Opini

Gerakan Samin di Pati, Simbol Perlawanan Rakyat yang Tetap Relevan

Oleh: Muhammad Rofik Mualimin (Kolumnis/Dosen STAI Yogyakarta/Pengasuh PP Latifah Mubarokiyah)

YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Gerakan Samin di Pati, Jawa Tengah, mungkin tidak sepopuler perjuangan kemerdekaan lain di Indonesia, tapi semangatnya patut diingat sebagai simbol perlawanan rakyat kecil terhadap penjajahan. Gerakan ini muncul pada akhir abad ke-19, sebagai respon sederhana namun berani terhadap kebijakan kolonial Belanda yang merugikan petani dan masyarakat lokal.

Samin Surosentiko, tokoh utama gerakan ini, mengajarkan prinsip hidup sederhana dan menolak segala bentuk kerja paksa serta pungutan pajak yang tidak adil.

Dalam bukunya Gerakan Samin: Antara Legenda dan Realita (Sutrisno, 2015: 42) dijelaskan, Samin dan pengikutnya memilih jalan damai, tidak melakukan perlawanan bersenjata, tapi tetap tegas menolak aturan penjajah. Tindakan ini terlihat sederhana, tapi bermakna besar sebagai bentuk penolakan terhadap sistem yang menindas.

Menurut Soerjono Soekanto (1981: 120) dalam Sosiologi: Suatu Pengantar, gerakan sosial seperti Samin menunjukkan, perlawanan tidak selalu harus melalui kekerasan. Dalam konteks kolonial, sikap diam dan menolak bekerjasama juga dapat menjadi bentuk perlawanan yang efektif. Hal ini menandakan, strategi perlawanan rakyat bisa beragam, sesuai dengan kondisi sosial dan budaya setempat.

Lebih jauh, sebagaimana dikemukakan oleh Kartodirdjo (1988: 157) dalam Peasant Movements in Indonesia, gerakan Samin mengandung nilai-nilai sosial yang mendalam, seperti solidaritas dan kepercayaan terhadap keadilan Tuhan, yang memperkuat daya tahan masyarakat melawan tekanan kolonial. Sikap menolak kerja paksa bukan hanya tindakan praktis, tapi juga ekspresi dari identitas kultural yang ingin dipertahankan.

Tidak hanya di masa lalu, relevansi gerakan Samin masih terasa hingga sekarang. Dalam Jurnal Sejarah Nusantara (Rahmawati, 2020, Vol. 6, No. 2, h. 88) disebutkan, prinsip perlawanan tanpa kekerasan ala Samin menginspirasi berbagai gerakan sosial kontemporer yang menuntut keadilan sosial dan lingkungan. Misalnya, komunitas adat dan petani kecil yang masih berjuang mempertahankan hak atas tanah dan sumber daya alam.

Namun, menariknya, gerakan Samin kerap disalahpahami atau dianggap sebagai kelompok eksentrik oleh pemerintah kolonial maupun beberapa kalangan akademik pada masa lalu. Hal ini diulas dalam buku Saminism: The Culture of Passive Resistance in Java karya Geertz (1960: 33), yang menyoroti bagaimana stereotip tersebut muncul karena kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai dan strategi perlawanan mereka.

Pada akhirnya, gerakan Samin mengajarkan, perlawanan rakyat bukan hanya soal kekuatan fisik, melainkan juga kekuatan moral dan budaya. Di tengah berbagai tekanan dan penindasan, mereka memilih jalan damai, namun tidak kalah tegas. Semangat ini menjadi warisan berharga yang mengingatkan akan keberanian rakyat biasa dalam menghadapi ketidakadilan.

Sebagai refleksi, perlu dilihat kembali sejarah seperti gerakan Samin ini agar tidak melupakan kekayaan cara-cara perlawanan yang beragam di Indonesia. Ini penting supaya semangat perlawanan rakyat, yang sering kali tersembunyi di balik cerita besar sejarah, tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi sekarang dan mendatang. ***

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock