Opini

MEMAHAMI GAYA DAN CARA GEN-Z BELAJAR

 

Oleh: Syafi’i*)

TANGSEL || Koranprogresif.id – Memahami Gen-Z seperti memahami perempuan (istri) dalam konteks apa yang pernah disabdakan oleh Nabi SAW. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang sangat populer dikatakan bahwa perempuan (Hawwa, nenek moyang manusia) itu diciptakan dari tulang rusuk (Adam) yang bengkok. Struktur tulang rusuk memang dibuat bengkok untuk melindungi seluruh organ tubuh yang ada di dalamnya.

Penciptaan dari tulang rusuk yang “bengkok” sama sekali tidak dimaksudkan sebagai ejekan atau celaan. Akan tetapi, ungkapan tersebut sebagai penggambaran sifat wanita yang lembut, sensitif, dan berbeda dengan laki-laki yang cenderung keras dan kaku. Oleh karena itu, jika laki-laki memperlakukannya dengan paksa dia akan “patah”.

Sebaliknya, jika dia membiarkannya maka tulang rusuk akan terus bengkok mengikuti struktur asalnya. Maka, yang diperlukan adalah membimbingnya dengan memahami karakternya.

*Demikianlah memahami Gen-Z*

Mereka tidak dapat dipaksa agar mengikuti cara belajar Gen-X yang mandiri, tangguh, tidak mudah menyerah dan otomodidak. Mereka tidak kuat membaca berlama-lama. Mereka lebih menyukai menonton video 1 menit, infografis, podcast, atau TikTok edukasi. Mereka sangat mandiri mencari tutorial. Mereka baru bertanya kepada dosen, jika dirasa sudah tidak menemukan jawaban atas ketidaktauannya. Mereka belajar yang menurutnya memiliki nilai tambah untuk kehidupannya. Jika tidak, maka motivasinya drop.

*Gen-Z dalam Angka*

Gen-Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1997 sampai dengan 2012. Mereka lahir di era internet sudah matang, smartphone, dan akses informasi cepat. Berikut tabel jumlah penduduk Indonesia berdasarkan kelompok generasi.

Dengan memperhatikan data kelompok usia di atas, dan usia mahasiswa di kisaran antara 18 – 25 tahun, maka dapat dikatakan bahwa mahasiswa (Program Diploma dan Sarjana) sekarang sepenuhnya diisi oleh Gen-Z. Boleh jadi ada mahasiswa yang berusia di atas 28 tahun (biasanya mereka yang kuliah sambil bekerja), tetapi jumlahnya tidak signifikan. Jumlah mahasiswa Indonesia (Program Diploma atau Sarjana) sebanyak 9.185.334. Kemdiktisaintek (Statistik PDDikti 2025) tidak memilah mahasiswa yang berusia 18-25 tahun atau yang melampaui 25 tahun.

Dengan memperhatikan jumlah penduduk Indonesia yang berusia 18-25 tahun sebanyak 35.500.000, maka dapat dikatakan bahwa angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia sebesar 25,87%, yang diperoleh dari hasil pembagian jumlah mahasiswa (Diploma dan Sarjana) dengan jumlah penduduk berusia 18-25 tahun. Jika mahasiswa yang berusia di atas 25 tahun dikeluarkan dari angka komulatif, maka persentase penduduk usia 18-25 tahun yang mengikuti pendidikan tinggi jumlahnya lebih kecil lagi. Inilah yang dinamakan angka partisipasi murni (APM).

*Cara Belajar Gen-Z*

Mengamati cara Gen-Z belajar—terutama di ruang kuliah—tampak ada dua arus besar yang sama-sama terasa: (1) perubahan media dan ritme akses informasi, dan (2) kebutuhan psikologis yang tetap berakar pada motif manusia. Jadi, yang berubah bukan “otak generasi”, melainkan ekologi belajarnya: cara mereka mencari makna, menguji informasi, dan membangun hubungan belajar.

Dari kacamata psikologi kognitif, Gen-Z tampak mengandalkan proses belajar yang cepat, berbasis contoh, dan sering terjadi dalam format serba-multimedia. Mayer (2009) menunjukkan bahwa pembelajaran dengan materi yang tepat (misalnya gambar+teks) bisa meningkatkan pemahaman, tetapi tetap mensyaratkan desain supaya tidak membebani kerja memori (cognitive system) mahasiswa. Karena itu, gaya “scroll cepat” bisa efektif untuk eksplorasi awal, tetapi berisiko untuk pemahaman mendalam jika dosen memberi beban informasi tanpa struktur. Kekhawatiran ini sejalan dengan Carr (2010) yang menggambarkan bagaimana kebiasaan konsumsi digital dapat menggeser perhatian dan kedalaman fokus pembacaan.

Namun, ilmu pendidikan mengingatkan kita agar tidak jatuh pada mitos “digital natives otomatis lebih pandai belajar”. Kirschner & De Bruyckere (2017) menegaskan bahwa stereotip generasi—misalnya anggapan mereka pasti lebih baik dalam belajar—sering tidak didukung bukti kuat; yang menentukan kualitas belajar tetap strategi, instruksi, dan latihan. Artinya, cara Gen-Z belajar bisa “cepat”, tetapi tidak otomatis “benar” untuk semua tujuan akademik.

Dari psikologi motivasi, Gen-Z di kampus sering merespons kuat pada otonomi, keterkaitan (relatedness), dan rasa kompeten. Teori Self-Determination menekankan bahwa motivasi intrinsik tumbuh ketika kebutuhan-kebutuhan itu dipenuhi, bukan sekadar karena teknologi hadir (Deci & Ryan, 1985). Maka, ketika interaksi dosen berhenti pada ceramah satu arah, energi belajar Gen-Z mudah turun—bukan karena mereka “berbeda biologis”, melainkan karena desain pengajaran gagal memberi pemantik otonomi dan umpan balik.

Secara sosial, cara Gen-Z membangun pengetahuan juga dipengaruhi budaya jejaring. Boyd (2014) menunjukkan bahwa remaja (dan pola yang berlanjut sampai mahasiswa) memaknai relasi, reputasi, dan konteks sosial dalam lingkungan online. Dalam konteks perkuliahan, ini berarti diskusi, komentar, dan umpan balik sosial dapat mempercepat keterlibatan—asal diarahkan menjadi dialog akademik, bukan sekadar reaksi cepat.

Dari sisi teknologi, banyak program belajar digital meniru karakter “interaktif” dan “game-like”. Prensky (2001) mempopulerkan gagasan bahwa pembelajaran berbasis teknologi dapat memotivasi melalui cara penyajian yang lebih engage. Tetapi teknologi hanyalah medium; tanpa struktur pedagogis, interaktivitas bisa berubah menjadi distraksi.

*Memahami dan Membangun Makna*

Lalu bagaimana dampaknya terhadap interaksi dosen–mahasiswa? Terdapat pola yang cukup konsisten: mahasiswa Gen-Z cenderung ingin makna yang segera relevan, jalur akses cepat ke sumber, dan ruang untuk menunjukkan pemahaman lewat format yang variatif. Jika dosen hanya menuntut “dengar lalu catat”, mereka bisa tampak pasif namun sebenarnya sedang memproses secara “bercabang” dan mencari validasi di luar kelas. Jika dosen sebaliknya membuka dialog berbasis tujuan yang jelas, mereka cenderung lebih responsif dan berani mencoba.

Apa yang sebaiknya dilakukan dosen agar pembelajaran efektif? Pertama, buat struktur kognitif yang eksplisit: rangkum tujuan tiap sesi, petakan alur dari konsep ke contoh, dan jelaskan “mengapa” sebelum “apa”. Kedua, desain materi multimedia secara sengaja agar tidak menimbulkan beban yang tidak perlu (Mayer, 2009). Ketiga, gunakan umpan balik yang cepat dan berorientasi kompetensi untuk menumbuhkan motivasi intrinsik (Deci & Ryan, 1985).

Para ahli memandang “passion” Gen-Z cenderung berangkat dari kebutuhan akan makna, otonomi, dan perkembangan diri, bukan sekadar mengejar stabilitas. Twenge (2017), yang dalam mengklasifikasi Gen-Z lebih maju dua tahun dibanding dengan ahli yang lain, menjelaskan bahwa generasi iGen/Gen-Z lebih sering menilai kerja yang sesuai preferensi pribadi serta lingkungan yang mendukung kesejahteraan. Sejalan dengan itu, McCrindle (2014) menekankan bahwa Gen-Z tumbuh dengan paparan teknologi dan cenderung menuntut relevansi, kesempatan belajar, serta cara kerja yang fleksibel.

Dalam hal motivasi intrinsik, Pink (2009) menyoroti bahwa performa terbaik lahir ketika individu diberi otonomi, tujuan (purpose), dan penguasaan (mastery)—komponen yang sering terbaca sebagai “passion” Gen-Z dalam pilihan bidang kerja yang mereka tekuni.

Sementara itu, terhadap dunia kerja masa kini, Schwab (2016) menjelaskan bahwa revolusi industri keempat mendorong perubahan cepat lewat otomatisasi dan digitalisasi, sehingga pekerjaan semakin menuntut kompetensi adaptif serta pembelajaran berkelanjutan. Karena itu, para ahli sering menilai Gen-Z memilih bidang yang memungkinkan mereka membangun portofolio keterampilan (misalnya lewat proyek, wirausaha digital, atau karier lintas fungsi) ketimbang karier linier tunggal.

Namun, pendekatan “bangun passion dulu” juga dikritisi oleh Newport (2012): ia menekankan bahwa keahlian dan minat biasanya tumbuh setelah seseorang konsisten berlatih dan membangun nilai kerja (“interest as a by product”). Dengan begitu, passion Gen-Z dipahami lebih sebagai hasil dari pengalaman dan pembentukan kompetensi dalam ekosistem kerja yang sedang berubah. Pada akhirnya, kita membersamai Gen-Z untuk membantu mengantarkan mereka menemukan nilai yang bermakna baginya, bukan untuk membawa mereka menyesuaikan dengan dunia kita. Wallahu a’lamu bi al-shawab. ***

*)Penulis adalah peminat masalah sosial kemasyarakatan dan keagamaan

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock