Opini

Satu Matan, Seribu Jalan: Ketika Hadis Tak Lagi Dijelaskan Lewat Menghapal

 

Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.

YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Suatu sore di sudut perpustakaan kampus, seorang mahasiswa mengernyitkan dahi di depan kitab tebal berdebu. Matanya menelusuri rentetan nama perawi—dari Fulan dari Fulan—lalu membaca matan (teks hadis) yang terasa begitu berjarak dengan realitas linimasa X (Twitter) di ponselnya. “Mengapa hadis ini rasanya kaku sekali ya, Kak?” tanyanya polos.

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menonjok tepat di jantung problematika pendidikan Islam modern: bagaimana cara kita mengajarkan hadis hari ini?

Sekian lama, metodologi pembelajaran hadis di banyak institusi terjebak dalam pendekatan dogmatis-tekstual. Siswa dituntut menghapal sanad (rantai periwayatan hadis) dan matan (teks hadis), menghapal nama-nama perawi, lalu menyimpulkan hukum secara mekanis. Padahal, hadis bukan sekadar artefak hukum yang terisolasi dari ruang dan waktu; ia adalah rekaman dialog hidup antara Nabi Muhammad SAW dengan peradaban abad ke-7.

Di sinilah analisis kritis-ilmiah menjadi kruisal. Pendekatan pembelajaran hadis memerlukan paradigma baru yang tidak hanya berbasis al-hafizh (hapalan), tetapi al-fahm (pemahaman kontekstual). Syuhudi Ismail dalam bukunya Cara Praktis Mencari Hadis (1991: 45) mengingatkan bahwa memahami hadis tanpa melacak asbabul wurud (latar belakang historis munculnya hadis) sama saja dengan melepaskan teks dari nyawanya. Ketika teks dilepaskan dari konteks, yang lahir adalah pemahaman yang kaku, bahkan rawan disalahgunakan untuk melegitimasi sikap intoleran.

Secara metodologis, setidaknya ada dua pendekatan kontemporer yang harus diintegrasikan ke dalam ruang kelas atau pesantren berikut ini.

Pertama, pendekatan hermeneutik-historis: pembelajaran hadis tidak berhenti pada kriteria shahih (valid) atau dha’if (lemah) secara tekstual. Pendidik perlu mengajak santri atau mahasiswa membedakan mana sabda Nabi yang bersifat universal (berlaku sepanjang masa) dan mana yang bersifat lokal-temporal (terikat budaya Arab abad ke-7). Muhammad Al-Ghazali dalam Sunnah Nabawiyah antara Ahli Fiqih dan Ahli Hadis (1993: 112) mengkritik keras fenomena pemahaman hadis secara harfiah yang mengabaikan rasionalitas serta prinsip umum Alquran.

Kedua, pendekatan Interdisipliner: hadis tentang kesehatan, sosial, hingga kepemimpinan tidak bisa lagi dibedah hanya dengan disiplin ilmu musthalah hadis. Pembelajaran masa kini wajib mengawinkan analisis hadis dengan ilmu sosiologi, antropologi, hingga sains modern.

Mengubah gaya belajar ini jelas butuh keberanian pedagogis. Kelas hadis tak boleh lagi menjadi ruang monolog yang menatap masa lalu dengan kacamata kuda. Ia harus bertransformasi menjadi laboratorium diskusi interaktif, tempat teks-teks abad ke-7 berdialog secara kritis dengan isu-isu abad ke-21—mulai dari kesetaraan gender, ekologi, hingga etika digital.

Jika pembelajaran hadis terus dipertahankan secara verbalistik dan anti-kritik, jangan salahkan generasi muda jika mereka makin merasa asing dengan warisan nabawi. Sudah saatnya kita membawa sains, sejarah, dan empati ke atas meja kajian hadis. Sebab, mengajar hadis bukan sekadar merawat sanad yang bersambung ke masa lalu, melainkan menyambungkan pesan kenabian agar tetap relevan menyapa masa depan.***

Penulis adalah:
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Dosen STAI Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,
– Ketua Yayasan Majma’ Bahrain Internasional,
– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),
– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock