Opini

Pentingnya Literasi Keuangan bagi Ibu Rumah Tangga Menuju Keuangan Keluarga yang Sehat

Oleh: Muhammad Khafid *), Nurjannah Rahayu K, Catur Prabowo (Universitas Negeri Semarang)

Semarang – koranprogresif.co.id – Literasi keuangan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap orang agar terhindar dari masalah keuangan. Pemahaman tentang literasi pengelolaan keuangan rumah tangga pada khususnya maupun literasi keuangan pada umumnya bagi ibu rumah tangga sebagai pengelola keuangan rumah tangga amat penting untuk dimiliki. Pemahaman tentang pengelolaan keuangan yang baik menjadikan ibu rumah tangga dapat melakukan perencanaan, pembelanjaan, sekaligus evaluasi keuangan rumah tangga secara sistematik dan terstruktur. Pemahaman tentang pengelolaan keuangan yang baik juga akan menjadikan ibu rumah tangga bijak dalam membelanjakan keuangan. Ibu rumah tangga dapat membedakan kebutuhan (need) dan keinginan (want).

Di samping itu, literasi keuangan yang baik dapat memandu melakukan perencanaan keuangan secara lebih matang. Dengan demikian, harapannya para pengelola keuangan rumah tangga pada khususnya dan masyarakat pada umumnya memiliki literasi keuangan rumah tangga yang baik sehingga tercipta keluarga yang sejahtera dengan struktur keuangan yang sehat. Pentingnya literasi pengelolaan keuangan bagi ibu-ibu pengelola keuangan rumah tangga pada era super konsumtif ini semakin terasa amat diperlukan. Hal ini disebabkan karena persoalan keuangan rumah tangga merupakan masalah inti kehidupan manusia pada keluarga di zaman modern. Meskipun uang bukan segalanya namun uang diperlukan dalam segala hal. Tanpa keuangan yang cukup rasanya semua hal bisa tidak terlaksana atau tercapai.

Pengelolaan keuangan rumah tangga yang dilakukan secara tertib dan teratur menjadikan sebuah rumah tangga dapat menjaga aliran uang (cash flow) masuk dan keluar dalam lalu lintas pembayaran kebutuhan keluarga. Dengan cara itu, keluarga dapat menjaga kesehatan keuangan keluarga yang kemudian ikut menambah kesejahteraan hidup sebuah rumah tangga.

Namun demikian, fakta yang terjadi di masyarakat masih belum sesuai dengan harapan. Masih banyak ditemukan kasus di masyarakat pada umumnya maupun ibu ibu rumah tangga sebagai pengelola rumah tangga pada khususnya yang belum memahami literasi pengelolaan keuangan.

Dampaknya, kehidupan mereka cenderung tidak seimbang antara penerimaan dan pengeluaran. Struktur pengeluaran yang jauh lebih besar akan berdampak pada munculnya hutang di keluarga tersebut. Jumlah hutang menjadi lebih besar, sehingga beban permanen untuk melunasi hutang dan bunga yang dibebankan dapat memberatkan rumah tangga tersebut. Seringkali ditemukan sebuah keluarga memiliki pola konsumsi yang amat tinggi. Mereka membeli kebutuhan yang semestinya belum menjadi kebutuhannya, atau tidak mengukur sesuai dengan pendapatannya.

Pola konsumtif yang tidak tepat ini yang menyebabkan struktur keuangan rumah tangga menjadi tidak sehat. Hal ini merupakan masalah faktual yang seringkali dialami warga masyarakat. Ketika diidentifikasi, masalah tersebut dapat terjadi karena: Pertama, tingkat pemahaman tentang ilmu ekonomi pada umumnya dan khususnya tentang konsep kebutuhan yang masih rendah. Warga masyarakat belum dapat membedakan kebutuhan dan keinginan. Warga masyarakt juga belum dapat membedakan kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan sekunder, dimana masing-masing tingkat/jenis kebutuhan memiliki prioritas pemenuhan yang berbeda-beda satu sama lain.

Kedua, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang amat pesat menyebabkan pola belanja bergeser dari belanja manual ke belanja online. Kemudahan akses belanja secara online yang tidak diimbangi dengan pemahaman konsep kebutuhan dalam ilmu ekonomi menjadikan pengendalian diri lemah, sehingga warga masyarakat cenderung berperilaku konsumtif.

Ketiga, sebagian besar ibu rumah tangga belum memililki kemampuan pengelolaan (manajemen) keuangan rumah tangga yang matang. Konsep perencanaan, pembelanjaan, dan evaluasi dalam konteks yang sangat sederhana pun belum dimiliki. Akibatnya pola pengeluaran rumah tangga tidak berdasarkan pada konsep perencanaan yang matang. Pengeluaran tidak berbasis pada kemampuan pendapatan yang dimiliki. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya untuk mengatasi permasalahan di atas.

Penyelesaian masalah tersebut diharapkan dapat meningkatkan literasi pengelolaan keuangan rumah tangga pada khususnya dan konsep kebutuhan pada umumnya. Peningkatan literasi pengelolaan keuangan rumah tangga dapat menyebabkan peningkatan kesejateraan ekonomi bagi warga masyarakat.

Solusi untuk mengatasi permasalahan di atas diuraikan sebagai berikut: Pertama, Pengelola keuangan rumah tangga harus memahami struktur aliran uang masuk dan keluar (penerimaan dan pengeluaran). Pengelola keuangan rumah tangga saat ini umumnya tidak memiliki pemahaman yang baik mengenai struktur aliran uang masuk dan keluar (penerimaan dan pengeluaran) rumah tangga. Akibatnya banyak keluarga yang memiliki struktur keuangan rumah tangga yang tidak sehat. Kedua, pengelola keuangan rumah tangga memahami konsep ekonomi pada umumnya dan konsep kebutuhan pada khususnya. Pemahaman terhadap konsep ekonomi pada umumnya dan konsep kebutuhan pada khususnya merupakan tuntutan dan harapan dari masyarakat modern.

Hal ini dapat menciptakan pengelola keuangan rumah tangga yang sadar atas tindakan ekonomik rasional untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang tidak terbatas dengan anggaran rumah tangga yang serba terbatas. Pengelola keuangan rumah tangga dapat membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Pengelola keuangan rumah tangga juga dapat membedakan
mana kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tertier.
Ketiga, pengelola keuangan rumah tangga bertindak berbasis prinsip-prinsip manajemen. Pengelola keuangan rumah tangga harus memiliki kemampuan perencanaan keuangan yang baik, melakukan tindakan pembelanjanaan dengan tertib, dan melakukan evaluasi keuangan secara berkelanjutan. Pengelolaan keuangan yang demikian akan melahirkan struktur keuangan rumah tangga yang sehat.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Show More

Berita Lainnya

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock