Rahmat Gobel: Pernyataan Bahlil Bentuk Keterbukaan Pemerintah Kepada Masyarakat

JATIM || Koranprogresif.id – Anggota Komisi VI DPR RI, Rahmat Gobel menilai, pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadahlia terkait stok BBM (bahan bakar minyak) dalam negeri hanya untuk 21 hari, merupakan sebuah bentuk keterbukaan dari pemerintah akan kondisi cadangan energi nasional.
Hal itu menurutnya, sangat penting untuk membangun kepercayaan public, sekaligus moment pembelajaran bagi Pemerintah dan Masyarakat.
“Kita harus terbuka kepada masyarakat mengenai kondisi yang ada. Di saat yang sama, masyarakat juga perlu diajak untuk menyikapi situasi ini dengan bijak, misalnya dengan mulai berhemat dalam penggunaan energi,” ujar Gobel saat kunjungan kerja reses Komisi VI DPR ke Jawa Timur, Jum’at (6/3).
Dijelaskan Politisi dari Fraksi Partai Nasdem ini, konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran, Israel dan Amerika Serikat, memunculkan berbagai kekhawatiran terkait stabilitas pasokan energi global, baik minyak, gas, maupun listrik.
Namun hal ini menjadi momentum pembelajaran penting bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, untuk memperkuat sistem ketahanan energi nasional ke depan. Termasuk mengambil berbagai Langkah strategis lainnya untuk mensiasati kondisi yang ada.
“Yang paling penting menurut saya adalah pemerintah, termasuk PLN dan Pertamina, harus mengambil langkah strategis. Ini menjadi pengalaman penting bagi kita untuk melihat apa yang masih kurang dan apa pekerjaan rumah yang harus segera kita selesaikan,” tegasnya.
Percepatan investasi di sektor energi contohnya, khususnya pada sektor pengolahan energi seperti kilang (refinery) dan pengembangan energi baru terbarukan. Gobel menilai, pemerintah perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif agar berbagai proyek strategis di sektor energi dapat berjalan lebih cepat.
Sedangkan untuk Masyarakat sendiri, selain harus lebih bijak dan menghemat dalam penggunaan energi, Gobel berharap, masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying BBM. Sikap demikian menurutnya justru akan memperburuk kondisi yang ada. Dan yang harus diingat bahwa kondisi tersebut terjadi jika kita tidak memproduksi BBM lagi.
Padahal menurut salah satu Direktur PT. Pertamina yang hadir dalam pertemuan tersebut, kilang di Indonesia masih terus memproduksi minyak. Jadi tentu cadangan atau stok BBM kita bisa lebih panjang dari yang diungkapkan Menteri Bahlil sebelumnya.
“Dalam hal ini, perlu edukasi tidak hanya dari pemerintah, namun juga seluruh elemen bangsa kepada Masyarakat untuk tidak panic buying dengan melakukan pembelian berlebih atau bahkan penimbunan BBM yang justru akan memperparah kondisi di lapangan. Sekali lagi ini pembelajaran bagi kita semua. Sebagai negara besar, kita harus memperkuat sistem energi kita agar lebih tangguh dan tidak mudah terpengaruh oleh dinamika global,” tegasnya. (Ayu).







