Peringatan 665 Tahun, Jejak Awal Islam di Pesisir Tanah Papua

Oleh: Muhammad Rofik Mualimin (Dosen STAI Yogyakarta/Pengasuh PP Latifah Mubarokiyah)
YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Islam masuk ke pesisir Papua Barat melalui jalur perdagangan rempah dan pengaruh kesultanan besar di Maluku. Meski belum pasti waktunya, para sejarawan menengarai Islam mengenal wilayah ini sejak abad ke-15 hingga ke-16 Masehi.
Menurut tradisi lisan, seorang mubalig dari Aceh, bernama Abdul Ghafar, tiba di wilayah Rumbati pada tahun 1360–1374, berdakwah selama lebih satu dekade dan dimakamkan di belakang masjid kampung setempat.
Teori Arab menyatakan, penyebaran Islam pertama kali dilakukan oleh Syarif Muaz al‑Qathan, atau Syekh Jubah Biru, seorang sufi dari Yaman yang tiba di Semenanjung Onin (Fakfak) pada pertengahan abad ke‑16. Ia membangun Masjid Tunasgain sekitar tahun 1587, bukti material penyebaran Islam di sana.
Lebih kuat lagi, teori melalui Kesultanan Bacan dianggap paling kredibel. Sejak abad ke‑16, Sultan Bacan memperluas pengaruhnya hingga ke Pulau Waigeo, Misool, Salawati dan Semenanjung Onin. Melalui hubungan politik dan perdagangan, tokoh-tokoh lokal kemudian memeluk Islam, menciptakan kerajaan-kerajaan kecil Islam di sana.
Selain itu, pedagang Bugis-Arab dari Banda dan Seram Timur juga ikut menyebarkan Islam ke Kabupaten Fakfak melalui trade dan khitanan, meski awalnya ditentang masyarakat lokal. Dua mubalig bernama Jainun dan Salahudin disebut ikut andil dalam penyebaran ini.
Beberapa tradisi lisan bahkan menyebut kedatangan empat orang Syekh dari Irak sejak abad ke‑2 Hijriah (abad ke‑8 Masehi), seperti Syekh Yakub, Umar, Mansyur, dan Amin, yang menyiarkan Islam di Ternate, Tidore, dan wilayah sekitarnya. Meski belum terbukti secara arkeologis, narasi ini menunjukkan hubungan panjang antara Maluku dan jalur Islam awal Nusantara.
Beberapa kerajaan Islam mulai terbentuk di Raja Ampat dan pesisir Papua Barat. Misalnya, Kerajaan Waigeo, Misool, Salawati, Fatagar yang secara kultural dan politik berafiliasi dengan Kesultanan Ternate–Tidore.
Di Salawati, legenda menyebut seorang pendiri bernama Kalewan yang menikahi mubaligah dari Cirebon, bernama Siti Hawa Farouk dan mengganti namanya menjadi Bayajid, memicu konversi massal di wilayah itu pada abad ke‑16.
Salah satu saksi bisu perjuangan Islam di Fakfak adalah Masjid Tua Patimburak, yang dibangun sekitar tahun 1870 oleh Abuhari Kilian dan menjadi saksi kekuasaan Tidore di kawasan itu.
Islam tumbuh kuat di wilayah laut karena jalur perdagangan laut dari Maluku dan Sulawesi. Sebaliknya, masyarakat pedalaman Papua tetap memelihara kebudayaan animisme hingga abad 20-an, ketika transmigrasi dan sekolah Muhammadiyah mulai masuk setelah 1933, serta terutama setelah 1962–1977 di wilayah seperti Jayawijaya dan Wamena.
Akhiran, jejak masuknya Islam ke Tanah Papua menunjukkan proses yang panjang dan multifaktorial berikut ini. Pertama, tradisi Aceh lewat Abdul Ghafar (abad ke‑14–15 M).
Kedua, dakwah sufi dari Yaman oleh Syekh Muaz al‑Qathan (abad ke‑16).
Ketiga, perluasan politik dan syiar oleh Kesultanan Bacan, Ternate, Tidore.
Keempat, dakwah melalui pedagang dari Bugis–Arab.
Kelima, peran kerajaan lokal seperti Salawati, Misool, Kaimana dan lainnya.
Meski mayoritas penduduk Papua hari ini memeluk Kristen, historiografi lokal memperkuat bahwa Islam telah hadir lebih awal di pesisir dan membentuk identitas komunitas Muslim Papuan lewat tali budaya, perkawinan, dan perdagangan lintas Nusantara. ***









