Hidup Yatim Piatu, Ayunda Putri Maulidya Tetap Berprestasi dan Kejar Cita-Cita Jadi Guru

CIREBON – Koranprogresif.id – Di tengah keterbatasan ekonomi dan kehilangan kedua orang tua, semangat belajar tak surut ditunjukkan Ayunda Putri Maulidya, siswi kelas VII SMP Negeri 2 Sumber, Kabupaten Cirebon.
Ayunda, yang kini tinggal di Blok Karang Bawang, Kelurahan Kemantren, Kecamatan Sumber, harus menjalani kehidupan sehari-hari dengan sangat sederhana yang hanya mengandalkan penghasilan sang kakak.
”Kelas VII di SMPN 2 Sumber,” ujarnya singkat, (29/4/2026).
Sejak orang tuanya meninggal, Ia mengaku perjalanan hidupnya berubah. Ibunya meninggal dunia pada tahun 2014, sementara ayahnya menyusul berpulang pada tahun lalu.
”Kalau mama meninggal tahun 2014, kalau ayah tahun kemarin,” katanya.
Meski hidup serba terbatas, Ayunda tetap tegar dalam menjalani hidup. Ia mengaku sering merasa sedih melihat teman-teman yang masih memiliki orang tua.
“Ya, sedih aja. Soalnya orang lain masih punya orang tua, sedangkan aku nggak ada,” ujar Ayunda dengan suara lirih.
Meski kerap merasa minder karena kondisi keluarga, Ayunda berusaha untuk tetap kuat dan ikhlas menjalani hidup.
“Kadang ikhlas aja, walaupun suka sedih juga,” ungkapnya.
Untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolah, Ayunda mengandalkan kakaknya yang memberinya uang sekitar Rp35.000 per hari untuk kebutuhan di sekolah dan dirumah.
”Paling banyak Rp35.000 sehari. Rp20.000 buat disekolah dan sisanya untuk kebutuhan di rumah,” jelasnya.
Meski hidup dalam keterbatasan, Ayunda tetap menunjukkan prestasi membanggakan. Saat masih di bangku sekolah dasar di SDN 2 Kemantren, ia berhasil meraih peringkat 7. Kini, di SMP Negeri 2 Sumber, prestasinya meningkat menjadi peringkat 4 di kelas. Disekolah, Ayunda juga aktif mengikuti kegiatan PMR.
”Waktu SD saya dapat peringkat 7, Alhamdulillah sekarang rangking 4,” katanya.
Ia mengaku menyukai beberapa mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris dan IPA. Jika menemui kesulitan dalam pelajaran, Ayunda berusaha mempelajarinya kembali secara mandiri di rumah. Ke depan Ayunda bercita-cita ingin menjadi guru.
“Kalau nggak ngerti, nanti dipelajarin lagi di rumah, kalau cita-cita maunya jadi kaya guru” ujarnya.
Untuk melanjutkan sekolah, Ia berharap dapat melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Sumber.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 2 Sumber, Kemas Muhammad Saleh, menyampaikan bahwa pihak sekolah berkomitmen untuk membantu Ayunda agar tetap bisa melanjutkan pendidikan.
“Saya selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Sumber akan sekuat tenaga membantu, Tahun ini Ayunda sudah masuk dalam daftar Program Indonesia Pintar (PIP). Itu sebagai salah satu upaya membantu permasalahannya,” ujarnya.
Ia menegaskan, sekolah tidak hanya fokus pada bantuan finansial, tetapi juga memastikan masa depan Ayunda tetap terarah.
“Anak ini tetap dikawal masa depannya. Beliau ingin melanjutkan sekolah di SMA, sehingga dengan program wajib belajar, jangan sampai anak putus sekolah,” katanya.
Menurutnya, sinergi antara sekolah, pemerintah, dan media sangat penting dalam mengatasi persoalan pendidikan, terutama bagi siswa dengan kondisi ekonomi sulit.
“Ini adalah program yang harus kita sukseskan bersama, bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon,” tegasnya.
Ia juga menyebut, saat ini jumlah siswa di SMPN 2 Sumber mencapai sekitar 906 orang dengan 27 rombongan belajar.
Dari pihak keluarga, paman Ayunda, Iwan, mengaku sering merasa miris melihat kondisi keponakannya tersebut.
“Sering saya tanya, kenapa melamun? Sudah makan belum? Saya melihatnya miris kalau lihat dia melamun,” ujarnya.
Ia juga kerap membantu Ayunda, mulai dari mengantar ke sekolah hingga membelikan perlengkapan belajar.
“Saya juga kadang membelikan buku tulis atau buku pelajaran lainnya,” ungkapnya.
Kisah Ayunda menjadi potret nyata bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih cita-cita. Dukungan berbagai pihak diharapkan mampu menjaga semangatnya agar terus melangkah menuju masa depan yang lebih baik. (Roni)










