprogo Berbasis Perhotelan: Untung dan Ruginya

Oleh: Muhammad Rofik Mualimin (Kolumnis/Dosen STAI Yogyakarta/Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah)

KULOPROGO || Koranprogresif.id – Kulonprogo, Kabupaten yang selama ini dikenal sebagai daerah yang kaya akan potensi wisata alam dan budaya, kini mulai mengembangkan diri sebagai embarkasi haji berbasis perhotelan. Langkah ini tentu menarik untuk diperhatikan, sebab transformasi tersebut menyentuh dua aspek sekaligus: pelayanan ibadah sekaligus pengembangan ekonomi lokal. Namun, seperti dua sisi mata uang, ada untung dan rugi yang perlu dicermati bersama.

Secara positif, basis perhotelan pada embarkasi haji di Kulonprogo membuka peluang besar bagi pengembangan ekonomi.

Seperti dijelaskan oleh Handayani (2019: 78) dalam bukunya Ekonomi Pariwisata dan Pembangunan Daerah, pengembangan fasilitas perhotelan dapat memicu multiplier effect yang menghidupkan sektor usaha mikro hingga menengah di sekitarnya.

Penambahan hotel dan fasilitas pendukung tidak hanya melayani jamaah haji, tapi juga wisatawan dan pebisnis yang datang ke daerah tersebut. Jadi, Kulonprogo tidak hanya menjadi titik transit ibadah tapi juga pusat ekonomi kreatif yang lebih hidup.

Selain itu, pengelolaan embarkasi berbasis perhotelan dapat memberikan kenyamanan lebih bagi jamaah haji.

Syahril dan Putri (2021: 134) dalam Jurnal Manajemen Pelayanan Publik menegaskan, fasilitas akomodasi yang memadai berdampak signifikan terhadap kepuasan jamaah. Mereka merasa lebih nyaman dan siap secara mental menjalani proses ibadah. Ini tentu menjadi nilai tambah bagi pemerintah daerah dalam mengedepankan kualitas pelayanan publik sekaligus menarik citra positif Kulonprogo.

Namun, dari sisi lain, ada beberapa hal yang patut diwaspadai. Pertama, fokus pada pengembangan perhotelan berpotensi menyebabkan pengalihan fungsi lahan yang selama ini digunakan untuk kegiatan pertanian atau ruang terbuka hijau.

Menurut Santoso (2020: 92) dalam Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan, perubahan penggunaan lahan tanpa pengelolaan berkelanjutan dapat menyebabkan degradasi lingkungan dan mengurangi ketersediaan sumber daya alam jangka panjang. Jika tidak hati-hati, Kulonprogo bisa kehilangan kekayaan alam yang selama ini menjadi daya tarik utama daerah.

Kedua, pembangunan hotel yang masif dan bertumpu pada satu segmen pasar, yakni jamaah haji dan wisatawan religius, berpotensi menciptakan ketergantungan ekonomi.

Seperti dicatat oleh Nugroho (2018: 55) dalam buku Pengembangan Pariwisata Berbasis Komunitas, ketergantungan yang tinggi pada satu jenis wisata bisa berisiko ketika terjadi penurunan kunjungan atau krisis seperti pandemi.

Hal ini bisa berdampak pada pendapatan masyarakat lokal yang kemudian berimbas pada kemiskinan dan ketidakstabilan sosial.

Akhirnya, keberhasilan embarkasi Kulonprogo berbasis perhotelan sangat tergantung pada manajemen yang bijak dan partisipasi masyarakat lokal. Pemerintah daerah harus memastikan, pembangunan tidak hanya bersifat komersial, tapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pelibatan warga dalam proses pengelolaan akan mendorong rasa memiliki dan menjaga warisan budaya.

Secara keseluruhan, ide embarkasi berbasis perhotelan di Kulonprogo memiliki potensi besar untuk memajukan daerah. Tapi, sebagaimana diingatkan oleh Santoso dan rekan (2020: 97), pembangunan harus berjalan beriringan dengan konservasi dan pemerataan ekonomi agar manfaatnya dirasakan luas dan tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari. ***

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock