Ketika Langit Enggan Meneteskan Air: Belajar dari Hausnya Tanah Kita

Oleh: M.R. Mualimin
YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Sore itu di sudut Kulonprogo, Mbah Sumi duduk menatap sawahnya yang pecah-pecah menyerupai retakan piring tua. Sumur di belakang rumahnya yang biasanya melimpah kini hanya menyisa pasir basah. Senyumnya muram, pasrah menyadari bahwa tak ada bulir padi yang bisa dipanen musim ini. Pemandangan pilu ini bukan sekadar cerita fiktif, melainkan potret nyata ribuan petani kita di lapangan yang menjerit akibat hantaman El Niño.
Phenomena El Niño kali ini terasa jauh lebih menyengat. Gelombang panas dan kekeringan panjang bukan lagi sekadar isu cuaca di televisi, melainkan ancaman nyata di depan mata. Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara mengalami krisis air bersih yang parah. Cadangan waduk menyusut drastis, membakar harapan para petani, dan perlahan menggerogoti isi dompet masyarakat perkotaan lewat melonjaknya harga beras serta bahan pokok.
Secara ilmiah, kekeringan ini bukan cuma takdir alam yang datang tiba-tiba. Ada benang merah antara pemanasan global dan anomali suhu permukaan laut Pasifik. Kita kerap lupa bahwa krisis ekologis ini dipacu oleh tangan manusia sendiri. Sebagaimana dijelaskan secara lugas oleh Emil Salim dalam bukunya Ratusan Bangsawan Lingkungan yang diterbitkan oleh Penerbit Kompas di Jakarta pada tahun 2010 halaman 45, pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan hanya akan melahirkan bencana ekologis yang berkepanjangan bagi rakyat kecil. Ketika hutan lindung dibabat dan daerah resapan air disulap menjadi beton, alam kehilangan kemampuannya untuk menahan napas saat kemarau tiba.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan agar tak terus-menerus menjadi korban pasrah?
Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan bantuan sosial atau operasi pasar sementara. Penanganan El Niño butuh terobosan terstruktur dan berkelanjutan. Pertama, modernisasi infrastruktur air harus digenjot—mulai dari revitalisasi embung desa hingga teknologi pemanenan air hujan (rainwater harvesting) skala rumah tangga. Kedua, edukasi alih tanam bagi petani harus didampingi secara intensif agar mereka tidak memaksakan menanam padi di lahan yang sedang merana.
Di tingkat tapak, masyarakat awam pun bisa mengambil peran kecil yang bermakna: bijak menggunakan air bersih dan mulai menghijaukan pekarangan rumah. Kekeringan memang fenomena iklim global, namun dampaknya sangat ditentukan oleh sejauh mana kita merawat bumi di sekitar kita. Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan langit dan mulai membenahi cara kita memperlakukan tanah tempat kita berpijak.***
Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.











