Menembus Benteng Konsumtif: Langkah Kaisar Abu Hanifah di STAI Yogyakarta Wonosari

YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Udara hangat Selasa pagi, 22 September 2026, menyelimuti Aula Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAI Yogyakarta. Jarum jam tepat menunjuk pukul 10.00 WIB ketika riuh rendah ratusan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan mendadak reda. Di depan ruangan, berdiri Kaisar Abu Hanifah, S.Fil.I., anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKB, yang bersiap menyampaikan orasi ilmiahnya dalam Stadium General.
Sebagai orator tunggal hari itu, Kaisar tidak membawa paparan kaku penuh angka statistik. Ia langsung menembak jantung persoalan generasi muda hari ini: jebakan menjadi penonton di ranah digital.
“Kita ini terlalu lama nyaman jadi pasar. Tiap hari jempol kita bergulir di layar ponsel, membeli barang buatan orang lain, sementara potensi ekonomi umat menguap begitu saja,” ujar Kaisar di hadapan audiens yang memadati ruangan.
Melalui tema Membangun Kemandirian Ekonomi Umat di Era Digital: Dari Konsumen Menjadi Produsen, Dari Pasar Menjadi Penggerak, Kaisar menegaskan pentingnya pergeseran pola pikir. Menurutnya, era digital bukan sekadar tempat menghabiskan uang untuk gaya hidup, melainkan medan pertempuran baru untuk mencetak kemandirian finansial. Kampus berbasis keagamaan seperti STAI Yogyakarta, lanjutnya, harus mampu melahirkan inovator yang mengubah peta kekuatan ekonomi dari akar rumput.
Jalannya diskusi berlangsung hidup di bawah kendali moderator Gufron Masduki, S.H.I., M.H., dosen STAI Yogyakarta. Dengan gaya khasnya yang lugas, Gufron menjembatani gagasan politisi muda PKB tersebut dengan realitas akademik kampus. Isu-isu riil—seperti sulitnya pemodalan usaha mikronya mahasiswa hingga akses teknologi di daerah—terbahas tanpa jarak.
Para pimpinan kampus yang hadir tampak mengangguk setuju. Diskusi tidak berjalan searah; beberapa mahasiswa melontarkan pertanyaan kritis mengenai langkah konkret pemerintah dalam melindungi produk lokal dari gempuran barang impor murah di platform e-commerce.
Kaisar menekankan bahwa regulasi di DPR terus didorong untuk memihak UMKM lokal, tetapi kesiapan mental para pelaku usaha muda di daerah tetap menjadi kunci utama. “Kalau anak muda Islam hanya berhenti di posisi pembeli, kita akan selamanya didikte oleh pemegang modal besar,” tegasnya.
Rangkaian acara akademik tersebut ditutup dengan suasana khidmat. Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I., Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul yang akrab disapa Gus Rofik, melangkah ke depan untuk memimpin doa. Dalam untaian doanya, Gus Rofik menyelipkan harapan agar ikhtiar menuntut ilmu dan membangun kemandirian ekonomi ini mendapat keberkahan serta memberi dampak nyata bagi masyarakat luas.
Di luar aula, seusai acara, para mahasiswa masih tampak berkerumun mendiskusikan poin-poin yang disampaikan. Langkah kecil dari ruang kuliah di Yogyakarta ini menjadi pengingat bahwa transformasi ekonomi digital tak boleh sekadar jadi jargon, melainkan aksi nyata yang dimulai dari ruang-ruang kelas. (MRM/Red)











