Ragam

BAHSUL MASAIL NU YANG BERGESER

 

Oleh: Hanif Nurcholis (Pengamat Keagamaan)

JAKARTA || Koranprogresif.id – Selama hampir satu abad, Nahdlatul Ulama dikenal sebagai rumah besar para ulama yang memuliakan tradisi bahtsul masail, forum ilmiah fiqh tempat para kiai bertemu, berdebat dan bertarung argumentasi. Di sana, dalil ditimbang dengan dalil; qiyās dibenturkan dengan qiyās; burhān diuji dengan burhān; dan para kiai sepuh mengarahkan konklusi agar lahir natījah yang paling sahih dan mu‘tabar.

Itulah NU yang kita kenal: organisasi tempat ilmu, adab dan wibawa keulamaan bekerja secara mulia.

Namun sebulan terakhir, wajah bahtsul masail itu tampak bergeser jauh. Yang dibahas bukan lagi perkara umat, kemiskinan, pendidikan, keadilan ekonomi, etika politik, maupun masalah sosial budaya, melainkan sah-tidaknya pemakzulan (impeachment) Ketua Umum PBNU. Bukan lagi argumentasi fiqhiyah yang dikedepankan, tetapi kuat-kuatan otoritas berdasarkan AD/ART yang disusun dengan logika hukum sekuler, buatan penjajah Belanda.

*Dua Alasan yang Bertabrakan*

Pihak yang mengusulkan pemberhentian mengemukakan alasan moral: bahwa PBNU dianggap menyimpang dari visi-misi pendirinya, khususnya cita-cita Hadratussyaikh KH Hasyim Asy‘ari. NU diduga terseret dalam jejaring kerja sama Yahudi internasional yang memunculkan persepsi publik bahwa NU menjadi “agen” kepentingan Yahudi internasional, narasi yang berkembang luas di akar rumput.

Namun alasan ini dibantah oleh petinggi lain di tubuh NU. Bagi mereka, tuduhan itu hanya permukaan. Di baliknya, persoalan yang sebenarnya adalah soal ekonomi politik: perebutan konsesi, kuasa tambang dan distribusi rente. Dengan kata lain, bukan pembelokan cita-cita mulia melainkan perebutan harta (tambang).

Akhirnya publik menyimpulkan dua hal yang berkelindan:

Masalah legitimasi moral, apakah NU masih teguh pada nilai-nilai keulamaan?

Masalah ekonomi-politik, apakah konflik ini pada dasarnya perebutan akses harta dan keuntungan ekonomi?

Mana yang lebih dominan, masyarakat kini menilai dengan mata telanjang.

*NU Perlu Kembali ke Jalan Keulamaan*

NU dibangun sebagai jam‘iyyah ‘ulama’, bukan kongsi bisnis, bukan pula arena pertarungan hukum positif buatan rezim kolonial. Jika bahtsul masail berubah menjadi bahsul konflik, maka hilanglah mahkota keulamaan itu.

NU seyogianya kembali ke karakter aslinya:
• Menempatkan para kiai sepuh sebagai penentu arah dengan kewibawaan moralnya.
• Mendahulukan kemaslahatan umat, bukan kepentingan praktis jangka pendek.
• Menghidupkan kembali tradisi mantiq, usul fiqh, dan adab keilmuan sebagai fondasi penyelesaian masalah.

Konflik terbuka tentang tambang, perebutan otoritas, dan adu legalitas berdasarkan produk hukum Belanda bukan hanya memalukan warga NU, tetapi juga mencoreng wajah umat Islam dan bangsa Indonesia.

NU terlalu besar untuk dikecilkan oleh kepentingan sesaat.
Terlalu naif ketika direduksi menjadi arena kompetisi ekonomi.
Terlalu rendah ketika dibiarkan keluar dari akarnya sebagai rumah para alim dan penjaga tradisi keilmuan Islam Nusantara.

Saatnya bahtsul masail kembali menjadi forum ilmu, bukan forum konflik.
Karena tanpa itu, NU akan kehilangan roh dan jati dirinya. ***

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock