Opini

Memperkokoh Barisan Jamaah Tuk Meraih Kemenangan

Oleh: Diki Candra Purnama (Ketua Majelis Gaza)

 

JAKARTA || Koranprogresif.id – Sejarah Islam berulang pada satu pola yang tak pernah meleset: kemenangan besar selalu lahir dari barisan yang benar-benar hidup bersama, bukan dari kerumunan digital yang hanya akrab di kolom komentar. Sunatullah ini sederhana tetapi berat: Allah menolong _ṣaffan_—barisan rapi, terlatih, dan menyatu hatinya. Maka klaim “berjuang untuk akhir zaman” yang hanya dibangun di atas grup WhatsApp atau channel Telegram, tanpa perjumpaan fisik dan tarbiyah panjang, patut diuji ulang keseriusannya.

 

Al-Qur’an sudah memberi rambu jelas. _“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka bangunan yang kokoh.”_ (QS. Ash-Shaff: 4). Al-Qurthubi menegaskan: yang ditolong Allah adalah barisan yang terdidik dan teratur. Logikanya masuk akal. Bangunan kokoh tidak berdiri dari batu-batu yang berserakan, apalagi hanya saling menyapa lewat pesan suara. Ia disusun, direkat, diuji tekanannya bersama-sama.

 

Lihat Ashabul Kahfi. Mereka tidak menyelamatkan iman dengan membuat grup diskusi dari gua berbeda. Mereka berkumpul, bermusyawarah, lalu beruzlah bersama. Setelah kebersamaan itu terbentuk, Allah tambahkan petunjuk dan menjaga mereka 309 tahun. Ibn Katsir menyebut kuncinya: _ijtima‘_ dalam iman. Jadi urutannya jelas—kumpul dulu, bina diri bersama, baru pertolongan turun. Bukan sebaliknya.

 

Sirah Nabawiyah mengonfirmasi pola yang sama. Tiga belas tahun Darul Arqam, sembilan tahun Masjid Nabawi. Para sahabat makan bersama, tidur bersama, belajar dan berjihad bersama. Islam tegak di atas pundak sekelompok kecil yang saling mengenal secara mendalam, bukan dari massa yang hanya mendengar ceramah dari kejauhan. Bahkan perpecahan pasca-Nabi sering kali sumbernya orang berilmu yang merasa lebih berilmu, tetapi tidak berada dalam jamaah yang kuat dan terbina.

 

Pola ini konsisten di setiap episode kemenangan: Thalut menyeleksi 313 orang yang sabar dan berjalan bersama, bukan kerumunan yang ramai di pasar. Badar dimenangkan 313 sahabat yang dibina di Makkah dan Madinah, diperintah berbaris rapi, bukan relawan yang datang hari H. Salahuddin al-Ayyubi merebut Al-Quds 1187 M setelah membangun madrasah tarbiyah—pasukannya dilatih akhlak, tilawah, puasa, qiyam. Ibn Atsir mencatat: yang menang bukan jumlah, tapi hati yang satu dan terdidik. Thariq bin Ziyad menaklukkan Andalusia setelah 3 bulan pasukannya hidup bersama, menyucikan hati hingga “seperti satu tubuh”.

 

Karena itu, tafsir bahwa pembantu al-Mahdi cukup berupa “komunitas maya” bertentangan dengan sunatullah. Hadits menyebut _jamā‘ah_ dari Timur, bukan _atsarān ‘alā al-internet_. Ali bin Abi Thalib meriwayatkan al-Mahdi dibaiat oleh orang-orang saleh yang “telah dikenal satu sama lain”. Dikenal di sini bukan _mutual_ di medsos. Dikenal artinya pernah diuji bersama, tahu karakter saat lapar, saat marah, saat diberi amanah. Hati seperti besi tidak ditempa dari kuota internet, tapi dari tarbiyah panjang dan panggilan Allah yang sama, termasuk lewat mubasyirat yang mendorong mereka berkumpul secara fisik.

 

Realitas pahitnya: banyak gerakan Islam kontemporer yang mendunia tumbang justru karena mengandalkan dalil dan orang pintar, tanpa pembinaan jamaah yang menyatu dan tanpa bimbingan petunjuk. Mereka kuat di panggung, rapuh di barisan. Ketika ujian datang, tidak ada _ṣaff_ yang bisa menahan guncangan, karena memang tidak pernah dibangun. Maka QS. Fathir: 43 menjadi pengingat keras: _“Engkau tidak akan menemukan perubahan pada sunnah Allah.”_ Pola kemenangan umat terdahulu akan berulang pada umat sesudahnya. Tidak ada jalan pintas digital.

 

Kesimpulannya tegas: pejuang akhir zaman, termasuk pembantu utama al-Mahdi, harus lahir dari jamaah inti yang terbina, teruji, dan bertatap muka. Tujuh syaratnya tak bisa ditawar: pembentukan _ashabus-saf_, tarbiyah panjang bersama, satu hati satu tujuan, perjumpaan fisik, tazkiyah, adab-akhlak yang kokoh, dan kepemimpinan yang sah di mata Allah. Grup sosmed boleh jadi pintu kenal, tapi tidak akan pernah menggantikan _ṣaff_. Sebab sejarah tidak pernah mencatat perubahan besar yang digerakkan oleh orang-orang yang hanya bertemu di kolom chat. ***

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock