Trump Panik, Sekutu Eropa Membelot

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad
(Penasihat Militer RI untuk PBB, New York 2017–2019)
JAKARTA || Koranprogresif.id – Saya menulis ini di tepi Danau Situ Padengkolan. Sunyi. Air tenang. Pancing mengapung. Tapi kepala saya sedang terbang ke Timur Tengah, ke New York, ke ruang Dewan Keamanan PBB tempat saya dulu bertugas.
Di sana, satu pelajaran melekat: negara besar tidak pernah bertindak karena hati. Mereka bertindak karena hitungan. Sekarang ramai pertanyaan: benarkah Trump ogah menolong Israel?
*Benarkah ia ingin segera keluar dari perang?*
Jawaban saya: tidak. Trump tidak pergi. Tapi ia panik.
Panik, dalam bahasa militer, bukan berarti takut. Tanda panik yang paling jelas adalah ketika seseorang kehilangan konsistensi. Sikapnya berubah-ubah tanpa pola yang bisa dibaca. Dan itu yang terjadi pada Trump akhir-akhir ini.
Satu hari ia mengirim amunisi ke Israel. Lusa ia melarang Israel menyerang Iran. Lalu muncul isu bahwa ia ingin meninggalkan perang sama sekali. Bukan strategi namanya. Itu reaksi orang yang sedang terjepit.
*Apa yang Menjepit Trump?*
Dua hal. Pertama, tekanan dari rumah. Rakyat Amerika lelah. Inflasi membakar dompet. Perang di Gaza dan Ukraina terus menyedot perhatian dan dana publik. Pemilu sudah di depan mata. Trump butuh suara, bukan perang panjang yang tak jelas ujungnya.
Kedua, biaya. Utang Amerika sudah menembus 34 triliun dolar. Perang tidak pernah gratis. Setiap rudal punya harga. Setiap hari konflik memakan biaya. Dan negara adidaya pun punya batas.
Trump, apapun kekurangannya, bukan orang bodoh dalam soal uang. Ia sadar betul: perang ini mulai tidak menguntungkan.
*Yang Lebih Membuatnya Panik: Eropa Mulai Membelok*
Tapi ada satu lagi yang membuat Trump benar-benar kehilangan kesabaran. Bukan Iran. Bukan harga minyak. Tetapi sekutu-sekutunya sendiri di Eropa.
*Ini yang jarang diangkat media kita* .
Spanyol dengan tegas menutup wilayah udaranya untuk pesawat-pesawat AS yang terlibat serangan ke Iran. Bahkan Menteri Pertahanannya, Margarita Robles, menyatakan di parlemen bahwa perang ini “melanggar hukum internasional dan tidak adil”.
Italia, yang Perdana Menterinya (Giorgia Meloni) dikenal sebagai sekutu dekat Trump, justru menolak izin pendaratan pesawat militer AS di pangkalan Sigonella, Sisilia. Alasan resminya: permintaan datang mendadak. Tapi pesan politiknya jelas: kami tidak mau terlibat.
Prancis melarang pesawat yang membawa perlengkapan militer untuk Israel melewati wilayah udaranya.
Israel sampai mengeluarkan pernyataan keras mengecam Prancis dan Trump membalas dengan ancaman di media sosial: “The U.S.A. will REMEMBER!!!”.
Inggris, sekutu paling setia AS dalam sejarah modern, pun mulai menjaga jarak. Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan akan bertindak demi kepentingan nasional Inggris, apapun “kebisingan” dari Washington. Menteri Keuangannya bahkan secara terbuka mengaku “marah” karena Trump memulai perang tanpa rencana keluar yang jelas.
Jerman tetap pada posisinya: mendukung Ukraina adalah prioritas, bukan perang baru di Timur Tengah. Seorang juru bicara pemerintah Jerman dengan sinis mengatakan bahwa ancaman Trump keluar dari NATO sudah sering terjadi dan rakyat Jerman bisa menilai sendiri konsekuensinya.
NATO Retak, Trump Ancang-Ancang Keluar
Puncaknya, Trump menyebut NATO sebagai “paper tiger” macan kertas. Ia mengancam akan menarik AS dari aliansi yang menjadi pilar keamanan Barat sejak 1949.
Mengapa? Karena menurutnya, sekutu Eropa tidak mau ikut membuka blokade di Selat Hormuz. “Jika mereka ingin minyak, suruh mereka ambil sendiri,” kata Trump. “AS tidak akan lagi membantu kalian, sama seperti kalian tidak membantu kami”.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menambahkan: “Setelah konflik ini selesai, kami akan meninjau ulang hubungan dengan NATO. Jika sekutu tidak mengizinkan kami menggunakan pangkalan militer mereka saat kami butuh, lalu untuk apa kami di NATO?”.
Para pejabat Eropa, menurut laporan Politico, kini memiliki pandangan suram bahwa “NATO sudah lumpuh, mereka bahkan tidak bisa mengadakan pertemuan.” Seorang pejabat Uni Eropa mengatakan dengan blak-blakan: “Cukup jelas bahwa NATO sudah mulai hancur. Kami tidak bisa menunggu sampai mati total”.
Sebagai respons, Uni Eropa menyiapkan dana 150 miliar euro untuk memperkuat kemampuan pertahanan sendiri, sebuah skenario yang disebut “Plan B” jika AS benar-benar keluar dari NATO.
*Mengapa Ini Penting bagi Kita?*
Keengganan Eropa terlibat bukanlah kebetulan. Ini adalah kalkulasi politik yang matang. Mereka melihat perang ini sebagai “war of choice”, bukan “war of necessity” perang pilihan, bukan perang keharusan. NATO dibentuk untuk pertahanan kolektif, bukan untuk petualangan militer di Selat Hormuz yang tidak sesuai dengan hukum internasional.
Dan di sinilah letak ironi terbesar: Trump panik bukan karena kalah perang, tapi karena ditinggalkan teman-temannya sendiri.
Eropa tidak lagi mau mengikuti irama Washington. Mereka punya kepentingan sendiri. Mereka takut gelombang pengungsi baru. Mereka masih sibuk dengan Rusia di Ukraina. Dan mereka muak dengan gaya Trump yang tidak pernah berkonsultasi sebelum bertindak.
Pelajaran untuk Indonesia
Apa artinya bagi kita?
Jangan terjebak romantisme. Jangan baca konflik ini hanya dengan mata hati. Bacalah dengan kepala dingin.
Pertama, dunia sedang memasuki babak baru: tidak ada lagi satu kubu yang solid. AS dan Eropa, yang selama 80 tahun bersatu, kini retak. Ini membuka peluang sekaligus risiko bagi negara seperti Indonesia.
Kedua, stabilitas global tidak lagi bisa dijamin oleh satu kekuatan. Jika AS keluar dari NATO, jika Eropa membangun kekuatan militernya sendiri, maka peta geopolitik akan berubah drastis. China dan Rusia pasti akan memanfaatkan situasi ini.
Ketiga, Indonesia harus mengambil sikap yang cerdas. Bukan memilih kubu secara emosional, tapi membaca kepentingan nasional: stabilitas harga energi, keamanan jalur laut (Selat Hormuz dan Terusan Suez), serta posisi tawar di forum internasional.
*Penutup dari Tepi Danau*
Pancing saya masih tergantung tenang. Air Situ Padengkolan tetap teduh. Tapi dunia di luar sana sedang tidak teduh.
Trump panik, bukan peduli. Ia berubah-ubah bukan karena hatinya luluh, tapi karena anggarannya terbakar, sekutunya membelok, dan kursinya mulai goyang. Di panggung global, kebaikan hati adalah komoditas langka. Yang melimpah adalah perhitungan.
Dan saat ini, hitungannya sedang tidak berpihak pada Trump. Eropa pergi ke arahnya sendiri. NATO retak. Perang berkepanjangan. Dan Amerika, untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, benar-benar sendirian dalam sebuah peperangan besar.
Pertanyaan terakhir: apakah Indonesia akan terus menjadi penonton yang terharu-haru, atau mulai belajar membaca panggung ini apa adanya? ***
Situ Padengkolan, Sabtu 4 April 2026.











