Blokade, Gencatan Senjata dan Ancaman Udara: Membaca Peta Perang yang Tak Terlihat

Mayor Jenderal TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019)
JAKARTA || Koranprogresif.id – Dari pinggiran Danau Situ Padengkolan yang sunyi ini, dengan air yang tenang namun menyimpan arus dalam, saya merenungkan kembali peta perang Timur Tengah yang sebenarnya. Bukan peta yang digambar media dengan garis-garis ledakan dan korban jiwa. Tapi peta yang tergambar dari blokade yang mencekik, gencatan senjata yang menipu, dan ancaman udara yang diam-diam merambat ke ruang angkasa kita sendiri.
Tiga pekan terakhir, dunia disuguhi drama yang membuat publik salah fokus. Mereka terpaku pada apakah bom jatuh di Beirut atau Gaza. Padahal, gelanggang pertarungan yang sesungguhnya yang akan menentukan bentuk dunia sepuluh tahun ke depan sedang berlangsung di Selat Hormuz, di meja perundingan Islamabad, dan di koridor diplomatik antara Washington dan Beijing. Dan yang paling mengkhawatirkan: sebagian dari pertarungan itu kini menyentuh ruang udara Indonesia.
Saya tidak menulis untuk menakut-nakuti. Saya menulis karena sebagai seorang yang pernah duduk di Dewan Keamanan PBB, saya tahu persis bahwa negara yang tidak mampu membaca peta perang akan menjadi bagian dari peta itu sendiri sebagai korban, bukan pemain.
*Blokade: Senjata Paling Halus yang Membunuh Tanpa Suara*
Mari kita mulai dari Selat Hormuz. Ketika Iran mengumumkan pembukaan blokade, dunia bersorak. Harga minyak langsung terjun bebas lebih dari 10 persen. Presiden Trump menyampaikan terima kasih. Publik membaca berita itu dan berpikir: “Ah, perang mulai mereda.”
Saudara-saudara, itu adalah kesalahan persepsi yang sangat berbahaya.
Saya belajar satu hal selama menjadi penasihat militer di PBB: blokade adalah senjata yang paling mematikan karena ia tidak bersuara. Tidak ada ledakan, tidak ada teriakan, tidak ada gambar rumah sakit yang hancur. Tapi blokade perlahan mencekik nafas sebuah negara, ekonominya, logistiknya, rakyatnya.
Saya hormati Presiden Trump atas ucapan terima kasihnya. Tapi saya sampaikan: jangan tertipu Trump. Di balik ucapan terima kasih itu, AS masih membelenggu Iran dengan blokade penuh. Mereka mengumumkan pembukaan Selat Hormuz untuk kapal asing, tetapi kapal Iran sendiri masih terbelenggu. Itu bukan diplomasi. *Itu taktik ‘tersenyum sambil mencekik’.*
Inilah yang dalam bahasa militer PBB saya sebut *asymmetric strangulation* (pencekikan asimetris). Anda tidak perlu menginvasi. Anda tidak perlu menjatuhkan bom. Cukup dengan mencegah musuh berdagang, menjual minyak, dan menerima suku cadang militer. Maka negara itu akan mati sendirian.
Iran merespons dengan ancaman: jika blokade AS tidak dicabut sepenuhnya, mereka akan menutup kembali Selat Hormuz. Dan di sinilah titik kritisnya. Jika itu terjadi, dunia tidak hanya akan menyaksikan perang di Timur Tengah. Dunia akan menyaksikan krisis energi global. Dan Indonesia, dengan konsumsi BBM yang terus membengkak, akan merasakan getarannya langsung di pompa bensin terdekat.
Maka pertanyaan untuk kita: *apakah kita sudah memiliki skenario darurat energi jika blokade berkepanjangan* Saya khawatir jawabannya belum. Dan sebagai jenderal yang pernah bersumpah demi Tuhan, saya katakan: *ketidaksiapan adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat.*
*Gencatan Senjata Lebanon: Sandiwara yang Dibalut Sutra Diplomasi*
Dari Hormuz, kita bergeser ke Lebanon. Israel dan Lebanon, dengan mediasi AS, menyepakati gencatan senjata 10 hari. Media menyebutnya “terobosan damai”. Saya menyebutnya dengan sangat santun namun jujur: *sandiwara yang dibalut sutra diplomasi.*
Saya pernah bertugas di Unifil Lebanon yang merupakan zona konflik PBB. Saya tahu persis bagaimana gencatan senjata seperti ini bekerja. Mari saya bedah dengan jujur, tanpa tedeng aling-aling:
*Pertama*, gencatan senjata tidak disertai penarikan pasukan. Perdana Menteri Israel secara terbuka menyatakan bahwa tentaranya akan tetap tinggal di Lebanon selatan. Coba bayangkan: ada tentara asing di tanahmu, tapi kau diminta berdamai. Itu bukan damai. *Itu surrender with a smile* ( menyerah sambil tersenyum ) agar tidak terlihat kalah.
*Kedua*, Hezbollah menyatakan hak perlawanannya tetap utuh selama pasukan Israel belum mundur sepenuhnya. Artinya, tidak ada pihak yang benar-benar meletakkan senjata. Mereka hanya sedang mengatur napas, mengisi ulang amunisi, memperbaiki posisi, menunggu saat yang tepat untuk memukul lagi. Ini bukan perdamaian. Ini time-out di tengah pertandingan tinju.
*Ketiga,* Presiden Trump memang memperingatkan Israel untuk berhenti membom. Tapi dengan hormat, saya bertanya: di mana sanksinya? Di mana konsekuensinya? Sebab dalam pengalaman saya di PBB, peringatan lisan tanpa sanksi konkret hanyalah angin di padang pasir, berbunyi keras, tapi tak pernah menggoyahkan apa pun.
Lalu apa yang bisa kita petik dari sandiwara ini? Satu: jangan pernah menarik dukungan diplomatik untuk solusi dua negara hanya karena ada gencatan senjata sementara. Dua: Indonesia harus tetap menyuarakan keadilan bagi Palestina dan Lebanon, karena diam di tengah sandiwara berarti menjadi bagian dari kepalsuan itu. Dan tiga: jadilah negara yang membaca antara baris, bukan sekadar membaca judul berita.
*Ruang Udara Kita: Arena Baru Perang Dingin yang Tak Boleh Kita Sewakan*
Saudara-saudara, dari Timur Tengah, sekarang saya ajak Anda pulang ke rumah kita sendiri. Ke ruang udara Indonesia. Karena di sinilah peta perang itu mulai menyentuh kulit kita.
China baru saja mengeluarkan peringatan diplomatik yang keras. Bukan ancaman perang, mereka terlalu cerdas untuk itu. Tapi peringatan bahwa pemberian akses ruang udara secara luas (blanket overflight access) kepada pesawat militer AS dapat merusak hubungan bilateral dan stabilitas kawasan. Dalam bahasa diplomatik, ini adalah *tembakan peringatan yang dibungkus beludru.*
Dengan segala hormat kepada para petinggi di Jakarta, saya bertanya: *apakah perjanjian ini pernah disimulasikan skenario terburuknya*? Atau kita hanya berani membaca halaman manfaat, sementara halaman risiko kita sembunyikan di lemari besi?
Saya tidak anti-AS. Saya tidak pro-China. Saya pro-Indonesia. Dan seorang pro-Indonesia harus berani bertanya keras kepada dirinya sendiri:
Pertama, Berapa persen risiko kita ditarik ke dalam konflik dua adidaya?
Kedua, Apa yang akan China lakukan jika pesawat mata-mata AS yang lewat di atas Natuna mereka anggap sebagai provokasi?
Ketiga, Apakah rakyat Indonesia yang membayar pajak diberi tahu secara transparan tentang detail perjanjian ini?
Sebab perang masa depan tidak selalu dimulai dengan tank di perbatasan Kalimantan. Perang masa depan bisa dimulai dengan overflight clearance yang salah peruntukan. Pesawat AS yang lewat bisa dimaknai China sebagai ancaman. Dan ketika China bereaksi, Indonesia yang berada di tengah akan terkena imbasnya, entah ekonomi, politik, atau tekanan militer non-konvensional.
Saya mengingatkan dengan penuh kesadaran: kedaulatan bukan hanya tentang siapa yang mengibarkan bendera di pulau terluar. Kedaulatan juga tentang siapa yang diizinkan melintas di angkasa kita, dan sejauh mana kita bisa berkata “*TIDAK”* ketika kepentingan nasional terancam. Jika kita sudah kehilangan keberanian untuk berkata tidak, maka sebenarnya kita sudah kehilangan kedaulatan sejak lama, hanya belum sadar.
*Menyatu: Dari Selat Hormuz ke Ruang Udara Natuna*
Dari Danau Situ Padengkolan yang sunyi ini, setelah merenungkan tiga gelanggang pertarungan: blokade Hormuz yang mencekik, gencatan senjata Lebanon yang menipu, dan ancaman udara China yang mengintai, saya menarik satu kesimpulan yang utuh, bulat, dan tidak bisa dipotong-potong:
*Kita sedang menyaksikan lahirnya tatanan dunia baru yang tidak ditulis dengan tinta, tetapi dengan blokade, akses udara, dan peringatan diplomatik.*
Di tatanan baru ini, perang tidak lagi dimenangkan oleh siapa yang paling banyak menjatuhkan bom. Perang dimenangkan oleh siapa yang paling mampu:
Pertama, Mencekik musuh secara ekonomi tanpa harus menembak, itu yang AS lakukan ke Iran.
Kedua, Membungkus gencatan senjata sebagai perdamaian sambil tetap mempertahankan posisi militer, itu yang Israel lakukan di Lebanon.
Ketiga, Memberi peringatan tanpa mengucapkan kata ancaman, itu yang China lakukan kepada kita.
*Dan Indonesia? Di mana posisi kita di tatanan baru ini?*
Saya katakan dengan penuh tanggung jawab sebagai mantan penasihat militer PBB: *Indonesia sedang berada di persimpangan paling kritis sejak reformasi*. Kita tidak bisa lagi bersembunyi di balik frasa “bebas aktif” tanpa menerjemahkannya ke dalam tindakan konkret. Bebas aktif bukan berarti tidak memihak. Bebas aktif *berarti memihak kepada kepentingan nasional sendiri dengan cara yang cerdas, tidak emosional, dan penuh perhitungan*.
Kepada para pengambil kebijakan di Jakarta, dari pinggiran danau yang tenang ini, saya titipkan tiga pesan sederhana namun berat:
*Pertama*, jangan terbuai oleh gencatan senjata sementara di Timur Tengah. Tetaplah menyuarakan keadilan, karena diam adalah bentuk persetujuan terhadap ketidakadilan. Dan seorang jenderal tidak pernah diam melihat ketidakadilan.
*Kedua,* hitung ulang secara dingin biaya dan risiko dari setiap akses yang kita berikan kepada kekuatan asing, baik AS maupun China. *Kesantunan seorang jenderal bukan berarti tidak berani bicara. Justru karena santun, saya berkata: jangan pernah menjual ruang udara kita dengan harga yang tidak pernah disebutkan di muka umum.*
*Ketiga,* libatkan publik dan DPR secara transparan dalam setiap perjanjian pertahanan strategis. Karena dalam negara demokrasi, kedaulatan tidak hanya dijaga oleh tentara, tetapi juga oleh rakyat yang tahu dan mengawasi. Rakyat yang dibiarkan buta bukanlah rakyat yang berdaulat.
Penutup:
Saudara-saudara, dua ekor gajah sedang bertarung, satu di Timur Tengah, satu lagi di Pasifik. Indonesia tidak bisa menjadi rumput yang pasrah terinjak. Rumput akan selalu menjadi korban ketika gajah bertarung.
Kita harus menjadi pohon beringin, berakar kuat ke bumi Pancasila, bercabang luas ke seluruh penjuru negeri, dan mampu berdiri tegak tanpa harus memilih untuk tumbang ke kiri atau ke kanan. Pohon beringin tidak lari dari badai. Pohon beringin menghadapinya dengan akar yang makin dalam.
Dari Situ Padengkolan yang tenang ini, dengan air yang mengajarkan saya tentang kedalaman dan kesabaran, dengan angin yang mengingatkan bahwa perubahan selalu datang, saya sampaikan opini ini sebagai sumbangan pikiran untuk negeri yang tidak pernah berhenti saya cintai.
Semoga Alloh SWT melindungi Indonesia. Semoga para pemimpin kita diberikan hikmat untuk membaca peta perang yang sebenarnya, bukan yang digambar media, tetapi yang digambar oleh kekuatan di balik layar.
*Danau Situ Padengkolan,18 April 2026*








