Festival Literasi Kota Cirebon 2025 Resmi Dibuka, Wali Kota Dorong Penguatan Budaya Baca

KOTA CIREBON – Koranprogresif.id – Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, menegaskan pentingnya penguatan literasi masyarakat di tengah derasnya arus digital dan globalisasi.
Hal tersebut disampaikan saat menghadiri Festival Literasi Kota Cirebon Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Cirebon, Senin (9/12/2025).
Wali Kota, Effendi Edo, mengapresiasi Dispusip atas terselenggaranya kegiatan tersebut yang dinilai tidak hanya relevan, tetapi juga strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia Kota Cirebon.
Menurutnya, kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari infrastruktur yang berdiri, melainkan dari kualitas nalar masyarakatnya.
“Kunci untuk mencapai daya nalar yang tinggi adalah literasi. Festival ini adalah deklarasi kita bersama bahwa Kota Cirebon adalah kota yang menghargai buku dan menghormati pengetahuan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi masa kini, terutama maraknya misinformasi, disinformasi, dan hoaks di era digital. Ia menilai kemudahan mengakses informasi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis.
“Literasi digital bukan hanya tentang bisa menggunakan gadget, tetapi bagaimana bersikap bijak dan mampu memverifikasi setiap informasi yang diterima,” tegasnya.
Menurutnya, generasi muda saat ini sangat rentan terpapar informasi yang menyesatkan atau memecah belah.
Selain tantangan digital, ia juga menyoroti derasnya arus budaya global yang dapat mengikis identitas lokal. Oleh Karena itu, literasi budaya dinilai penting untuk menjaga akar sejarah dan nilai kearifan lokal Cirebon.
“Kita harus mampu menceritakan kembali kisah-kisah Cirebon secara menarik dan relevan agar generasi kita tumbuh dengan identitas yang kuat,” katanya.
Wali Kota mendorong Dispusip untuk terus melakukan transformasi agar perpustakaan menjadi pusat aktivitas masyarakat. Ia menekankan pentingnya menyediakan fasilitas yang lebih modern, buku yang berkualitas, serta menghadirkan program-program kreatif berbasis literasi.
“Perpustakaan harus menjadi pusat inkubasi kreatif dan community hub. Tempat masyarakat belajar, berkreasi, dan bertukar gagasan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga memberikan apresiasi kepada komunitas literasi, pegiat TBM, dan relawan literasi yang selama ini turut berperan aktif meningkatkan minat baca masyarakat.
Namun, menurutnya, suksesnya gerakan literasi sangat bergantung pada peran keluarga. Orang tua harus menjadi teladan bagi anak dalam membangun kebiasaan membaca.
“Jadikan rumah kita sebagai perpustakaan mini, tempat keingintahuan anak-anak diasah dan karakter mereka dibentuk. Kurangi penggunaan gadget berlebihan, dan perbanyak interaksi berkualitas melalui membaca,” pesannya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkomitmen menjadikan literasi sebagai budaya bersama.
“Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Kota Cirebon. Mari kita jadikan Cirebon sebagai kota yang benar-benar cerdas, berbudaya, dan melek informasi,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Cirebon, Gunawan, menyampaikan bahwa Festival Literasi Kota Cirebon Tahun 2025 diselenggarakan selama lima hari, mulai tanggal 8 hingga 12 Desember 2025.
“Festival ini digelar sebagai upaya nyata untuk menumbuhkan budaya baca, meningkatkan kreativitas masyarakat, serta memperkuat ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan di Kota Cirebon,” ujarnya.
Festival tersebut dibuka secara langsung oleh Wali Kota Cirebon, Effendi Edo dengan pemukulan gong sebagai simbolis.
Untuk memeriahkan acara selama pelaksanaan Festival, ada beberapa kegiatan seperti gelar wicara, lomba membaca nyaring bunda literasi, parade band, bedah naskah kuno, diskusi buku, donor darah, sharing with psikologi, lomba mewarnai tingkat TK dan SD, pameran buku, cek kesehatan gratis, senam bersama, dan talkshow.
Festival tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber diantaranya, Maman Suherman selaku pegiat literasi dan penulis, Dini Lestari selaku penulis dan pegiat literasi, Nur Amalia selaku pendongeng, Kak Iyoes selaku psikolog anak dan remaja, serta Citra Sabrina selaku psikolog pendidikan. (Roni)

