Ragam

Antara Mahatir dan Prabowo

 

Oleh: Muslim Arbi (Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indonesia Bersatu)

JAKARTA || Koranprogresif.id – Mahatir Mohammad (101 thn), Mantan Perdana Mentri Malaysia memulai karir sebagai Perdana Mentri Malaysia sejak 1981. Dan kemudian berkuasa hingga 2003. Dua puluh dua tahun memimpin Malaysia. Dan PM lagi 2018-2020. Pikirannya untuk merubah dan meperbaiki Malaysia di tuangkan dalam buku The Malaya Dillema. Bukannya pernah di cekal, tetapi buku nya itu kemudian menjadi blue print membangun Malaysia. Majahatir berhasil menghantarkan Malaysia menjadi negara yang kuat secara ekonimi di Asia.

Prabowo Subianto (74 thn), Mantan Danjen kopassus dan Panglima Kostrad di pecat dari TNI karena tragedi 1998. Kemudian terjun sebagai pengusaha. Menuliskan pikirannya dalam buku Paradoks Indonesia. Buku itu menyoroti Indonesia. Negara kaya dalam sumber daya alam nya tetapi masih banyak rakyat yang miskin dan tertinggal serta sumber daya alam yang di ekspor ke luar negeri, tetapi hanya di nikmati oleh segelintir oligarki yang kuasai ekonomi dan terjadi kebocoran yang besar dalam pengelolaan anggaran negara.

Prabowo baru dua tahun menjalankan pemerintahannya. Kini gebrakannya untuk memperbaiki dan membangun Indonesia tidak sangat mudah.

Tantangan yang di hadapi di antaranya adalah bagaimana agar hasil ekspor SDA menjadi penguatan devisa dan membangkitkan perekonomian nasional dengan menerjemahkan pasal 33 UUD1945 banyak mendapat tantangan. Kelas menengah (elite) yang telah berada di zona aman dan nyaman dengan menikmati kondisi ekonomi selama terusik dengan kebijakan penerapan pasal 33 itu.

Dalam pidato pada acara Munas HIPMI di Lampung, Prabowo sempat mengeluhkan sikap para elit itu. “Lu kira jadi Presiden gampang”?

Jika melihat Prabowo, putera Begawan Ekonom Prof Soemitro Djoyohadikusumo yang dengan gigih meraih perjuangan panjang sampai memimpin Indonesia saat ini menempuh perjalanan panjang dan berliku.

Kini setelah memimpin Indoneisa sebagaimana yang di tuangakan dalam Buku Paradoks Indonesia dapat tercapai. Selain mengelola ekonomi dengan konsitusi UUD 2002, Prabowo juga seharusnya mengembalikan Indonesia ke rel konsitusi sebagaimana Proklmasi 17 Aguatus 1945. UUD 1945, 18 Agustus 1945 menuju Cita-cita Proklamsi sesuai Amanat Para Pendiri Bangsa.

Pasal 33 UUD 1945 sudah di berlalukan dan kini tinggal memperbaiki perpolitikan nasional dengan mengembalikan UUD 2002 ke UUD 1945.

Ekonomi dan Poltik itu ibarat 2 dua muka dari satu mata uang. Ekonomi akan pincang bila berjalan di atas praktek politik liberal dan neoliberal. Jika ekonomi di kembalikan ke Pasal 33, maka bangunan politik dan sistem bernegara juga harus di kembalikan ke UUD 1945 – 18 Agustus 1945. Bila tidak, ekonomi dan poltik akan saling berbenturan. Ekonomi jalan kanan, Politik jalan nya sebaliknya. Tidak akan sejalan. Seharusnya ekonomi dan politik di atas rel konsitusi yang benar.

Mahatir Mohammad sebagai Dokter yang memulai karier dengan pisau analisa sebagai diagnosa penyakit bangsa dan negaranya dalam The Malaya Dillema berhasil membangun Malaysia dalam soal ekomomi, tetapi dalam politik kasus Anwar Ibrahim yang kini menjabat sebagai PM Malaysia menyisakan tragedi politik dengan menyingkirkan saat itu. Tetapi, apa pun ceritanya, Mahatir berhasil menempa Anwar Ibrahim hingga saat ini.

Lain Mahatir, Lain Prabowo. Bisa jadi saat ini ada kekuatan lama. Atau para (penyamun, petualangan) politik yang mencoba menggoyang posisi Prabowo karena terancam oleh policy dan gaya Prabowo saat ini. Bisa jadi kekuatan Oligarki yang merasa nyaman pada kekuasaan lama terganggu atas sejumlah gebrakan Prabowo yang Pro Rakyat. Dan seolah mereka terancam, sehingga berbagai upaya di desain untuk menjatuhkannya dengan isu pemakzulan dsb-nya. Hal itu biasa saja dalam intrik politik dan kekuasaan.

Terlepas dari itu semua. Buku Paradoks Indonesia harus bisa menjawab dan memberi solusi Indonesia saat ini. Sebagaimana The Malay Dilemanya Mahatir yang sukses menghantarkan Malaysia menjadi salah satu kekuatan ekomomi Asia. ***

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock