Ragam

PBNU di Penghujung 2025

 

Oleh: Drs. KH. Mufid Rahmat, MM (Aktifis NU)

SEMARANG || Koranprogresif.id – Desiran pelan yang semula menerpa pengurus besar Nahdlatul ulama ( PBNU), kini berubah menjadi angin kencang. Ada juga yang menyebutnya menjadi turbulensi. Ibarat pesawat terbang, kondisi seperti itu dibutuhkan ketenangan penumpang, ketenangan, kemahiran dan profesionalisme yang handal bagi pilot. Tidak diperkenankan penumpang panik lalu teriak dan menyalahkan pilot, apalagi ikut campur mengarahkan; demikian halnya yang terjadi di PBNU di penghujung tahun2025.

PBNU itu besar, para fungsionarisnya; pengurusnya terdiri dari orang orang besar, memiliki kualifikasi akademik yang hebat, memiliki pemahaman dan pengalaman yang tidak perlu diragukan tentang qonun asasi, khoiro mabadi’ ummah, anggaran dasar/anggaran rumah tangga, perkum ( perkumpulan organisasi) dan peraturan PBNU.

Melihat kondisi PBNU di ujung tahun 2025 seperti tersebut, sebaiknya orang di luar PBNU bersikap diam, maksimal prihatin disertai berdoa. Dalam konteks tertentu sikap diam itu bijak. Mengapa demikian?. Yang mengetahui substansi persoalan; akar masailnya mereka yang ada didalam pusaran konflik, terutama yang terlibat langsung dari akar masalah tersebut. Yang kita dengar tentang isu tambang, uang dan dugaan zionis itu hanya serpihan; potongan. Kita bukan maqom Sunan Kalijaga yang mampu merakit serpihan/potongan kayu (tatal) menjadi tiang besar (Soko). Sangat berbahaya jika hanya bermodal serpihan informasi dan narasi ; apalagi minim jumlahnya lalu kita membangun narasi, apalagi konklusi. Sangat tidak elok; berbahaya.

Bukankah agama memerintahkan supaya ikut cawe-cawe ketika melihat kemungkaran? Betul. Tapi harus kontekstual; muqtadlol hal. Yang terjadi di PBNU pure masalah organisasi, dinamika organisasi dan penyelesaiannya melalui mekanisme organisasi. Instrumen yang tersedia adalah instrumen konstitusi organisasi dan tradisi yang berlaku.

Bagaimana tentang pencopotan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf oleh Rois ‘Amm, KH Miftakhul Akhyar? Apakah sesuai dengan konstitusi organisasi? Kita harus percaya, mereka adalah orang-orang yang mengetahui konstitusi organisasi. Pastinya ada perdebatan tentang pasal pasal AD/ART dan perkum yang dijadikan dasar/rujukannya. Tentu mereka tahu arah dan alternatif serta pintu keluarnya dari perdebatan tersebut : menempuh normalisasi relasi, alias islah, majlis tahkim, PTUN atau lainnya.

Prihatin dan berdo’a juga baik. Prihatin, karena kita punya keinginan, punya rasa tapi tidak punya kapasitas, tidak punya kewenangan konstitusional. Berdoa, karena pada do’a narasi yang dibangun selalu positif konstruktif. Jauh dari suudzon, kebencian, keperpihakan, sebaliknya haqul yaqin Allah Maha Mengetahui apa saja yang terjadi. Berdoa adalah tindakan yang baik karena tidak berdampak negatif.

*Tidak hanya kali ini*

Dinamika atau konflik internal PBNU dalam sejarahnya tidak hanya kali ini. Sejak awal berdirinya sampai menjelang muktamar di Lampung (2020) terjadi hal serupa. Alhamdulillah, meski ada dampak; mafsadat dinamika atau konflik selalu berakhir heppy ending. Bola dunia NU tidak retak, tambang; (tali) yang melingkari bola dunia tidak putus dan sembilan bintang tetap bersinar.

Setiap konflik pasti berakibat pembelahan dan setiap terjadi pembelahan dibutuhkankan keseimbangan, ketenangan, kedewasaan, obyektivitas, proporsionalitas, fokus dan kehati hatian agar kita tidak ikut terbelah atau menjadi bagian dari belahan. Tanpa hal hal seperti itu dinamika, konflik akan bereskalasi, destruktif dan banyak pihak pihak yang terseret.

Orang/pihak yang berkonflik dalam organisasi, dipastikan akan menarik instrumen hirarki untuk memperkuat legitimasi nya. Ada penggalangan dukungan institusi dan pribadi, yang bentuknya variatif. Dalam konteks PBNU, mereka membutuhkan dukungan dari PWNU, PCNU, Banom, lembaga, pondok pesantren, kiai dengan segala katagorinya.

Semakin banyak yang terseret dalam pusaran konflik, eskalasinya semakin melebar, terjadi migrasi konflik yang dengan sendirinya tensinya semakin tinggi dan variabelnya menjadi bertambah banyak, yang pada akhirnya pintu solusi semakin sempit.

Dengan cara kita berdiam, prihatin dan berdo’a, eskalasi konflik bisa dihindari, minimal diminimalisir. Semakin sepi suporter, konflik menjadi senyap dan dingin. Ibarat sebuah turnamen, permainan tanpa penonton dirasa kurang menarik, karena tidak ada tepuk tangan dan hore.

Orang/pihak yang berkonflik pada saatnya akan lelah, apalagi tidak ada/banyak pendukung. Orang yang emosional pada saatnya akan rasional, apalagi jika mereka tidak memiliki nafas panjang. Ketika itulah mereka akan mencari titik temu, tentunya dengan desain yang menguntungkan, minimal win win solution.

Turbulensi, dinamika atau konflik internal PBNU di penghujung tahun 2025, menurut subyektifitas saya, bobotnya masih tidak berat. Pihak pihak yang berkonflik masih berbeda dengan konflik serupa, baik bobot orang yang berkonflik maupun pendukungnya.

Alhamdulillah dari serentetan sejarah konflik internal PBNU semuanya selesai dengan baik. Dari pengalaman ini akhirnya muncul ungkapan :”dari gegeran menjadi ger geran.” Allah memberikan ujian kepada NU, tapi juga memberi kemampuan kepada NU. Mungkin, karena NU lahir dari rahim para ulama, dari jalur bumi dan jalur langit, NU semakin lama semakin besar dalam konteks basis massa dan semakin subur dalam konteks sumber daya manusia, meski beberapa kali diberi cobaan konflik internal. Terbukti terlalu berat menggeser bola dunia NU dari porosnya. ***

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock