Situ Cipanten, Siap Kembangkan Menjadi Destinasi Wisata Ramah Difabel yang Jadi Desa EKI OJK Cirebon

Majalengka – Koranprogresif.id – Situ Cipanten di Desa Gunung Kuning, Kabupaten Majalengka, tidak hanya mencatat lonjakan kunjungan wisatawan, tetapi juga mulai dikenal sebagai destinasi yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Sejumlah fasilitas pendukung telah disiapkan agar wisatawan difabel dapat menikmati keindahan dan aktivitas wisata dengan lebih nyaman.
Direktur BUMDes Karya Mekar, Yosep Hendrawan, menyebutkan bahwa penguatan aksesibilitas menjadi salah satu prioritas pengembangan kawasan wisata Situ Cipanten pada 2025–2026.
“Kami ingin memastikan bahwa keindahan Situ Cipanten bisa dinikmati oleh semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Karena itu, kami terus menambah fasilitas yang mendukung mobilitas dan kenyamanan mereka,” ujar Yosep. (22/11/2025).
Beberapa fasilitas ramah difabel yang kini tersedia di antaranya jalur landai untuk kursi roda, pegangan tangan (handrail) di beberapa titik, area naik-turun perahu yang lebih aman, serta petugas pendamping yang telah dilatih untuk membantu wisatawan disabilitas.
Menurut Yosep, perbaikan jalur masuk menuju danau serta penataan area foto menjadi langkah penting yang berdampak langsung bagi wisatawan difabel. Selain itu, BUMDes juga menyiapkan titik prioritas layanan untuk pengunjung berkebutuhan khusus.
“Kami memiliki petugas yang khusus disiapkan untuk membantu pengunjung difabel, misalnya saat akan menuju dermaga atau ingin menikmati spot wisata tertentu,” katanya
Selain itu, pihaknya tengah menargetkan Situ Cipanten dapat mengantongi pengakuan sebagai kawasan wisata inklusif di Majalengka. Untuk itu, beberapa penguatan fasilitas tambahan sedang direncanakan, seperti, toilet khusus difabel, jalur kursi roda yang terhubung ke semua spot utama, perahu wisata yang lebih mudah diakses, serta pelatihan lanjutan bagi petugas wisata.
“Harapan kami, Situ Cipanten bukan hanya ramai, tetapi juga menjadi destinasi yang membuat semua orang merasa dihargai dan diperhatikan,” ujar Yosep.
Yosep Hendrawan, mengatakan bahwa Situ Cipanten kini menjadi sumber pendapatan utama desa. Hingga September 2025, jumlah kunjungan telah mencapai 139 ribu wisatawan mendekati total kunjungan sepanjang tahun 2024.
“Kami optimistis tahun ini bisa ditutup di angka 170 ribu bahkan 200 ribu pengunjung, melihat tren yang terus naik,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Peningkatan kunjungan juga berdampak langsung pada pendapatan BUMDes. Pada 2024, pendapatan bruto tercatat Rp2,4 miliar.
”Tahun ini, hingga September saja, angkanya sudah mencapai Rp2,5 miliar. BUMDes memasang target akhir tahun sebesar Rp3 miliar. Kontribusi terhadap pendapatan asli desa juga terus meningkat, dan kini sudah mendekati Rp566 juta,” tambahnya.
Dengan berbagai upaya tersebut, Situ Cipanten semakin memperkokoh diri sebagai destinasi wisata unggulan yang tidak hanya indah dan ramai dikunjungi, tetapi juga inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Sebagai upaya penguatan fasilitas ramah difabel ini turut diperkuat oleh Program Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Program tersebut tidak hanya fokus pada inklusi keuangan, tetapi juga mendorong desa untuk menghadirkan ekosistem wisata yang inklusif.
Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, menyatakan bahwa wisata inklusif merupakan bagian dari pembangunan ekonomi desa yang berkeadilan.
“Desa dengan potensi wisata harus memastikan bahwa manfaatnya bisa dirasakan oleh semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Situ Cipanten menjadi contoh desa yang bergerak ke arah wisata inklusif,” katanya.
Agus menambahkan bahwa perluasan akses layanan keuangan formal merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan wisata desa. Pada tahap pra-inkubasi, OJK memetakan kebutuhan 108 peserta, yang sebagian besar memerlukan tabungan, akses kredit usaha, dan layanan keuangan lainnya.
“Dengan inklusi keuangan yang lebih baik, pelaku usaha wisata dapat berkembang tanpa bergantung pada rentenir atau pinjaman ilegal,” tambahnya. (Roni)










