Opini

Air Kota, Harapan Kita: Ketika Kesadaran Bertemu Realita

 

Oleh: Muhammad Rofik Mualimin (Dosen STAI Yogyakarta/Pengasuh PP Latifah Mubarokiyah)

YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Di kota besar, air adalah denyut kehidupan sehari-hari. Namun, janji “air minum aman” belum tentu terealisasi. Kenyataan sering menyajikan gambaran yang jauh lebih suram daripada slogan pembangunan.

Berdasarkan data Pokja PPAS (2020), akses air minum aman di perkotaan Indonesia hanya mencapai 15,1 %, sedangkan sisanya berisiko karena kontaminasi bakteri E. coli, TDS, serta ketidakseimbangan pH, nitrat dan nitrit.

Permasalahan intelektual ini diperparah oleh fakta bahwa air “layak” belum tentu “aman”: di Jakarta, PDAM mencatat bahwa akses air minum layak hampir mencapai 99,84 %, namun akses yang benar-benar aman masih berada di kisaran 17,8 % saja.

Studi di Bekasi dan Bandung memberi gambaran lebih rinci dari sisi persepsi dan praktik. Di Bekasi, kebanyakan masyarakat menganggap air yang mereka konsumsi aman dan enak, namun pengujian kualitas (pH, TDS, koliform, E. coli) menunjukkan bahwa persepsi tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi air sesungguhnya.

Sementara di Bandung, penelitian terhadap 66 depot air isi ulang menemukan korelasi negatif antara perilaku penyedia dan kualitas fisik air (TDS); artinya, praktik tidak higienis berdampak nyata terhadap mutu air
(Journals.itb.ac.id).

Di Jabodetabek, penelitian mengungkap bahwa sekitar 93,92 % rumah tangga memiliki akses terhadap air minum layak secara fisik, tetapi masih ada sekitar 6,08 % yang tertinggal. Faktor-faktor seperti pendidikan kepala rumah tangga, status pekerjaan, jumlah anggota keluarga dan status migrasi terbukti signifikan memengaruhi akses tersebut
(jurnal.um-tapsel.ac.id).

Permasalahan di kota-kota besar bukan hanya soal distribusi, tetapi juga tata kelola dan struktur kota. Prieto‑Curiel dan Borja‑Vega (2024) melalui analisis lebih dari 100 kota global menyimpulkan bahwa urban sprawl memperparah kekurangan air: semakin jauh area permukiman dari pusat kota, semakin mahal tarif, semakin rendah akses infrastruktur dan ketersediaan air bisa turun hingga separuhnya.

Sementara itu, imbas kesehatan dari air yang belum benar-benar aman—seperti diare dan stunting pada balita—telah menjadi beban nyata. Di Indonesia, air dan sanitasi yang tidak aman menyebabkan sekitar 485.000 kematian akibat diare setiap tahun
(scholarhub.ui.ac.id).

Literatur terbaru juga memperingatkan hubungan serius antara kualitas air dan stunting anak—air tidak memenuhi standar fisik seperti kejernihan dan tak berwarna dapat memicu infeksi yang menghambat pertumbuhan anak
(jppipa.unram.ac.id).

Wajah kota besar memang megah—dengan gedung, keramaian, dan gemerlap lampu. Namun, di balik itu, air yang mengalir dari keran masih menyimpan persoalan: jangan-jangan lebih banyak yang layak ketimbang yang aman. Lalu, bagaimana kita bisa berharap bangunan tinggi, kalau esensi dasar kehidupan—air bersih—belum tertangani dengan tuntas?

Kita perlu lebih dari infrastruktur dan jargon. Perlu tata kota berkelanjutan, pendidikan konsumen, tata kelola depot yang ketat, serta komitmen tegas pemerintah dan masyarakat—untuk memastikan bahwa air yang kita minum bukan sekadar layak, tetapi aman, sehat dan merata. ***

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock