Mengapa Harus Menunduk pada Isi Dompet dan Jabatan?

Oleh: M.R. Mualimin
YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Di sebuah warung kopi tepi jalan protokol, dua orang pria sedang berbincang hangat. Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berseri plat nomor instansi pemerintah berhenti di halaman. Seorang pria berjas rapi keluar dengan langkah gagah. Seketika, suasana warung berubah. Sang pemilik warung mendadak bergegas dari balik meja racik, membungkukkan badan seraya melempar senyum paling ramah yang ia miliki. Kursi terbaik langsung disiapkan, pesanan didahulukan.
Namun, selang beberapa menit, seorang pria tua bersepeda butut dengan pakaian lusuh masuk untuk membeli segelas teh hangat. Sambutan yang diterimanya sungguh bertolak belakang: sekadar anggukan dingin, bahkan diminta menunggu agak lama karena pemilik warung sibuk melayani sang tamu agung berjas rapi tadi.
Pemandangan seperti ini tentu bukan hal asing di tengah masyarakat kita. Ada dorongan mekanis dalam realitas sosial yang membuat orang begitu mudah menundukkan punggung di hadapan kekayaan dan jabatan. Fenomena ini tercermin jelas dalam pemikiran sosiolog Bourdieu dalam Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (Cambridge, Harvard University Press, 1984, hlm. 241), yang menjelaskan bahwa modal ekonomi dan modal simbolik—seperti status jabatan—memiliki daya paksa yang kuat untuk menciptakan dominasi serta kepatuhan sosial secara spontan. Orang menghormati kekayaan bukan selalu karena rasa kagum yang tulus, melainkan sering kali karena dorongan pragmatis: berharap mendapatkan remah-remah keuntungan atau setidaknya merasa aman dari jangkauan kekuasaan.
Di sisi lain, ada jenis penghormatan yang lahir dari dorongan yang sama sekali berbeda: perintah Tuhan. Dalam norma keagamaan, menghargai sesama manusia adalah sebuah kewajiban transendental yang tak memandang bobot dompet atau pangkat di pundak. Namun, dalam praktiknya di lapangan, penghormatan atas dasar keimanan ini sering kali terdistorsi. Banyak orang sibuk tampil saleh dan menghormati sesama hanya saat berada di dalam rumah ibadah, namun mendadak lupa begitu melangkah ke ruang publik. Penghormatan ritualis sering kali berhenti sebagai bentuk kepatuhan formalitas belaka, tanpa meresap menjadi kesadaran etis yang nyata.
Sebagaimana dicatat oleh Erich Fromm dalam To Have or to Be? (New York, Continuum, 1976, hlm. 68), ketika masyarakat terjebak dalam modus “memiliki” (having), martabat seorang manusia tidak lagi diukur dari kualitas kebaikan atau kesalehannya, melainkan dari apa yang ia miliki dan duduki. Akibatnya, penghormatan atas dasar perintah Tuhan sering kali kalah pamor dibandingkan penghormatan atas dasar kalkulasi materi. Penghormatan kepada pejabat memberi insentif instan yang nyata di dunia, sedangkan menghormati orang biasa atas dasar perintah Tuhan menuntut ketulusan moral yang tak selalu menghasilkan keuntungan kasat mata.
Jika kritisisme sosial ini ditarik ke permukaan, kita sadar bahwa masyarakat sedang mengidap amnesia etis. Kita mendewakan pangkat dan harta yang sifatnya sementara, seraya mengabaikan nilai kemanusiaan universal yang diajarkan agama. Selama ukuran penghormatan kita masih ditimbang dari merk mobil atau gelar jabatan, selama itu pula kita sejatinya sedang memperhamba diri pada pemujaan materi, bukan menjalankan perintah Tuhan yang memuliakan seluruh umat manusia tanpa pandang bulu.***
Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.










