Rusia dan Tiongkok Dibalik Perang Iran vs AS

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019)
JAKARTA || Koranprogresif.id – Jika Iran memperoleh kemenangan psikologis, Rusia memperoleh keuntungan strategis. Moskow memahami bahwa dalam politik internasional, terkadang hasil terbaik justru diperoleh bukan dengan ikut bertempur, melainkan dengan membiarkan lawan menguras energi dan sumber dayanya sendiri.
Rusia tidak membuka front baru, tidak mengirim pasukan, dan tidak mengambil risiko berhadapan langsung dengan AS. Namun, Rusia melihat satu hal yang krusial: semakin lama AS terlibat dalam konflik Timur Tengah, semakin besar biaya politik, ekonomi, dan militer yang harus ditanggung. Akibatnya, perhatian Washington menjadi terpecah, dukungan terhadap Ukraina menghadapi tantangan, sementara Rusia memperoleh ruang strategis yang lebih besar di kawasan Eurasia.
Bagi Presiden Vladimir Putin, situasi ini memperkuat keyakinan bahwa dominasi Amerika tidak runtuh karena kekuatan lawan yang lebih besar, tetapi karena beban global yang semakin sulit dipikul sendiri.
*Tiongkok: Pemenang yang Sesungguhnya*
Apabila Rusia memperoleh keuntungan strategis, maka Tiongkok mungkin adalah pemenang yang paling tenang. Beijing tidak mengirim pasukan, tidak menempatkan kapal induk, dan tidak mengeluarkan ancaman. Akan tetapi, Tiongkok justru memperluas pengaruhnya ketika dunia sibuk memperhatikan perang.
Bagi Tiongkok, Iran mempunyai arti strategis yang sangat penting: Iran adalah pemasok energi, bagian dari konektivitas Eurasia, dan mitra penting dalam upaya mengurangi dominasi ekonomi serta finansial Barat. Selama AS berkonsentrasi pada konflik, Beijing terus memperluas penggunaan yuan dalam perdagangan internasional, memperkuat BRICS, memperluas jalur perdagangan, dan melancarkan investasi.
Tiongkok memahami bahwa persaingan global tidak selalu dimenangkan melalui peperangan. Kadang-kadang kemenangan justru diraih melalui kesabaran strategis. Dan kesabaran itulah yang selama ini menjadi kekuatan terbesar Beijing.
*BRICS dan Berakhirnya Dunia Unipolar*
Sejak berakhirnya Perang Dingin, dunia hidup dalam tatanan yang relatif unipolar dengan AS sebagai pusat kekuatan politik, ekonomi, dan militer. Namun, perkembangan beberapa tahun terakhir memperlihatkan perubahan yang cukup mendasar. BRICS tumbuh bukan hanya sebagai kelompok ekonomi, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi tunggal Barat.
Masuknya Iran ke dalam BRICS memperlihatkan bahwa negara-negara berkembang tidak lagi ingin hanya menjadi pengikut dalam sistem internasional. Mereka ingin memiliki ruang, pilihan, dan pengaruh. Bersama Rusia dan Tiongkok, Iran menjadi bagian dari narasi baru mengenai dunia yang lebih multipolar, sebuah dunia di mana tidak ada lagi satu negara yang dapat menentukan segalanya secara sepihak.
*Amerika Serikat: Masih Sangat Kuat, tetapi Tidak Lagi Mutlak*
Harus diakui secara objektif, AS masih merupakan negara paling kuat di dunia. Teknologi militernya belum tertandingi, universitasnya masih menjadi pusat inovasi, ekonominya tetap menjadi salah satu yang terbesar, dan dolar AS masih mendominasi sistem keuangan internasional.
Namun, terdapat satu persoalan yang semakin nyata: kekuatan AS masih sangat besar, tetapi kemampuannya untuk membuat negara lain mengikuti kehendaknya tidak lagi sebesar dahulu. Semakin banyak negara memilih bersikap independen. Arab Saudi menjalin hubungan dengan Tiongkok; India bekerja sama dengan AS tetapi tetap mempertahankan hubungan dengan Rusia; negara-negara ASEAN juga memilih strategi keseimbangan. Dunia tidak lagi berpikir secara hitam dan putih, melainkan mulai bergerak menuju keseimbangan baru. Dan itulah tantangan terbesar AS pada abad ke-21.
*Indonesia dan Politik Bebas Aktif di Tengah Pergeseran Dunia*
Bagi Indonesia, perubahan geopolitik ini harus dipahami secara cermat. Indonesia tidak boleh terjebak pada euforia terhadap kemunduran satu kekuatan ataupun kebangkitan kekuatan lain. Politik luar negeri bebas aktif tetap menjadi pilihan yang paling relevan.
Indonesia harus menjaga hubungan strategis dengan AS, memperluas kerja sama ekonomi dengan Tiongkok, serta meningkatkan kerja sama pertahanan dengan berbagai negara. Pada saat yang sama, Indonesia harus memperkuat fondasi kekuatan nasionalnya sendiri. Karena pada akhirnya, dalam dunia multipolar, negara yang dihormati bukanlah negara yang paling keras bersuara, melainkan negara yang memiliki ketahanan ekonomi, kekuatan teknologi, kemandirian pangan, keamanan energi, dan pertahanan yang tangguh.
*Penutup*
Iran mungkin tidak mengubah peta dunia, tetapi Iran telah mengubah cara dunia memandang Amerika. Rusia membaca perubahan itu sebagai peluang, Tiongkok menjadikannya strategi, sementara AS menghadapi kenyataan bahwa dominasi global bukanlah hak yang berlaku selamanya.
Tidak ada imperium yang abadi. Romawi pernah berjaya, Imperium Ottoman pernah menguasai tiga benua, dan Inggris pernah menyebut dirinya sebagai negeri tempat matahari tidak pernah tenggelam. Namun, sejarah mengajarkan satu pelajaran penting: kekuatan besar jarang runtuh karena musuhnya menjadi terlalu kuat; mereka runtuh karena gagal menyadari bahwa dunia telah berubah.
Hari ini, AS belum runtuh. Tetapi dunia sedang berubah. Rusia sedang mempersiapkan dirinya, Tiongkok sedang memperluas pengaruhnya, BRICS sedang membangun alternatif, dan Iran dengan segala keterbatasannya telah menunjukkan bahwa kekuatan terbesar di dunia pun tidak selalu mampu memaksakan kehendaknya. Mungkin inilah pelajaran geopolitik paling penting dari konflik Iran tahun 2026: bahwa abad ke-21 bukan lagi tentang siapa yang paling kuat, melainkan tentang siapa yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan tatanan dunia yang sedang lahir. ***









