Opini

Iran dan AS Bantai-bantai di Timur Tengah, Tapi Rupiah dan UMKM Indonesia yang Mati Konyol

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB, New York 2017–2019)

BOGOR || Koranprogresif.id – Di pagi hari yang masih sunyi, saya duduk di tepi sawah di Semplak, Bogor. Udara masih sejuk. Gunung Salak tampak samar di balik kabut. Seorang petani mulai mencangkul sawahnya. Di warung kecil tak jauh dari situ, seorang ibu paruh baya sedang menyiapkan dagangan gorengannya. Wajah ibu itu kusut. Bukan karena kurang tidur, tapi karena harga plastik pembungkus gorengan naik dua kali lipat dalam sebulan terakhir.

Ibu itu tidak tahu apa itu IRGC, Selat Hormuz, atau G42. Ia juga tidak tahu bahwa, perusahaan bernama Spire Solutions ikut merancang target pembunuhan pemimpin Iran. Tapi dompetnya tahu. Dan dompetnya sedang dihancurkan oleh perang yang tidak pernah ia pilih.

Saat saya menjadi Penasihat Militer RI untuk PBB di New York. Saya duduk dalam rapat-rapat Dewan Keamanan. Saya tahu persis bagaimana geopolitik global bekerja. Tapi dari tepi sawah Semplak ini, saya menyaksikan sendiri sebuah ironi besar: ketika dua negara besar bertengkar, yang mati konyol justru rakyat kecil di negeri agraris seperti Indonesia.

Fakta yang Tidak Bisa Ditawar

Mari kita mulai dengan faktanya. Sejak akhir Februari hingga Maret 2026, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan telah menghancurkan sekitar 2.000 target milik Iran dalam 100 jam serangan pertama. Ini adalah eskalasi besar yang jarang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeluarkan ultimatum pada 31 Maret 2026. Isinya tegas: setiap satu pemimpin Iran yang terbunuh, maka satu fasilitas perusahaan global akan dihancurkan. Perusahaan-perusahaan yang masuk daftar hitam bukanlah nama sembarangan: Apple, Microsoft, Google, Tesla, Nvidia, Meta, Boeing, hingga JP Morgan. Perusahaan teknologi seperti G42 dan Spire Solutions juga ikut masuk karena dituding membantu intelijen AS dan Israel.

IRGC bahkan mengimbau para karyawan perusahaan tersebut di kawasan Timur Tengah untuk segera mengevakuasi diri. Ancaman ini bukan gertakan. Ini sudah masuk ranah operasional. Dan dampaknya, dari kursi saya di tepi sawah Semplak, sudah terasa hingga ke warung-warung kecil dan sawah-sawah yang saya lihat setiap pagi.

Tiga Dampak yang Saya Lihat Langsung

Saya tidak hanya membaca berita. Saya turun ke lapangan. Saya ngobrol dengan pedagang, petani, dan ibu-ibu UMKM di sekitar Semplak, Sindang Barang, hingga Bubulak. Setidaknya ada tiga dampak nyata yang sudah terjadi.

Pertama, rupiah melemah dan IHSG anjlok.

Ini mungkin terdengar seperti berita makro ekonomi yang abstrak. Tapi konsekuensinya sangat konkret. Bursa Efek Indonesia kehilangan US$ 1,8 miliar nilai pasar hanya dalam hitungan hari. Investor asing menarik dana mereka dari negara berkembang seperti Indonesia dan memindahkannya ke aset aman seperti dolar AS dan emas. Akibatnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah tajam.

Apa artinya bagi petani di Semplak

Artinya harga pupuk naik. Harga benih naik. Harga alat pertanian naik. Semua itu karena sebagian besar komoditas tersebut masih diimpor atau komponennya bergantung pada dolar. Petani yang pagi ini saya lihat mencangkul, belum tahu bahwa biaya produksinya akan membengkak dalam beberapa pekan ke depan.

Kedua, harga plastik naik hingga 100 persen.

Inilah dampak yang paling menyentak saya. Saya sendiri mengecek ke warung-warung kecil. Saya berbincang dengan pedagang gorengan, pemilik toko kelontong, penjual es teh. Semua mengeluh tentang hal yang sama: plastik mahal. Kantong kresek, gelas plastik, kemasan makanan semua naik, ada yang sampai dua kali lipat.

Penyebabnya sederhana namun mengkhawatirkan. Bahan baku plastik yang disebut nafta sebagian besar dipasok dari Timur Tengah. Konflik yang pecah mengganggu rantai pasok. Harga nafta melonjak. Dan ujungnya, ibu-ibu UMKM di Semplak yang harus membayar lebih mahal untuk membungkus dagangan mereka. Sebuah rantai pasok yang tidak pernah kita sadari ternyata begitu rapuh. Dan ketika putus, yang menanggung bukan AS, bukan Iran, bukan Israel. Tapi ibu gorengan di pinggir jalan kampung.

Ketiga, ancaman serangan siber dan infrastruktur digital.

Ini mungkin belum terasa secara langsung di Semplak, tapi potensinya sangat berbahaya. Iran mengancam akan menyerang pusat data perusahaan-perusahaan AS di Timur Tengah. Jika Google Cloud atau Microsoft Azure down serentak di kawasan itu, kepanikan global akan menyebar ke seluruh pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia.

Dari Semplak, saya melihat bahwa petani dan UMKM kita kini sudah mulai tergantung pada ekosistem digital. Mereka menggunakan ponsel untuk pemasaran, pembayaran digital, dan logistik. Jika ekosistem itu terganggu entah karena serangan siber atau karena kepanikan pasar yang membuat investasi di sektor digital mengering maka petani tidak bisa menjual hasil panennya. UMKM tidak bisa menerima pesanan. Ini bukan soal teknis. Ini soal ketahanan ekonomi rakyat.

Ini Bukan Sekadar Konflik, Tapi Pengkhianatan

Saya tidak menggunakan kata “pengkhianatan” dengan ringan. Saya mantan perwira. Saya tahu arti kesetiaan. Saya juga tahu, dari pengalaman saya duduk di Dewan Keamanan PBB, bagaimana negara-negara besar memperlakukan negara kecil seperti Indonesia. Yang terjadi sekarang adalah apa yang saya sebut sebagai pengkhianatan sistemik terhadap negara kecil oleh tatanan global yang tidak adil.

AS dan Iran bertarung untuk kepentingan geopolitik mereka. Israel mempertahankan hegemoninya. Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa berlindung di balik laba triliunan dolar. Tapi ketika konflik pecah, rakyat Indonesia bahkan petani di sawah Semplak dan ibu gorengan di pinggir jalan kampung yang tidak punya kepentingan apa pun di sana, justru yang membayar harganya.

Saya melihat setidaknya tiga bentuk pengkhianatan di sini.

*Pertama,* sistem ekonomi global dirancang sedemikian rupa sehingga goncangan di satu titik langsung berdampak ke seluruh dunia, tanpa mekanisme perlindungan yang memadai bagi negara-negara kecil. Ini bukan kegagalan teknis. Ini adalah cacat struktural yang disengaja.

Kedua, perusahaan-perusahaan global menikmati keuntungan besar dari pasar Indonesia. Mereka menjual produk, mengumpulkan data, membangun ekosistem. Tapi ketika krisis datang, mereka tidak pernah menyiapkan skenario darurat untuk melindungi mitra dan konsumen mereka di negara seperti Indonesia. Petani Semplak tidak peduli dengan laba Apple atau Tesla. Tapi petani Semplak merasakan dampaknya ketika harga pupuk naik karena rupiah melemah akibat kepanikan global.

Ketiga, negara-negara besar dengan mudah mengorbankan kepentingan negara kecil demi ambisi geopolitik mereka. Tidak ada yang duduk di Dewan Keamanan PBB dan bertanya, “Apa dampak perang ini terhadap petani di Indonesia?” Karena pertanyaan itu tidak masuk hitungan kekuasaan.

Dan yang paling menyakitkan: tidak ada yang merasa bertanggung jawab.

Dari tepi sawah Semplak ini, saya bertanya: siapa yang akan datang menjelaskan kepada ibu gorengan itu bahwa plastiknya mahal karena ada perang di negeri yang namanya bahkan tidak bisa ia sebutkan?

Sebuah Pertanyaan untuk Pemerintah

Selama saya bertugas di New York, saya belajar satu hal: dalam setiap krisis global, negara kecil selalu menjadi korban tabrak lari. Tidak ada keadilan. Yang ada hanya kepentingan.

Tapi dari Semplak, dengan sawah di depan mata dan Gunung Salak di kejauhan, saya mengajukan pertanyaan yang lebih keras dan lebih mendesak: *di mana pemerintah Indonesia?*

Apakah kita sudah memiliki cadangan pangan, energi, dan komoditas strategis untuk menghadapi guncangan seperti ini? Apakah kita sudah mendorong diversifikasi rantai pasok agar tidak tergantung pada satu kawasan konflik? Apakah kita sudah menyusun skenario darurat untuk melindungi UMKM dan investor kecil ketika pasar global panik?

Saya tidak mendengar jawaban yang meyakinkan.

Yang saya dengar adalah pernyataan-pernyataan standar dari pejabat yang terdengar seperti bacaan. Yang saya lihat adalah ketiadaan langkah konkret yang bisa melindungi rakyat kecil dari guncangan global.

Saya hanya melihat ibu gorengan di tepi sawah Semplak itu masih termenung. Plastik yang dua kali lipat harganya membuatnya bingung: mau menaikkan harga jual gorengannya dan berisiko kehilangan pembeli, atau menahan harga dan perlahan-lahan tekor.

Saya hanya melihat petani itu menggaruk tanahnya dengan cangkul, belum tahu bahwa harga pupuk akan naik pekan depan karena rupiah terus terpuruk.

Mereka tidak membutuhkan pidato. Mereka membutuhkan perlindungan.

Penutup

Saya tidak menulis opini ini di ruang ber-AC di Jakarta. Saya juga tidak menulisnya di kantor PBB yang megah di New York. Saya menulisnya di tepi sawah di Semplak, Bogor, Jawa Barat. Saya menulis dengan jari yang kadang kena tanah. Dengan suara air irigasi yang mengalir di sebelah. Dengan ayam berkokok dari kandang warga. Dengan sesekali suara kereta api Bogor-Sukabumi yang melintas tidak jauh dari sini.

Dari sinilah dari kampung yang tenang, dari sawah yang membentang hijau hingga ke kaki bukit saya bisa melihat dengan paling jernih siapa sebenarnya yang menjadi korban perang global.

Iran dan Amerika Serikat boleh saling membantai di Timur Tengah. Perusahaan teknologi boleh saling serang di dunia maya. Tapi jangan harap rakyat Indonesia akan terus diam ketika dompet mereka bahkan dompet ibu gorengan dan petani di Semplak ini dijadikan medan perang.

Ini adalah pengkhianatan global. Dan sudah waktunya kita semua, para pensiunan, akademisi, jurnalis, pemimpin agama dan masyarakat, serta para petani dan pedagang, untuk bersuara. Bukan untuk ikut perang. Tapi untuk memastikan bahwa Indonesia tidak akan terus-menerus menjadi korban konyol dari perang orang lain.

Karena jika kita diam, bukan hanya plastik gorengan yang akan terus naik harganya. Bukan hanya pupuk yang akan semakin mahal. Tapi martabat kita sebagai bangsa yang ikut memperjuangkan kemerdekaan, yang pernah menjadi poros Gerakan Non-Blok, juga ikut terinjak-injak.

Saya, dari tepi sawah Semplak ini, memilih untuk tidak diam.

Saya mengajak Anda semua untuk juga tidak diam.

*Semplak, Bogor, Jawa Barat, 5 April 2026*

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock