Ragam

Waktunya Introspeksi dan Memperbaiki Diri

 

Oleh: Drs. H. Mufid Rahmad, MM

BOYOLALI || Koranprogresif.id – Ada mafsadat ada hikmah. Mafsadat dijadikan ihtibar dan hikmah sebagai anugerah bagi yang mau berfikir (positif).

Aksi demonstrasi (konstruktif) adalah bentuk ekspresi demokrasi, sebaliknya aksi provokasi dan anarki (violence) adalah mencederai demokrasi . Ada kalanya, pasca melampiaskan emosi destruktif timbul penyesalan dan pertobatan, ada kalanya pula justru merasa bangga. Kualitas moral – spritual akan tampil sebagai pembedanya.

Boleh berdalil hukum kausalitas, boleh beranalog ada api ada sekam, tapi harus dalam kadar proposionalitas dan obyektiftifitas. Disini aspek kasta, kualifikasi pendidikan, status sosial dan spiritualitas tidak menjadi faktor penentu absolute. Tetapi, kejujuran, obyektiftifitas dan keberanian untuk idharul haq dan iqomatul haq menjadi faktor dominan.

Terlepas dari sikap pro – kontra terhadap aksi massa yang terjadi akhir-akhir ini, ada ruang untuk menjadikan momentum muhasabah, introspeksi, berbenah memperbaiki diri bagi semuanya.

Masih terlihat, sejumlah (oknum?) unsur birokrasi melayani publik setengah hati, nongkrong di warung pada jam kerja pagi, di toko pada jam kerja dan ketika ke kantor jam 12.00, dikatakan jam istirahat. Padahal di kantor terpampang semboyan: “Pelayan prima”.

Ada presensi jam kedatangan dan kepulangan dengan format digital, masih saja ada yang mengakali. Ada gaji tetap, tunjangan, insentif, sertifikasi, bonus dan pendapatan lainnya, tetapi masih saja ada yang pungli dan korupsi. Padahal di kantor terpampang semboyan: *”Kawasan bebas pungli dan korupsi”*.

Pejabat dan birokrat masih ada yang arogan, elitis dan hedonis verbal. Kata dan perbuatan tidak seirama. Poster dan beleho yang terpampang penuh senyum dan keramahan, menyapa dengan hati dan merangkul dengan kesetaraan, tetapi memukul dan menginjak dalam pembuatan regulasi dan permisif dalam merespon aspirasi dan kritik.
Padahal dalam poster dan beleho mereka tertulis *”Sedulurku kita saudara”*.

Aparat dan penegak hukum masih ada yang jauh dari sikap humanis, ada pendekatan yang tidak standar dan prilaku indisipliner. Case ketidakadilan, jual beli hukum, markus (makelar kasus) dan tindakan koruptif dan represif masih dekat di mata ditelinga kita.

Kaum terpelajar dan Pakar masih ada yang tidak bijak, provokatif dan egois. Mudah menyulut dan tersulut. Mudah emosional dan sensasional. Akibatnya, publik bercermin pada cermin yang pecah.

Rakyat juga ada yang Lengah dan pasrah. Dengan dalil terpaksa terlibat penyuapan, dengan dalih kemanusiaan menerima bisaroh dalam proses pilpres, Pilgub, pilbup dan pileg. Tidak memilih yang memiliki kapasitas, kapabilitas, loyalitas, jujur, pamanah dan tidak hipokrit. Malah ada semboyan, :*”Wani piro ?*.

Lubang dan kekurangan seperti tersebut kita restorasi mumpung ada momentum yang memprihatinkan melalui aksi yang terjadi sekarang ini. Tidak perlu menggugah argumentasi, narasi dan diksi membela diri. Kerusakan telah terpampang di depan mata, amuk massa telah menggerakkan kita untuk introspeksi dan memperbaiki diri. Tidak ada kata terlambat, karena semuanya sudah terjadi.

Dalam perspektif Islam, penyesalan dan pengakuan salah merupakan bentuk sikap terpuji, memohon ampun dan bertaubat sangat dianjurkan dan berniat disertai bertekad untuk memperbaiki diri dalam berbagai aspek, dimensi dan posisi termasuk golongan orang yang beruntung.

Kita bangun Indonesia dengan santun. Kita didik generasi penerus dengan akhlakul Karimah, kita jadikan jabatan dan kehormatan sebagai amanah yang wajib ditepati, kita jadikan ilmu pengetahuan dan kepakaran kita sebagai cahaya untuk menuju Indonesia yang dicita-citakan.

Kita cinta Indonesia
Kita cinta perdamaian
Kita cinta semua ucapan dan tindakan selaras dan sejalan

Allahuma sehat
Allahuma damai

– Warga Demak Boyolali
– Wakil Ketua PWNU Jateng

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock