Perkuat Sinergi PHRI dan Pemkot Cirebon, Dorong Kunjungan Wisata dan Lama Tinggal Wisatawan

KOTA CIREBON – Koranprogresif.id – Pemerintah Kota Cirebon terus memperkuat sinergi dengan pelaku industri perhotelan dan restoran. Hal ini tercermin dalam kegiatan halal bihalal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang digelar di salah satu hotel di kawasan Jl. Cipto Mangunkusumo, Kota Cirebon, Kamis (16/4/2026).
Kepala Disbudpar Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, yang hadir mewakili Wali Kota Cirebon mengatakan, pertemuan tersebut menjadi momentum untuk melakukan diskusi ringan sekaligus evaluasi sektor perhotelan, khususnya tingkat hunian hotel.
“Berdasarkan laporan Ketua PHRI, tingkat hunian hotel di Kota Cirebon masih berada di atas rata-rata. Namun tentu kita tidak boleh cepat puas,” ujar Agus.
Ia menegaskan, ke depan PHRI tidak hanya sebagai penerima manfaat dari kunjungan wisata, tetapi juga harus berperan aktif dalam mendatangkan wisatawan ke Kota Cirebon.
“Ke depan kita dorong kolaborasi, termasuk melalui event-event bersama, agar PHRI bisa ikut berkontribusi dalam menarik kunjungan wisatawan,” tambahnya.
Selain itu, salah satu fokus yang dibahas adalah peningkatan length of stay atau lama tinggal wisatawan di Kota Cirebon. Saat ini, rata-rata lama tinggal masih berkisar 1,6 hingga 1,7 malam.
“Kita berharap dengan pengembangan kawasan Rebana, termasuk Bandara Kertajati, lama tinggal wisatawan bisa meningkat,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua PHRI Kota Cirebon, Imam Reza Hakiki, menyampaikan bahwa sinergi antara PHRI dan Disbudpar selama ini sudah berjalan cukup baik dan terus diperkuat.
“Kolaborasi dengan dinas sudah sangat baik, dan ke depan harus semakin kuat. Kita harus mencari solusi bersama, termasuk soal keterbatasan anggaran,” ujarnya.
Ia mengakui, tantangan utama sektor perhotelan dan restoran saat ini berasal dari kebijakan pemerintah pusat yang berdampak pada berkurangnya aktivitas dan pergerakan.
“Efisiensi dari pusat itu berdampak ke semua sektor, bukan hanya hotel, tapi juga restoran, UMKM, dan sektor lainnya,” katanya.
Meski demikian, pihaknya tetap optimistis industri perhotelan di Cirebon mampu bertahan. Sepanjang Januari hingga April 2026, tingkat hunian hotel berada di kisaran 40–50 persen, sementara saat momentum Lebaran mampu mencapai 80–90 persen.
PHRI juga mendorong adanya peran aktif pelaku usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang diarahkan untuk kepentingan umum.
“Kalau kota ini nyaman, jalannya bagus, trotoarnya baik, itu juga berdampak ke kami. Jadi CSR bisa diarahkan untuk hal-hal yang mendukung pariwisata,” ungkapnya.
Terkait promosi, Imam menilai bahwa Cirebon sebenarnya sudah cukup dikenal. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana menciptakan kenyamanan agar wisatawan betah dan kembali berkunjung.
“Semua orang sudah tahu Cirebon. Tinggal bagaimana kita membuat mereka nyaman dan ingin kembali lagi,” pungkasnya. (Roni)










