Pendiri GMNI: Munculnya Aspirasi, Dapat Berdampak Menurunnya Kepercayaan Masyarakat Terhadap Pemimpin Daerah

ASPIRASI-Seluruh Ketua RT dan RW se-Kota Sukabumi menyampaikan aspirasi di Gedung DPRD Kota Sukabumi terkait “RT/RW tidak memiliki Legalitas”, dan perkembangan kepemimpinannya Ayep Zaki memasuki setahun. (Foto Dokumentasi).
SUKABUMI || Koranprogresif.id – H. Wastaran, tokoh pengamat politik, dikenal juga sebagai pendiri Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (red-GMNI) mengingatkan, munculnya Aspirasi dan protes para Ketua RT dan RW se-Kota Sukabumi yang disampaikan di Gedung DPRD Kota Sukabumi, baru-baru ini dinilai dapat berdampak pada menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat para pemimpin daerah.
Menurutnya, Kondisi politik saat ini, khususnya diwilayah hukum Kota Sukabumi, perlu menjadi perhatian seluruh pihak. “Apabila tidak ada sikap mawas diri dan introspeksi dari berbagai elemen pemerintahan maupun masyarakat, bukan tidak mungkin akan muncul gejolak politik yang lebih besar,” ucapnya kediamannya pada sejumlah awak media sosial.
“Pati jilid dua bisa saja terjadi apabila semua pihak tidak melakukan evaluasi terhadap kondisi politik yang saat ini mulai memanas,” imbuhnya.
H. Wastaran mengingatkan, perjalanan politik Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, sejak proses pencalonan hingga terpilih menjadi orang nomor satu di Kota Sukabumi, merupakan proses politik yang sarat dengan perjuangan dan pengorbanan besar dari para pendukung serta tim suksesnya.
Kata H. Wastaran, setelah satu tahun masa kepemimpinan berjalan, berbagai dinamika mulai bermunculan. Ia menyoroti adanya sejumlah pihak yang disebut memiliki peran strategis dalam pemerintahan maupun lingkaran kekuasaan yang menurutnya memunculkan berbagai persepsi di masyarakat.
Menyoroti pernyataan yang menyebut, RT dan RW tidak memiliki LEGALITAS, tegasnya, pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan memperkeruh hubungan antara pemerintah dengan unsur masyarakat yang selama ini berperan membantu jalannya pemerintahan, pungkasnya. (MYS/Agus Teguh).











