Peringati Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke-100, PCNU Kota Cirebon Gelar Rangkaian Kegiatan Sosial dan Tradisi Keilmuan

Kota Cirebon – Koranprogresif.id – Dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-100 Nahdlatul Ulama (NU), PCNU Kota Cirebon menggelar rangkaian kegiatan yang dipusatkan di Sekretariat PCNU Kota Cirebon, Jalan Arya Kemuning, Kota Cirebon, Sabtu (14/2/2026).
Rangkaian kegiatan diawali dengan senam sehat bersama pada pagi hari, yang diikuti warga Nahdliyin dan masyarakat sekitar. Acara kemudian dilanjutkan dengan donor darah, bazar sembako murah, serta seminar dengan membahas Ilmu Waris, dengan menghadirkan narasumber yakni KH. Nasuka Fakih, S.Ag, dengan pembahasan mendalam terkait hukum kewarisan dalam Islam.
Ketua PCNU Kota Cirebon, Dr. KH. Mustofa Rajid, M.Pd.I., menyampaikan bahwa peringatan 100 tahun NU kali ini merupakan momentum refleksi dan penguatan peran organisasi dalam menghadapi tantangan zaman.
“Ini 100 tahun versi Masehi. Sebelumnya, di Sidoarjo telah dilaksanakan peringatan 100 tahun versi Hijriah. Kita berharap, 100 tahun ke depan NU semakin baik, semakin kuat dalam menghadapi arus globalisasi yang begitu luas,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya menjaga tradisi-tradisi yang telah diwariskan para ulama, khususnya tradisi keilmuan. Menurutnya, ilmu-ilmu yang telah dikaji dan diwariskan harus terus digali kembali, dikembangkan, bahkan direkomendasikan kepada instansi terkait.
Salah satu fokus yang diangkat dalam kegiatan tersebut adalah penguatan pemahaman ilmu waris. Ia berharap kajian ini dapat menjadi rujukan, termasuk bagi lembaga seperti Pengadilan Agama, agar persoalan waris berjalan sesuai ketentuan yang berlaku dalam Kompilasi Hukum Islam.
“Ilmu waris ini harus berjalan sesuai dengan ketentuan yang ada, sebagaimana kompilasi hukum Islam lainnya. Harapannya, baik di Kota Cirebon maupun secara lebih luas, pemahaman ini semakin baik dan aplikatif,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya menjaga prinsip-prinsip dasar dalam ajaran Islam, seperti hifdzud din (menjaga agama), hifdzud daulah (menjaga negara), hifdzul ‘ilmi (menjaga ilmu), dan hifdzun nafs (menjaga jiwa). Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari tanggung jawab warga NU, terlebih bagi para pengurus PCNU.
“Sebagai pengurus, ada keharusan untuk menjalankan program-program yang menguatkan peran NU dalam menjaga agama, negara, ilmu, dan kemaslahatan umat,” pungkasnya.
Peringatan satu abad NU ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga momentum konsolidasi dan penguatan komitmen dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam di Kota Cirebon. (Roni)


