Ragam

Segitiga Berbahaya Hormuz: Ketika AS, China dan Iran Saling Uji Kekuatan Militer Seimbang

 

Oleh: Mayjen TNI (Purn) (Fulad
Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019)

JAKARTA || Koranprogresif.id – Lereng Gunung Gede Pangrango, dingin. Sunyi. Tapi pikiran saya panas. Sebab di Selat Hormuz, suhu politik sedang mendidih. Saya akan luruskan dulu. Ini bukan lagi urusan Iran lawan AS. Itu cara berpikir usang. Kini ada China di meja terdepan. Dan mereka datang dengan kapal perang, rudal, dan kepentingan ekonomi yang tidak kecil.

*Fakta di Lapangan*

Selat Hormuz lebarnya hanya 33-50 kilometer. Setiap hari, 20 juta barel minyak dunia lewat situ. Nilainya nyaris 600 miliar dolar setahun. China mengimpor sepertiga hingga setengah minyaknya dari jalur ini. Sekitar 90 persen ekspor minyak Iran juga mengalir ke China. Maka jangan heran. Beijing tidak bisa diam.

Pada 13 April 2026, Trump memerintahkan blokade. Di atas kertas, hanya kapal yang menuju pelabuhan Iran yang dicegat. Kapal transit boleh lewat. Tapi di laut yang panas dan penuh curiga, aturan di kertas tidak pernah berjalan mulus. Kapal tanker China sudah ada yang tertahan.

Iran tidak tinggal diam. Garda Revolusi mengancam akan mencegah setiap kapal perang yang melintas. Bukan sekadar omongan. Menjelang negosiasi di Islamabad, kapal perusak AS berlayar dari Fujairah menuju Hormuz. Iran memberi peringatan lewat Pakistan: 30 menit. Balik, atau jadi sasaran. Kapal AS pun balik. Tidak ada tembakan. Tapi pesannya nyata. Iran serius.

China bergerak dari dua sisi. Di publik, mereka menyerukan ketenangan dan pembukaan jalur. Di belakang layar, mereka menekan Teheran untuk menjamin keselamatan kapal tanker China. Mereka juga cemas dengan pasokan LNG dari Qatar. Sekitar 30 persen LNG China melewati Hormuz.

Indonesia? Jangan senang dulu. Kapal tanker Pertamina juga tertahan. Menteri ESDM sendiri mengakui evakuasinya tidak mudah. Ini bukan kabar angin. Ini alarm. Peringatan bahwa posisi Indonesia di peta global sedang amburadul.

*Tiga Skenario ke Depan*

Pertama, jalan di tempat. Paling mungkin. Negosiasi gagal. Blokade berlanjut. Kapal-kapal tertentu terus tertahan. Iran terus mengancam. AS tidak mundur. China menekan dari belakang. Tidak ada perang, tapi semua orang tegang. Sebab tidak ada yang mau mundur pertama. Itu aib. Tapi semua juga sadar, perang terbuka terlalu mahal.

Kedua, eskalasi terbatas. Kemungkinan sedang. Kapal perang China mengawal tankernya memaksa lewat. Atau Iran nekat menembaki kapal AS. Maka akan ada serangan balasan. Bukan invasi. Tapi penghancuran ranjau, serangan rudal ke pos pantai Iran, tembak-menembak beberapa jam. Mantan utusan khusus AS untuk Iran bilang, blokade ini cerdas tapi berbahaya. Bahaya utamanya: apa yang terjadi jika kapal China memaksa lewat?

Ketiga, perang terbuka. Kecil kemungkinannya, tapi bukan mustahil. AS mengirim pasukan darat mengamankan fasilitas nuklir Iran. Seorang profesor dari University of Chicago menyebutnya operasi paling berbahaya sejak Perang Dunia II. Tapi saya ragu AS akan ke sana. Tekanan harga minyak yang melonjak akan membebani mereka sendiri. Rakyat AS sudah muak perang panjang.

*Lima Langkah untuk Indonesia*

Pertama, perjelas sikap. Kapal Pertamina tertahan adalah bukti. Sikap “tidak mau tahu” sudah tidak laku. Non-blok bukan berarti bungkam. Non-blok berarti punya suara sendiri. Bukan ikut-ikutan.

Kedua, kurangi ketergantungan pada satu jalur. China sudah belajar. Ketergantungan mereka pada Hormuz turun ke 33 persen. Kita harus melakukan hal yang sama. Cari sumber energi lain. Cari jalur alternatif. Jangan sampai satu selat macet, negeri ini terhenti.

Ketiga, hidupkan diplomasi di PBB. Kita pernah duduk di Dewan Keamanan. Kita punya pengalaman. Gunakan itu. Dorong resolusi yang tidak sekadar imbauan, tapi mengatur aturan main. Siapa yang salah, siapa yang benar. Jangan biarkan yang kuat selalu menang.

Keempat, manfaatkan pipa alternatif negara Teluk. Arab Saudi punya pipa ke Laut Merah. Kapasitas 5 juta barel per hari. UEA punya pipa ke Teluk Oman. Kapasitas 1,5 juta barel per hari. Kita bisa kerja sama. Ini bukan hal yang sulit jika ada kemauan.

Kelima, perkuat pertahanan siber. Perang hari ini tidak hanya di laut. Juga di dunia maya. Iran punya tim hacker andal. Mereka sudah menargetkan sektor energi dan pelabuhan. Kita harus siap. Jangan jadi korban perang orang lain.

Penutup

Dari tempat dingin ini, saya melihat Hormuz bukan lagi sekadar selat. Ia adalah panggung uji nyali tiga kekuatan besar. AS yang masih percaya diri dengan armadanya. China yang tidak mau mundur karena uang dan energinya. Iran yang sadar bahwa selat sempit ini adalah kartu mati satu-satunya.

Saya tidak tahu apakah besok atau lusa akan ada tembakan. Tapi saya tahu satu hal: ketika semua pihak merasa seimbang, yang tidak seimbang adalah kesabaran mereka. Dan kesabaran di laut yang panas itu sedang menipis.

Kita tidak bisa menghentikan persaingan mereka. Tapi kita bisa memastikan bahwa Indonesia tidak ikut tenggelam jika kapal-kapal besar itu bertabrakan. ***

*Gunung Gede Pangrango, April 2026*

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock