Cegah Kerusakan Gigi, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Pevilliadent UGM, Kembangkan Biokomposit Gel

YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Tingginya prevalensi karies gigi di Indonesia yang menyerang dari berbagai kalangan usia, sehingga dapat menyebabkan kehilangan gigi. Karies gigi berpotensi menganggu fungsi fonasi, mastikasi dan estetika.
Berangkat dari permasalahan ini, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Pevilliadent Universitas Gadjah Mada mengembangkan biokomposit gel yang berbasis bahan-bahan alami dari cangkang kerang hijau dan daun teh hijau.
Tim PKM ini beranggotakan Irya Dira (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), Jovanka Sandy Ayudhea (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), Ifah Nuur Rakhimah (Fakultas Biologi) dan Achmad Musa Nurhadi (Fakultas Kedokteran Gigi), serta di bawah bimbingan Prof. Dr. Eng. Yusril Yusuf, S.Si, M.Si, M.Eng.
Melalui keterangannya, Minggu (02/11), Ketua Tim, Hasan Rabbani, mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, mengungkapkan bahwa, biokomposit gel merupakan biomaterial yang dapat memfasilitasi pembentukan struktur jaringan. “Meninjau dari keterbatasan pemanfaatan cangkang kerang hijau, penelitian kami memanfaatkan kerang hijau sebagai bahan alami yang bernilai ekonomis tinggi serta berpotensi sebagai komponen material dalam berbagai industri, salah satunya industri kesehatan,” kata Hasan Rabbani.

Hasan menuturkan, inovasi yang mereka kembangkan diharapkan tidak hanya dapat menyelesaikan masalah secara nyata, namun juga berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat dari sisi ekonomi. Melalui studi literatur serta penelitian yang telah dilakukan, Tim ini berhasil membuat biokomposit gel dengan memanfaatkan bahan cangkang kerang hijau sebagai material yang mengandung kalsium karbonat tinggi dikombinasikan dengan daun teh hijau yang mengandung fluoride dan polifenol.
“Dengan memanfaatkan karakteristik dari kedua bahan yang saling melengkapi, dapat dilakukan pengembalian pada gigi, bahkan melebihi produk komersil CPP-ACP,” ungkap Hasan yang di dukung Achmad Musa Nurhadi, anggota tim.
Menurutnya, adanya kandungan fluoride dan polifenol dalam biokomposit gel berpotensi memiliki efek positif tambahan. “Keberadaan fluoride dan polifenol tidak hanya sekedar mampu meningkatkan kekerasan gigi, namun juga berpotensi uji lanjut seperti pengujian kelarutan, stabilitas formulasi, pelepasan ion, sitoksisitas, toksisitas in vivo, organoleptik dan praklinis untuk memperkuat bukti ilmiah dan potensi biokomposit gel kami menuju aplikasi klinis,” ujarnya.
Sementara, Jovanka Sandy Ayudhea, anggota tim lainnya, menuturkan, pengembangan biokomposit gel ramah lingkungan dilakukan melalui beberapa tahapan. Awalnya, cangkang kerang hijau perlu dihilangkan kotoran terlebih dahulu, kemudian dibuat bubuk hidroksiapatit berukuran nano. Lalu, daun teh hijau kemudian dipanen dan diekstrak melalui metode maserasi, sehingga didapat ekstrak teh hijau murni.
Untuk proses preparasi bahan yang sudah selesai dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan formulasi sehingga didapatkan biokomposit gel dengan berbagai konsentrasi hidroksiapatit sebesar 0%, 10%, dan 15% dengan tambahan 10% ekstrak daun teh hijau untuk setiap konsentrasinya.
“Proses penelitian tidak usai begitu saja setelah formulasi, pengujian perlu dilakukan untuk menentukan kualitas dan efektivitas dari scaffold hidrogel ini,” imbuh Jovanka.
Jovanka menambahkan, inovasi yang mereka lakukan ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada bahan kimia impor, terlebih untuk bahan kimia sintetik yang biasanya digunakan dalam produksi peralatan dan material medis.
“Harapan kita agar inovasi ini dapat menjadi dasar dari pengembangan lanjutan biokomposit gel ramah lingkungan melalui produksi skala industri,” pungkasnya. (Red).





