Opini

Demak Tenggelam Dua Kali: Oleh Air Laut dan Korupsi Pejabat

 

M. Rofik M.

YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Matahari baru saja terbit di atas langit Bonang, Demak, namun udara sudah berbau amis pasang air laut. Di teras rumahnya yang terendam air setinggi lutut, Pak Kusen (54) menatap hampa ke arah jalan desa yang perlahan melenyap ditelan rob. Tak jauh dari situ, sebuah plang megaproyek Kementerian PUPR berdiri miring, mencantumkan angka anggaran bernilai miliaran rupiah. Di atas kertas, proyek benteng pemecah gelombang dan normalisasi sungai itu menjanjikan pesisir yang kering. Namun di lapangan, beton-beton pancang justru retak sebelum selesai dikerjakan, seolah hanyut bersama harapan ribuan warga yang rumahnya tenggelam.

Ironi Demak tak berhenti di bibir pantai. Hanya beberapa kilometer dari genangan air rob, di sebuah sekolah dasar negeri, Bu Nunung (bukan nama sebenarnya) memandangi kwitansi bernominal ratusan ribu rupiah. Tulisan tangan di atas kertas murah itu bertuliskan “Sumbangan Sukarela Pembangunan Musholla dan Kenang-kenangan”. Sebagai buruh tani yang sawahnya habis tergerus erosi laut, uang ratusan ribu itu adalah jatah makan keluarganya selama dua minggu. Pungutan liar berkedok infak sukarela di SD dan SMP negeri se-Kabupaten Demak telah menjadi rahasia umum yang mencekik, memaksa para orang tua memilih antara anak putus sekolah atau perut lapar.

Mengapa tragedi ganda ini bisa terjadi secara masif dan sistematis?

Jawabannya terletak pada patahnya rantai akuntabilitas publik. Megaproyek fisik PUPR yang bernilai raksasa acapkali menjadi bancakan korupsi perizinan dan pemotongan spesifikasi material akibat lemahnya pengawasan independen. Sementara itu, pungli di tingkat sekolah merekah karena budaya patron-client serta pembiayaan pendidikan yang tidak transparan dari tingkat dinas.

Fenomena ini mengingatkan kita pada analisis Vedi R. Hadiz dalam buku Disorganisasi Politik dan Kekuasaan di Indonesia Post-Soeharto (Jakarta: LP3ES, 2005, hlm. 112) yang menegaskan bahwa reformasi sering kali hanya memindahkan praktik pemburu rente dari pusat ke daerah, menciptakan oligarki lokal yang menguasai anggaran publik demi kepentingan kelompok. Korupsi megaproyek dan pungli sekolah adalah dua anak tangga dari tangga pembusukan yang sama.

Pola patronase kelam ini sejatinya tak hanya milik Demak. India juga mengalami patologi serupa di mana proyek infrastruktur pedesaan kerap menjadi sapi perahan elite lokal. Sebagaimana dipaparkan oleh Jean Drèze dan Amartya Sen dalam karya monumental mereka An Uncertain Glory: India and its Contradictions (Princeton: Princeton University Press, 2013, hlm. 88), kebocoran anggaran publik dan pungutan tak resmi di sektor pendidikan dasar secara langsung menghancurkan kapabilitas manusia serta memperdalam jurang ketimpangan sosial.

Begitu pula di Brasil, praktik korupsi sistemik dalam proyek konstruksi publik skala besar pernah dibedah secara mendalam oleh Sergio Moro dalam bukunya Overcoming Corruption: Lessons from Brazil’s Operation Car Wash (New York: Oxford University Press, 2019, hlm. 45), yang menunjukkan bagaimana kongkalikong antara kontraktor dan pejabat daerah dapat melumpuhkan pembangunan fisik sekaligus memeras rakyat kecil secara perlahan.

Bahkan dari Tiongkok, kita belajar bagaimana kebocoran anggaran daerah mengancam stabilitas sosial. Minxin Pei dalam studinya China’s Crony Capitalism: The Dynamics of Systemic Corruption (Cambridge: Harvard University Press, 2016, hlm. 134) mengungkapkan bahwa ketika ruang-ruang publik seperti sekolah dan infrastruktur dasar dijadikan ladang ekstraksi finansial oleh para birokrat, yang runtuh bukan sekadar bangunan beton, melainkan kepercayaan rakyat terhadap negara.

Tanggul rob yang roboh di pesisir Demak dan amplop pungli yang bocor di ruang kelas adalah cermin retak tata kelola kita. Tanpa keberanian untuk membongkar jaring oligarki lokal dan menegakkan transparansi radikal, Demak tidak hanya akan tenggelam oleh air laut, tetapi juga oleh ketidakadilan yang kita biarkan membesar setiap hari.***

Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock