Milad ke-8 Laskar Macan Ali: Perkuat Adat, Budaya, dan Toleransi Antar Umat

KOTA CIREBON – Koranprogresif.id – Laskar Agung Macan Ali Nuswantara Kesultanan Cirebon merayakan milad ke-8 di Alun-alun Sangkala Buana, Keraton Kasepuhan Kota Cirebon, Sabtu (26/10/24).
Rangkaian acara yang berlangsung dari pagi hingga malam ini menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari pengobatan gratis, donor darah, pagelaran seni dan budaya, hingga kirab budaya dan haul Panembahan Girilaya (Panembahan Ratu II/Panembahan Abdul Karim Kesultanan Cirebon).
Prabu Diaz, pemimpin Laskar Macan Ali, menjelaskan bahwa acara milad ini merupakan puncak peringatan satu windu organisasi tersebut.
“Alhamdulillah, acara ini dihadiri tokoh penting seperti Laksamana Sasmita, Yohanes Susanto, Marsekal Sumarsono, dan lainnya. Semua rangkaian telah dipersiapkan selama satu bulan terakhir,” ujarnya.
Puncak acara malam ini adalah haul Panembahan Giriloyo, sebagai penghormatan kepada Panembahan Ratu II atau Panembahan Abdul Karim, pemimpin terakhir Negara Caruban.
Dalam kirab budaya yang dimulai dari Balai Kota dan berakhir di Alun-alun Sangkala Buana, berbagai komunitas adat dan budaya dari Jawa Barat turut berpartisipasi.
“Kami juga mengukuhkan empat wakil panglima tinggi Macan Ali dari perwakilan daerah, serta hampir 30 panglima daerah dari berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, penghargaan khusus diberikan kepada 10 tokoh internal Macan Ali yang berjasa selama delapan tahun terakhir,” lanjut Prabu Diaz.
Pada kesempatan tersebut, Prabu Diaz juga membahas rencana program Laskar Macan Ali untuk tahun mendatang, yaitu Tudhong Internasional 2025 yang akan diikuti oleh 38 peserta dari berbagai negara, bertambah dari 32 peserta pada 2023.
Program ini dirancang dalam kolaborasi dengan dua biksu dari Thailand yang turut hadir dalam acara milad.
Makna dari peringatan satu windu ini, menurut Prabu Diaz, mencerminkan visi, misi, dan komitmen yang kuat untuk melestarikan adat, tradisi, budaya, dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.
“Selama delapan tahun berdiri sejak 2 Oktober 2016, momen paling berkesan adalah saat kami menyambut artefak rambut Rasulullah dari Turki yang singgah di Cirebon. Itu merupakan kehormatan yang luar biasa bagi kami,” kenang Prabu Diaz. (Roni)

