Sinyal Ganda Trump soal Iran, Bikin Sekutu Bingung. Diplomasi Jalan, Tapi Militer Dikerahkan..!??

Oleh: Heru Riyadi, SH, MH (Penasehat AMKI & Dosen FH. Universitas Pamulang)
JAKARTA || Koranprogresif.id – Seperti yang kita ketahui dari berbagai sumber berita bahwa, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengirimkan sinyal yang saling bertentangan terkait konflik gabungan AS-Israel dengan Iran. Di satu sisi, Trump menyatakan preferensi terhadap jalur negosiasi, namun di sisi lain ia menegaskan akan “terus menghancurkan mereka,” memicu kebingungan di kalangan sekutu mengenai arah kebijakan Washington.
*Diplomasi Ditekankan, Tapi Retorika Keras Muncul*
Trump secara terbuka menyampaikan bahwa, penyelesaian melalui negosiasi tetap menjadi opsi utama dalam meredakan konflik dengan Iran. Namun, pernyataannya yang kontradiktif menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan eskalasi lebih lanjut.
Utusan khusus AS, Steve Witkoff, menegaskan bahwa, jalur diplomasi masih menjadi prioritas pemerintah. Meski demikian, pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan langkah militer yang diambil secara bersamaan oleh Amerika Serikat.
*Sekutu Pertanyakan Strategi Washington*
Pesan yang tidak konsisten dari Gedung Putih menciptakan ketidakpastian di antara sekutu AS di kawasan Eropa, Asia, hingga Asia Barat. Sejumlah diplomat mengaku kebingungan terhadap tujuan sebenarnya dari kebijakan Washington terhadap Iran.
“Saya tidak tahu apa yang mereka coba lakukan,” ujar seorang diplomat Asia kepada Politico, menggambarkan ketidakjelasan strategi AS.
Diplomat lainnya juga menyebut bahwa, baik Gedung Putih maupun Departemen Luar Negeri belum memberikan penjelasan rinci terkait arah kebijakan militer, terutama di tengah peningkatan kehadiran pasukan AS di kawasan.
*Pengerahan Militer Picu Kekhawatiran Eskalasi*
Amerika Serikat diketahui telah mengerahkan ribuan personel tambahan, termasuk Marinir dan unit dari Divisi Lintas Udara ke-82, sebagai bentuk kesiapan menghadapi potensi konflik terbuka.
Di sisi lain, Trump mengklaim adanya upaya menuju negosiasi, termasuk penghentian sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama sepuluh hari. Ia menyebut langkah itu dilakukan “sesuai permintaan Pemerintah Iran” dan bahwa proses negosiasi “berjalan dengan sangat baik.”
Namun, klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran yang menegaskan tidak pernah mengajukan permintaan tersebut. Bahkan, sejumlah mediator yang dikutip oleh The Wall Street Journal menyebut bahwa Teheran tidak mengajukan permintaan apa pun.
Analis senior dari International Crisis Group, Ali Vaez, menilai langkah AS tidak konsisten. “Jika Trump serius tentang de-eskalasi, dia akan menunda pengerahan pasukan,” ujarnya.
*Dampak Ekonomi dan Kekhawatiran Sekutu*
Ketegangan yang meningkat di kawasan, terutama di sekitar Selat Hormuz, mulai berdampak pada stabilitas ekonomi global. Negara-negara mitra melaporkan adanya tekanan akibat gangguan distribusi energi dan perdagangan.
Sejumlah sekutu awalnya melihat peluang meredakan konflik setelah sinyal diplomatik muncul. Namun, langkah militer yang agresif justru memperburuk kepercayaan.
“Memindahkan semua aset itu ke Teluk hanya untuk memanggilnya kembali—jika kesepakatan tercapai—adalah langkah yang cukup mahal,” kata seorang diplomat Asia kepada Politico.
Sementara itu, diplomat Eropa menilai ambiguitas kebijakan ini mungkin disengaja. “Hal ini menguntungkan pemerintah karena mereka memiliki pilihan untuk mundur dan mengklaim kemenangan, atau meningkatkan eskalasi,” ujarnya.
*Jalur Negosiasi, Masih Abu-abu*
Amerika Serikat dilaporkan berupaya membuka jalur negosiasi melalui Pakistan. Di sisi lain, Kabul menyatakan bahwa Iran memiliki hak untuk membela diri di tengah meningkatnya tekanan militer.
Ketegangan tetap tinggi, terutama dengan potensi penggunaan pengaruh Iran atas Selat Hormuz sebagai respons terhadap tekanan dari AS dan Israel. Hingga kini, arah kebijakan Washington masih belum jelas, meninggalkan ketidakpastian bagi sekutu maupun stabilitas kawasan secara keseluruhan. ***
Sumber: Kantor Berita Al Mayadeen











