Ragam

Dai Komedian Nasional H. Kiwil dan Dosen STAI Yogyakarta, Duet Safari Dakwah Peduli Palestina di DIY

 

YOGYAKARTA || Koranprogresif.id — Suasana sejuk awal musim hujan di Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi latar rangkaian Safari Dakwah Peduli Palestina yang digelar selama sepekan, 24–30 November 2025. Dua dai dengan karakter berbeda namun saling melengkapi—H. Kiwil, komedian nasional yang kini aktif berdakwah, dan K.H. Muhammad Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I., dosen STAI Yogyakarta sekaligus Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul—tampil berduet dari satu daerah ke daerah lain di empat kabupaten dan satu kotamadya se-DIY.

Safari dakwah yang bertema kepedulian untuk Palestina ini menyasar berbagai titik: mulai dari masjid-masjid kampung di Bantul, balai pertemuan warga di Gunungkidul, halaman pesantren di Kulon Progo, hingga gedung serbaguna di Sleman dan pusat aktivitas komunitas keagamaan di Kota Yogyakarta. Di setiap lokasi, jamaah datang berlapis sejak sore, sebagian membawa keluarga, sebagian lain membawa kotak donasi masing-masing.

Kehadiran Haji Kiwil hampir selalu menjadi momen yang ditunggu. Begitu naik panggung, ia memecah suasana dengan canda khasnya—ringan, jenaka, tapi tetap menjaga kehormatan mimbar dakwah. Ia membawakan tausiah dengan gaya santai, menyelipkan kritik sosial yang dibungkus humor renyah. Tawa jamaah pecah berulang kali, namun perlahan berubah menjadi hening saat ia mengalihkan cerita menuju tragedi kemanusiaan di Palestina.

“Kalau kita bisa tertawa malam ini, itu karena Allah masih beri aman. Sementara saudara kita di Palestina… mereka tertawa pun rasanya mahal,” ucap Kiwil pada salah satu sesi di Sleman.

Kalimat itu membuat jamaah mengangguk lirih. Kiwil menutup tiap tausiah dengan ajakan bersedekah, mengingatkan bahwa kepedulian tidak harus menunggu kaya, yang penting ikhlas.

Sementara itu, K.H. Muhammad Rofik Mualimin tampil sebagai penyeimbang yang menautkan humor Kiwil dengan kedalaman pesan keagamaan. Dengan nada tenang dan tutur akademis yang mudah dicerna, ia menegaskan posisi umat Islam sebagai penjaga nilai kemanusiaan. Ulasannya mengenai sejarah perjuangan Palestina, disampaikan tanpa bertele-tele, membuat jamaah merasa memperoleh gambaran yang lebih utuh.

“Sedekah untuk Palestina bukan hanya urusan donasi, tapi juga bentuk merawat perasaan. Kita jaga hati kita tetap hidup,” kata Rofik dalam kegiatan di Bantul.

Respons jamaah terhadap nasihatnya selalu hangat—beberapa peserta terlihat mencatat, sebagian lain mengulang kembali kutipan beliau kepada rekannya setelah acara selesai.

Di banyak titik, panitia menyiapkan kotak amal besar di pintu keluar. Yang menarik, bukan hanya jamaah dewasa yang menyumbang; anak-anak pun tampak lihai memasukkan uang saku mereka ke kotak donasi. Total bantuan yang terkumpul dalam setiap sesi terbilang signifikan, bahkan beberapa panitia mengaku terkejut dengan antusiasme warga.

Safari dakwah selama sepekan ini menunjukkan, kepedulian masyarakat DIY terhadap isu Palestina tetap tinggi. Kolaborasi antara dai komedian dan akademisi pesantren menjadi formula baru yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menyentuh dan menggugah kepekaan sosial.

Dalam setiap tawa, terselip empati. Dalam setiap penggalangan dana, terdapat harapan agar kebaikan dari Yogyakarta dapat menyapa saudara-saudara jauh di Palestina—meski mereka tak saling mengenal, namun terikat oleh rasa kemanusiaan yang sama. (MRM/Red).

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock