Pendidikan

Gedung SMP Harapan Kita Memprihatinkan, Guru Bertahan dengan Honor Rp200 Ribu per Bulan

KOTA ‎CIREBON – Koranprogresif.id – Kondisi gedung SMP Harapan Kita, Kota Cirebon kini sangat memprihatinkan. Beberapa ruangan dari seluruh bangunan sudah tidak bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

‎Lokasi Sekolah tersebut terletak di Wilayah Kelurahan Lemahwungkuk Kecamatan Lemahwungkuk, Tepatnya di sekitar perempatan Lapangan kesepuhan ke arah Pasar Kanoman Kota Cirebon. Di Lokasi SMP Harapan Kita ini juga terdapat Kantor UPTD Pendidikan Kecamatan Lemahwungkuk dan juga PKBM Larasantang (kegiatan malam hari).

‎Kepala sekolah, Ajeng Sokawati Aningsih, menjelaskan bahwa kerusakan bangunan sudah mulai terjadi sejak masa pandemi Covid-19.

‎“Awalnya hanya bocor kecil, tapi karena lama tidak terawat dan termakan usia, kerusakan semakin parah hingga akhirnya gedung tidak bisa digunakan lagi,” ungkap Ajeng kepada media, Selasa (19/8/2025).

‎Dari pantauan media di lokasi, tercatat 5 ruang kelas tidak bisa digunakan, termasuk mushola dan kantin. Dari total sekitar 10 ruangan, hanya separuhnya yang masih bisa dipakai. Akibatnya, proses belajar mengajar terpaksa dilakukan di ruang seadanya, bahkan siswa harus berhimpitan.

‎Hngga saat ini, Sekolah ini memiliki 27 siswa dari kelas VII hingga IX, dengan dukungan 7 guru (6 perempuan dan 1 laki-laki). Para guru berlatar belakang pendidikan yang sesuai (linear). Meski begitu, honor yang mereka terima hanya sekitar Rp200 ribu per bulan.

‎“Kalau ditanya cukup atau tidak, jelas tidak. Tapi alhamdulillah sampai sekarang guru-guru kami masih bertahan, loyal, dan tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai guru,” kata Ajeng yang menjabat kepala sekolah sejak 2022.

‎Untuk memperbaiki gedung, pihak sekolah telah berupaya menyampaikan proposal bantuan ke Dinas Pendidikan. Namun, menurutnya, bantuan perbaikan sekolah sepenuhnya ditentukan oleh Kementerian. Dan hingga saat ini tidak ada tindakan lebih lanjut dari dinas maupun kementrian.

‎“Kami berharap tahun ini bisa mendapat bantuan, karena banyak sekolah yang kondisi gedungnya masih bagus tapi tetap dapat bantuan. Sedangkan sekolah kami benar-benar sudah tidak layak pakai,” tegas Ajeng.

‎Selain itu, ia juga mencoba mengajukan proposal ke perusahaan sekitar melalui program CSR, termasuk bank dan perusahaan besar di wilayah sekitar sekolah.

‎Ajeng pun berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan soal kesejahteraan guru yang bertugas di sekolah tersebut.

‎“Mudah-mudahan ke depan ada lebih banyak program yang berpihak pada guru. Guru itu bukan sekadar profesi, tapi panggilan jiwa. Jadi jangan sampai dianggap sebagai beban negara,” pungkasnya. (Roni)

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock