Opini

Muharram 1448 H: Antara Harapan Perdamaian dan Realitas Geopolitik Timur Tengah

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019)

 

JAKARTA || Koranprogresif.id – Memasuki 1 Muharram 1448 Hijriah, umat Islam di berbagai belahan dunia menyambut tahun baru dengan doa dan harapan akan kehidupan yang lebih damai. Pada saat yang hampir bersamaan, dunia juga menerima kabar yang dianggap menggembirakan: meredanya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat setelah serangkaian eskalasi yang sempat menimbulkan kekhawatiran akan pecahnya konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

 

Sebagian kalangan menyambut perkembangan tersebut sebagai awal dari era baru perdamaian. Namun sejarah mengajarkan bahwa dalam geopolitik, kabar baik sering kali perlu dibaca dengan kepala dingin.

 

Perdamaian adalah harapan yang harus dijaga. Tetapi kewaspadaan adalah keharusan yang tidak boleh ditinggalkan.

 

Sebab dalam hubungan internasional, berakhirnya konfrontasi tidak selalu berarti berakhirnya persaingan. Tidak sedikit konflik yang tampak selesai di permukaan, tetapi sesungguhnya hanya memasuki fase baru dengan bentuk yang berbeda.

 

Karena itu, pertanyaan yang patut diajukan bukanlah apakah dunia menginginkan perdamaian. Jawabannya sudah jelas: semua bangsa yang waras menginginkannya.

 

Pertanyaan yang lebih penting adalah: *apakah faktor-faktor yang selama ini melahirkan konflik di Timur Tengah benar-benar telah berubah?*

 

Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah kawasan tersebut sedang menuju perdamaian yang berkelanjutan atau sekadar menikmati jeda strategis sebelum memasuki babak berikutnya.

 

*Timur Tengah: Konflik yang Tidak Pernah Berdiri Sendiri*

 

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi dalam membaca Timur Tengah adalah melihat setiap konflik sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.

 

Padahal konflik di kawasan tersebut selalu merupakan bagian dari rangkaian sejarah yang panjang.

 

Revolusi Iran tahun 1979 mengubah peta politik kawasan secara fundamental. Perang Iran-Irak selama delapan tahun meninggalkan trauma strategis yang mendalam. Invasi Irak tahun 2003 menciptakan ketidakstabilan baru yang dampaknya masih terasa hingga sekarang. Gelombang Arab Spring melahirkan harapan perubahan, tetapi juga membuka ruang bagi konflik berkepanjangan di berbagai negara.

 

Di atas semua itu, terdapat persaingan kepentingan yang melibatkan kekuatan regional maupun global: Iran, Israel, Arab Saudi, Turki, Amerika Serikat, Rusia, dan berbagai aktor non-negara yang memiliki agenda masing-masing.

 

Dengan demikian, konflik Timur Tengah tidak pernah hanya soal perbatasan, agama, atau ideologi. Konflik tersebut adalah pertemuan antara sejarah, identitas, keamanan, energi, ekonomi, dan perebutan pengaruh strategis.

 

Karena kompleksitas itulah, berbagai upaya perdamaian sering menghasilkan ketenangan sementara, tetapi gagal menciptakan stabilitas jangka panjang.

 

*Mengapa Perdamaian Selalu Rapuh?*

 

Sebagai seorang prajurit yang pernah terlibat dalam berbagai forum internasional, saya belajar bahwa perdamaian tidak runtuh karena kurangnya perjanjian. Perdamaian runtuh karena tidak adanya kepercayaan.

 

Timur Tengah selama puluhan tahun hidup dalam lingkungan strategis yang dipenuhi kecurigaan.

 

Iran mencurigai niat negara-negara Barat.

 

Israel memandang program nuklir dan rudal Iran sebagai ancaman eksistensial.

 

Negara-negara Arab Teluk melihat peningkatan pengaruh Iran sebagai tantangan terhadap keseimbangan kawasan.

 

Sementara kekuatan-kekuatan besar dunia terus berusaha menjaga kepentingannya masing-masing.

 

Dalam situasi seperti itu, setiap pihak merasa sedang bertahan hidup. Ketika semua pihak berpikir demikian secara bersamaan, ruang kompromi menjadi semakin sempit.

 

Akibatnya, gencatan senjata sering lebih mudah dicapai dibandingkan rekonsiliasi yang sesungguhnya.

 

Senjata mungkin berhenti berbicara, tetapi rasa saling curiga tetap hidup.

 

Dan dalam sejarah hubungan internasional, kecurigaan yang tidak terselesaikan sering kali menjadi benih konflik berikutnya.

 

*Muharram dan Makna Strategis Hijrah*

 

Di tengah realitas tersebut, Muharram menghadirkan pelajaran yang menarik untuk direnungkan.

 

Bagi umat Islam, hijrah bukan sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah keputusan strategis yang mengubah arah sejarah.

 

Rasulullah SAW tidak membangun peradaban melalui kemenangan militer semata. Beliau membangun fondasi sosial, politik, dan moral yang memungkinkan masyarakat hidup dalam tatanan yang lebih stabil dan berkeadilan.

 

Di situlah relevansi hijrah dengan kondisi dunia saat ini.

 

Perdamaian tidak cukup dibangun melalui penghentian konflik. Perdamaian memerlukan keberanian untuk mengubah cara pandang yang selama ini melahirkan konflik.

 

Jika perang lahir dari ketakutan dan kecurigaan, maka perdamaian lahir dari kemampuan membangun kepercayaan dan kepentingan bersama.

 

Hijrah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian meninggalkan pola lama yang terbukti tidak membawa kemaslahatan.

 

Pertanyaannya adalah: apakah para pemimpin kawasan Timur Tengah memiliki keberanian politik untuk melakukan hijrah strategis semacam itu?

 

*Dunia Islam di Persimpangan Sejarah*

 

Muharram 1448 Hijriah hadir pada saat dunia Islam menghadapi tantangan yang tidak ringan.

 

Di satu sisi, umat Islam memiliki potensi demografi, sumber daya alam, dan posisi geostrategis yang luar biasa. Namun di sisi lain, berbagai konflik internal masih menguras energi yang seharusnya dapat digunakan untuk pembangunan dan kemajuan.

 

Terlalu lama dunia Islam menjadi pasar bagi industri persenjataan global, sekaligus arena persaingan berbagai kekuatan besar.

 

Padahal sejarah membuktikan bahwa peradaban besar tidak dibangun melalui konflik yang berkepanjangan. Peradaban dibangun melalui stabilitas, ilmu pengetahuan, inovasi, perdagangan, dan tata kelola yang baik.

 

Karena itu, kebutuhan terbesar dunia Islam hari ini bukanlah kemenangan satu negara atas negara lain, melainkan terciptanya lingkungan strategis yang memungkinkan generasi muda tumbuh dalam suasana damai, produktif, dan penuh harapan.

 

*Indonesia dan Diplomasi Akal Sehat*

 

Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki posisi yang unik.

 

Sebagai negara Muslim terbesar di dunia yang relatif berhasil menjaga persatuan dalam keberagaman, Indonesia memiliki modal moral untuk terus mendorong pendekatan dialogis dalam penyelesaian konflik internasional.

 

Politik luar negeri bebas dan aktif yang diwariskan para pendiri bangsa tetap relevan dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.

 

Indonesia tidak perlu menjadi bagian dari rivalitas geopolitik siapa pun.

 

Yang dibutuhkan adalah konsistensi dalam memperjuangkan prinsip-prinsip yang telah lama menjadi fondasi diplomasi Indonesia: kemerdekaan, keadilan, penghormatan terhadap hukum internasional, dan perdamaian dunia.

 

Di tengah meningkatnya polarisasi global, suara yang mengedepankan akal sehat justru semakin dibutuhkan.

 

*Antara Harapan dan Realitas*

 

Pada akhirnya, harapan dan realitas tidak boleh dipertentangkan.

 

Harapan tanpa pemahaman terhadap realitas hanya akan melahirkan ilusi.

 

Sebaliknya, realitas tanpa harapan hanya akan melahirkan pesimisme.

 

Karena itu, perkembangan positif di Timur Tengah patut diapresiasi sebagai peluang. Namun peluang tersebut tidak boleh membuat dunia mengabaikan fakta bahwa akar-akar konflik masih tetap ada.

 

Sejarah menunjukkan bahwa perdamaian yang bertahan lama bukanlah hasil dari kemenangan satu pihak atas pihak lain. Perdamaian yang bertahan lama lahir ketika semua pihak menyadari bahwa biaya konflik jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang mungkin diperoleh darinya.

 

*Penutup*

 

Muharram 1448 Hijriah seharusnya tidak hanya menjadi momentum pergantian angka dalam kalender Islam. Ia harus menjadi momentum refleksi.

 

Refleksi bahwa dunia, khususnya Timur Tengah, telah terlalu lama membayar harga yang mahal akibat konflik yang tidak kunjung menemukan penyelesaian.

 

Kita tentu berharap bahwa meredanya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel menjadi awal dari proses yang lebih konstruktif. Namun harapan itu harus dibangun di atas kesadaran bahwa perdamaian bukanlah peristiwa, melainkan proses yang panjang dan sering kali melelahkan.

 

Sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa perang dapat dimulai hanya dalam hitungan hari, tetapi perdamaian membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun dan dijaga.

 

Karena itu, pesan terbesar Muharram sesungguhnya bukan sekadar tentang perpindahan. Pesan terbesar Muharram adalah tentang keberanian melakukan perubahan menuju keadaan yang lebih baik.

 

Ditengah dunia yang masih dipenuhi ketegangan dan rivalitas, bentuk hijrah yang paling dibutuhkan saat ini adalah hijrah dari logika permusuhan menuju logika kemanusiaan.

 

Sebab pada akhirnya, tidak ada kemenangan yang lebih besar daripada kemampuan manusia untuk hidup berdampingan dalam damai, bermartabat, dan saling menghormati. ***

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock