Ragam

Memberi Waktu bagi Kepemimpinan, Menjaga Kewarasan Demokrasi

 

Oleh: Sayed Junaidi Rizaldi

JAKARTA || Koranprogresif.id – Pernyataan Sufmi Dasco Ahmad yang disampaikan pada acara peluncuran buku Syahganda Nainggolan di ITB Bandung (5/03/26), mempertanyakan kembali narasi publik tentang “berapa lama waktu yang harus diberikan kepada presiden untuk menunaikan janji-janji politiknya”, sesungguhnya menohok cara berpikir kita dalam melihat kepemimpinan nasional.

Dalam konteks pemerintahan Prabowo Subianto, pertanyaan tersebut tidak sekadar soal waktu, tetapi soal kedewasaan demokrasi.

Terlalu sering publik terjebak dalam ekspektasi instan. Seolah-olah perubahan negara sebesar Indonesia dapat diwujudkan hanya dalam hitungan bulan. Padahal realitas politik, ekonomi dan birokrasi jauh lebih kompleks. Reformasi kebijakan membutuhkan konsolidasi kekuatan politik, stabilitas sosial, dan dukungan publik yang konsisten.

Di titik inilah pernyataan Dasco menjadi relevan. Ia mengajak masyarakat membalik pertanyaan mendasar: bukan semata berapa lama presiden bekerja, tetapi apakah masyarakat sipil mampu memperkuat persatuan nasional agar agenda pemerintahan berjalan tanpa gangguan polarisasi yang berkepanjangan.

Indonesia memiliki pengalaman panjang bahwa konflik politik yang terus dipelihara hanya akan menguras energi bangsa. Ketika elite dan masyarakat sibuk mempertahankan garis perpecahan pasca-pemilu, agenda pembangunan justru tertinggal. Negara akhirnya bergerak lambat, bukan karena kekurangan visi, tetapi karena terlalu banyak energi tersedot dalam pertarungan politik tanpa akhir.

Karena itu, memberi ruang bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk bekerja bukanlah bentuk pembiaran terhadap kekuasaan. Justru itulah esensi demokrasi yang sehat: kritik tetap ada, pengawasan tetap berjalan, tetapi stabilitas nasional tetap dijaga.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh presiden yang memimpin, tetapi juga oleh bangsa yang memberi kesempatan bagi kepemimpinan itu untuk bekerja. Tanpa kedewasaan politik kolektif, janji-janji perubahan akan selalu terjebak dalam siklus skeptisisme yang tak pernah selesai.

Bangsa ini tidak kekurangan pemimpin dengan agenda besar. Yang sering kurang justru kesabaran nasional untuk memberi waktu agar agenda yang terkait dengan rakyat benar-benar diwujudkan. ***

*Ketua Umum Gerakan Indonesia Gemilang

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock