Ragam

Dari Saung Bambu ke Layar Sentuh: Ketika Mata Rantai Sabda Nabi Bertemu Algoritma Digital

 

Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.

YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana kebiasaan kita mengonsumsi informasi berubah belakangan ini? Di grup obrolan keluarga atau linimasa media sosial, sebuah kutipan yang diklaim sebagai hadis bisa menyebar ke ribuan ponsel hanya dalam hitungan detik. Cukup bermodal copy-paste dan grafis ciamik, sebuah riwayat langsung dipercayai mentah-mentah.

Kondisi ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi di saung-saung bambu pesantren abad ke-17. Kala itu, tradisi sorogan—metode belajar tatap muka secara privat antara murid dan kiai—menjadi benteng pertahanan utama keabsahan sebuah ajaran. Murid membaca kitab di hadapan guru, menguji pemahaman imbuhan tata bahasa, hingga memverifikasi mata rantai transmisi (sanad) kata demi kata.

Kiai Hasyim Asy’ari dalam karyanya Adabul ‘Alim wal Muta’allim (Jombang: Pustaka Tebuireng, 2014, hlm. 38) menegaskan bahwa ikatan emosional dan pengawasan langsung dalam sorogan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan penyucian jiwa dan pembentukan karakter kejujuran akademik. Tidak ada jalan pintas untuk mendapatkan pengakuan keilmuan.

Secara kritis, lompatan menuju era digital membawa dualisme yang cukup tajam. Di satu sisi, aplikasi mesin pencari dan perpustakaan digital memudahkan siapapun mengakses ribuan kitab primer dalam hitungan detik. Namun di sisi lain, kepraktisan ini sering kali mengikis kedalaman. Martin van Bruinessen dalam Traditionalist Muslims in a Modernizing World (Leiden: ISIM, 2003, hlm. 87) mengamati bahwa digitalisasi informasi keagamaan berisiko melahirkan pemahaman instan yang terputus dari konteks historis dan metodologisnya.

Orientasi pembelajaran pun mengalami pergeseran makna. Pengamat Timur Tengah asal Jerman, Georg Stauth, dalam Ulama in Transition (Halle: Verlag Werner Dausien, 1993, hlm. 104) mengingatkan bahwa keberadaan otoritas keagamaan tradisional terancam oleh homogenisasi media massa dan platform digital yang cenderung mendangkalkan dialog ilmiah. Otoritas yang dulunya dibangun lewat bertahun-tahun ujian sorogan kini rentan tergeser oleh popularitas jumlah pengikut atau tayangan di media sosial.

Di tingkat akar rumput, tantangan terbesarnya adalah bagaimana merawat kedisiplinan verifikasi ala sorogan di tengah gempuran kecepatan algoritma. Mesin pencari memang bisa menampilkan teks hadis beserta derajat kesahihannya secara cepat, tetapi ia tidak mampu mengajarkan kearifan lokal, empati, serta kedalaman pemahaman kontekstual yang diajarkan seorang guru secara langsung.

Teknologi digital sejatinya hanyalah alat bantu. Validasi digital perlu dipadukan kembali dengan ketelitian tradisi sanad masa lalu. Sebab, memahami sabda Nabi bukan sekadar urusan menemukan teks di layar sentuh, melainkan menjaga kejujuran dan mata rantai kebenaran agar tidak tersapu oleh derasnya arus disinformasi modern.***

Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Dosen STAI Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,
– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),
– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock