Opini

AROGANSI MAHASISWA UGM BERJUBAH DEMOKRASI

Oleh Prihandoyo Kuswanto (Ketua Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila)

 

 

JAKARTA || Koranprogresif.id – Sudah lama Arogansi Tiyo, Ketua BEM UGM Tanpa rasa risih bicara dengan sombongnya mengatakan Presiden Prabowo Bodoh, Presiden Prabowo kapan berhenti Menjadi Iblis, yang terakhir saya dengar menyamakan Prabowo dengan Kucing yang kena Penyakit Rabies. Sungguh ini kesombongan anak manusia yang kurang ajar menyamakan pemimpin dengan hewan, menyamakan dengan Firaun, mengatakan Prabowo membunuh anak-anak dengan MBG dan anehnya kekurangan adab seperti ini justru didukung oleh Rektor UII, Profesor dan Intelektual kampus memuja-muja sebagai sebuah keberanian.

 

Nilai-nilai sudah dijungkir balikan, kaidah agama sudah dilanggar, bahkan larangan Al-Qur’an dan Hadis disingkirkan sesak nafas ini menyaksikan tingkah laku Arogansi seperti ini.

 

Jogyakarta yang dahulu sebagai kota budaya, kota sopan santun penuh dengan adat, sekarang porak-poranda tatanan nilai dihabisi dengan arogansi tidak ada lagi “onok rembuk yo di rembuk“.

 

Apa yang terjadi di UGM kemarin Itu bukan “diskusi ilmiah”. Itu “unjuk arogan berjubah demokrasi”.

 

Yang kita liat di UGM itu bukan “keberanian intelektual”. Itu “kebrutalan mental” yang salah kaprah. Kebetulan saya sedang di Jogyakarta, mari kita bedah biar lukanya kebuka dan obatnya yang manjur bisa ketemu:

 

*DEMOKRASI LIBERAL PENYESATAN DARI UUD 2002 HASIL AMANDEMEN*

 

1. “Caci-Maki = Keberanian” → Itu Penyesatan Terbesar UUD 2002 Anak-anak mahasiswa itu korban. 28 tahun diajarin: “Demokrasi Liberal= Bebas ngomong apa saja. Boleh dikritik= Makin kasar kritikannya makin keren.

Teriak=Suara rakyat”.

 

Hasilnya:

 

Etika Dipensiunkan: Tidak diajari menghormati yang sepuh, menghormati orangtua sayang-sayangilah yang muda”. Yang diajarin: “Hantam kromo yang berkuasa, itu pahlawan”.

 

1. *Adab Dibuang* : Diskusi ilmiah itu ada adabnya: Dengerkan dulu, catat, bantah pake data + logika. Bukan pake urat leher dan kata kasar.

 

2. *”Ilmuwan” Jadi “Jagoan Orasi”*: Gelar S1 tapi kelakuannya kayak preman terminal. Pinter debat kusir, tapi nol “rasa hormat”.

 

UGM gagal? Bukan UGM saja, tetapi, sistemnya telah gagal*. Kampus disulap menjadi “pabrik aktivis demo”, bukan “pabrik ilmuwan beradab”.

 

*LOGIKA BERFIKIR YANG NGAWUR*

 

1. “Menantang Diskusi Presiden, didatangi Menteri Malah Teriak” → Itu Bukti tidak Siap berduskusi tidak mampu.

 

Logikanya ngawur:

 

*Tuntut* : “Presiden harus turun, dialog dong!”

 

1. *Giliran dikasih* : Menteri datang bawa data APBN, data beras, data hilirisasi.

 

2. *Reaksi* : Teriak, “Kami tidak mau data! Kami mau revolusi!”

 

Itu namanya bukan “diskusi”. Itu “pentas drama”*. Tujuannya bukan “cari solusi”. Tujuannya “viral + bikin Presiden malu”.

 

*Ilmuwan beneran* : Kalau datanya salah, dia bantah pake data lain + jurnal.

*Ilmuwan UUD 2002* : Kalau datanya nggak sesuai selera, dia tutup telinga + teriak “Rezim!”.

 

Jauh dari dunia ilmiah. Dekat ke “dunia pasar malam”.

 

*HILANG NYA PANCASILA DI KAMPUS UGM*

 

1. “UGM Gagal Ciptakan Ilmuwan Beradab” → Akarnya di “Hilangkanya Pancasila”, padahal UGM sejarahnya adalah Pusat Studi Pancasila ada Prof Noto Negoro, punggawa Pancasila . Yang menjadi promotor pemberian gelar Doktor Honoris Causa pada Presiden Soekarno dalam bidang Ilum Tata Negara Pancasila.

 

Dahulu UGM terkenal dengan Kampus Pancasila, Mochtar Lubis, Sutan Takdir? Karena kampus isinya “Pancasila + Etika + Adab”.

Ada Kunto Wibisono, ada Umar Kayam dengan Mr Regennya, ada Prof Mubyarto, tokoh Ekonomi Pancasila dan banyak lagi tokoh-tokoh budaya dan saat itu budaya diskusi dengan sehat dan penuh santun dan bijak mengutamakan data penelitian, kajian-kajian ada majalah Prisma yang memberi pencerahan bagi mahasiswa di angkringan kita diskusi dengan gayeng.

Terasa sekali saat itu Jogyakarta kota budaya dan pendidikan

 

Sekarang kampus-kampus isinya apa? “Teori Kritis + HAM + Demokrasi Prosedural”.

Hasilnya: Mahasiswa pinter “menyalakan “, tapi nggak pinter “ngasih solusi”. Jago “membongkar “, tapi tidak bisa “membangun “. Presiden disalahkan, dihina, dibodohkan, di stigma Firaun Iblis tanpa mengukur dirinya itu siapa, ilmunya apa? Sombong merasa paling pintar, ternyata menjadi alat elit Partai, dibayar, di fasilitasi mobil Fourtuner, punya seorang Jendral dan terbongkar tetapi sudah muka badak tidak ada rasa malunya. Bahkan teman sekampusnya sudah menolak Tiyo.

 

*ILMU TANPA ADAB*

 

*Ilmu tanpa adab = pisau di tangan monyet*. Makin pinter, makin bahaya buat bangsanya sendiri.

 

Bung Karno bilang: “Aktivitas bersimpang-siur menjauhkan dari tujuan Revolusi”.

Aktivitas “teriak-teriak nggak beradab” itu simpang siurnya. Tujuannya “Adil Makmur” nggak bakal kesampean.

 

1. Resep “Cetak Ulang Ilmuwan Beradab” Buat Rektor UGM + Kampus Lain

 

Nggak usah nunggu Mentri, Rektor bisa mulai besok:

 

1. *”SKS Adab Wajib”*: Tiap mahasiswa wajib 2 SKS “Tata Krama + Etika Diskusi + Pancasila Praktik”. Dosennya pensiunan kiai + budayawan + TNI. Ujian akhirnya: Debat sama bapak-bapak RT. Kalau menang teriak = nggak lulus. Kalau menang data + santun = lulus.

2. *”Sanksi Tegas Buat Preman Kampus”*: Siapa teriak-teriak, maki-maki, lempar botol pas diskusi = skorsing 1 semester. Mau pinter setinggi langit, kalau nggak beradab = bukan ilmuwan. Itu preman.

3. *”Diskusi Wajib Pake Data + Sujud”*: Sebelum debat, 2 menit sujud syukur dulu. Inget: “Ilmu ini titipan Tuhan buat ngangkat bangsa, bukan buat ngerendahin bangsa”. Biar sombongnya rontok.

 

PENUTUP

 

– Keberanian beneran itu bukan “maki Presiden di depan kamera”.

– Keberanian beneran itu: Anak UGM turun ke Desa, ngajarin petani cara hilirisasi sawit. Itu “ilmuwan beradab”.

 

– Keberanian beneran bukan “ngaku pejuang demokrasi, tapi kelakuan preman”.

– Keberanian beneran itu*: Dengerin Menteri 1 jam penuh, terus bantah pake grafik + solusi. Itu “ilmuwan beradab”.

 

UGM punya sejarah gede: Lahirin Nurcholish Madjid, Gus Dur. Masa kalah sama “teriak-teriak”? Nggak mungkin.

 

Pertanyaan terakhir, Kalau kita ketemu adik mahasiswa yang model begitu,

 

1 kalimat “tamparan sayang” apa yang paling nancep buat nyadarin dia? “Ilmu tanpa adab itu sampah” atau ada yang lebih busuk? **

 

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock