Secangkir Kopi Pahit di Lantai Atas: Para Jenderal Berpangkat Terlibat Pusaran Penyadapan Istana

Oleh: M.R. Mualimin
JAKARTA || Koranprogresif id – Gedung putih beratap kubah itu tampak tenang dari luar. Lampu-lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan di lantai marmer yang mengilap. Namun, di ruang-ruang bawah tanah dan bilik-bilik steril nan kedap suara, udara terasa jauh lebih padat daripada biasanya. Di situlah sebuah cerita tentang kekuasaan, dengung frekuensi, dan klik kecil tombol record berawal.
Kabar mengejutkan berhembus kencang melampaui pagar tinggi istana. Satu jenderal bintang empat sempat terseret dalam pusaran angin, akhirnya langkah kakinya dipersilakan bergeser menuju dari kursi tersangka. Sementara itu, tiga jenderal bintang tiga dan puluhan “berbaju cokelat” lainnya harus rela menjejakkan kaki menuju ruang Propam Mabes Polri. Bukan untuk menerima tanda kehormatan, melainkan untuk duduk di kursi interogasi, menjawab rentetan pertanyaan dingin seputar suara-suara asing yang diam-diam menyelinap di antara dinding kekuasaan.
Di warung kopi pinggir jalan, percakapan warga bergeser dari harga cabai ke cerita tentang “alat penyadap seukuran kotak korek api”. Fenomena ini mengingatkan kita pada apa yang pernah diulas oleh sosiolog politik bangsa ini. Dalam kajian monumental tentang relasi kuasa dan institusi penegak hukum, sosiolog Mochtar Pabottinggi dalam karyanya Merawat Republik (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2008, hlm. 142) pernah mengingatkan bahwa ketika batas antara keamanan negara dan ambisi elite mulai kabur, institusi penegak hukum sering kali berubah menjadi arena gladiator terselubung. Siapa mengawasi siapa bukan lagi soal hukum, melainkan soal siapa yang memegang kendali atas informasi.
Penyadapan di jantung kekuasaan bukanlah sekadar urusan teknis gelombang elektromagnetik. Ini adalah drama psikologis tingkat tinggi. Dalam literatur sosiologi kekuasaan modern, perilaku elite diuji ketika mereka dihadapkan pada dilema antara loyalitas institusional dan pragmatisme kelompok. Michel Foucault, dalam karyanya Discipline and Punish: The Birth of the Prison (New York: Vintage Books, 1995, hlm. 201), menggarisbawahi bahwa pengawasan (surveillance) adalah instrumen paling efektif untuk melanggengkan dominasi. Siapa yang merekam, dialah yang mengatur alur napas penguasa. Ketika ruang privat seorang pemimpin tertinggi di negeri ini diduga bocor ke telinga yang salah, yang runtuh bukan sekadar kerahasiaan protokol, melainkan pondasi kepercayaan publik terhadap pilar-pilar keamanan negara.
Lantas, mengapa para jenderal yang selama ini memegang komando tertinggi harus berakhir di ruang Propam? Jawabannya terletak pada kerapuhan birokrasi keamanan yang kerap berjalan tanpa etika publik yang kokoh. Profesor Franz Magnis-Suseno dalam buku rujukan klasik tentang etika politik, Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Kenegaraan Modern (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2016, hlm. 88), menegaskan bahwa kekuasaan tanpa legitimasi moral akan selalu merosot menjadi konspirasi telanjang. Ketika aparat negara menggunakan instrumen intelijen untuk kepentingan di luar mandat konstitusional, mereka sedang menggali lubang bagi runtuhnya marwah institusi mereka sendiri.
Kasus ini menyadarkan kita bahwa di balik gemerlap bintang di pundak dan deretan tanda jasa, para perwira tinggi tetaplah manusia yang bisa terjebak dalam pusaran intrik. Masuknya sang jenderal bintang empat menjadi tersangka dan diamankannya tiga jenderal bintang tiga beserta “pasukan cokelat” lainnya di Mabes Polri adalah tontonan nyata bahwa hukum—betapapun lambatnya—kadang mencoba menemukan jalannya sendiri di lorong-lorong gelap kekuasaan.
Di akar rumput, rakyat kecil tidak peduli gelombang frekuensi mana yang disadap atau jenis perangkat apa yang digunakan. Yang mereka inginkan sederhana: kepastian bahwa para penjaga negeri ini bekerja untuk melindungi republik, bukan saling mengintai di balik bayang-bayang istana. Secangkir kopi di atas meja pun mendingin, menyisakan tanya yang menggantung di udara malam: sampai kapan intrik elite mengalahkan akal sehat?***
Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.











