Cermin Retak di Kedai Kopi: Menakar 7 Dosa Sosial Gandhi di Tanah Air

Oleh: M.R. Mualimin
YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Pagi itu, di sebuah kedai kopi yang riuh oleh denting cangkir dan kepulan asap, percakapan dua pemuda menarik perhatian saya. Seorang di antaranya memegang gawai, membacakan berita tentang pejabat yang tertangkap OTT KPK, sementara temannya hanya tertawa hambar sambil menyeruput kopi. “Ah, biasa itu. Kalau punya kuasa, siapa yang enggak tergiur?” celetuknya santai.
Celetukan jujur tapi getir itu mendadak menghentikan seduhan kopi saya. Ada rasa hampa yang menyengat. Kita seolah telah terbiasa memaklumi keserakahan, menoleransi kecurangan, dan menganggap kehampaan moral sebagai hal wajar dalam keseharian.
Kondisi ini mengingatkan saya pada petuah legendaris yang dirumuskan oleh Mahatma Gandhi pada tahun 1925. Dalam bukunya yang monumental, Autobiography: The Story of My Experiments with Truth, yang diterbitkan oleh Beacon Press di Boston pada tahun 1993, khususnya pada halaman 182, Gandhi merinci tujuh dosa sosial yang bisa menghancurkan sebuah bangsa dari dalam. Jika kita menatap cermin kehidupan masyarakat Indonesia hari ini, ketujuh dosa itu terasa bukan sekadar teori sejarah, melainkan potret telanjang realitas kita.
Mari kita lihat sekeliling. Dosa pertama, politik tanpa prinsip, begitu telanjang mengepung kita. Janji manis kampanye menguap begitu kursi kekuasaan diraih, berpindah partai layaknya berganti baju demi mengamankan takhta. Bersamaan dengan itu, dosa kedua, kekayaan tanpa kerja keras, makin diagungkan. Fenomena pamer harta, jalan pintas flexing di media sosial, hingga maraknya judi online yang menjerat jutaan rakyat menjadi bukti betapa proses jujur kian ditinggalkan.
Di pasar dan pusat bisnis, dosa ketiga, perdagangan tanpa moralitas, merayap halus. Dari penimbunan bahan pokok hingga produk palsu yang merugikan rakyat kecil, keuntungkan finansial dikejar tanpa memedulikan penderitaan sesama. Keadaan ini diperparah oleh dosa keempat, kesenangan tanpa nurani. Kita sering menyaksikan pesta pora kemewahan digelar tepat di samping permukiman kumuh yang penghuninya bingung besok makan apa.
Dunia pendidikan pun tak luput dari ancaman dosa kelima, pendidikan tanpa karakter. Bangku sekolah dan kuliah acap kali hanya dijadikan pabrik pencetak ijazah dan pencari nilai formal, namun gagap menanamkan kejujuran, empati, serta rasa malu saat berbuat curang. Begitu pula dosa keenam, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, ketika teknologi mutakhir dan kecerdasan buatan justru dipakai untuk menyebar hoaks, meretas data pribadi, atau memanipulasi informasi demi kepentingan segelintir kelompok.
Akhirnya, dosa ketujuh, beribadah tanpa pengorbanan, menjadi keprihatinan yang teramat dalam. Rumah-rumah ibadah berdiri megah dan penuh sesak, ritual keagamaan riuh dirayakan, tetapi kesalehan itu sering kali berhenti di batas pintu tempat ibadah. Di luar, kesalehan sosial menguap; kepedulian pada tetangga yang kelaparan dan kejujuran dalam bertindak justru kerap terabaikan.
Tujuh dosa sosial ini bukan sekadar catatan tua dari masa lalu. Ia adalah peringatan nyaring bagi kita hari ini. Bangsa ini tidak akan runtuh karena kekurangan orang pintar atau orang kaya, melainkan karena kita membiarkan nurani mati rasa di tengah rutinitas sehari-hari.***
Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.








