Diplomasi di Bawah Bayangan Rudal, Ujian Perdamaian di Timur Tengah dan Risiko Perang yang Lebih Luas

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019)
JAKARTA || Koranprogresif.id – *Pendahuluan*
Di tengah udara yang masih beraraskan takbir, di saat kaum muslimin di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Adha dengan penuh suka cita, dan sebagian lainnya sedang khusyuk menjalankan ibadah haji di tanah suci, meminum air zamzam, melempar jumrah, dan memohon ampunan di padang Arafah, di saat itulah Timur Tengah kembali memperlihatkan wajah lamanya yang paling kelam.
Ketika kumandang takbir seharusnya menjadi penanda kedamaian dan persaudaraan, justru rudal meluncur. Serangan Amerika Serikat terhadap target Iran di wilayah selatan yang terjadi di tengah proses negosiasi bukanlah sekadar operasi militer biasa. Ia terjadi pada bulan-bulan suci yang penuh rahmat. Ia mengubah suasana kawasan secara instan, mencoreng harapan akan ketenangan yang seharusnya menjadi hak setiap insan yang beribadah.
Saya sengaja mengawali refleksi ini dengan nuansa keagamaan, bukan untuk menggurui, tetapi untuk mengingatkan betapa tragisnya ironi ini. Di satu sisi, manusia sedang berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Yang Maha Pengasih. Di sisi lain, sebagian manusia justru sibuk merancang kehancuran saudaranya sesama anak Adam.
Sebagai mantan Penasihat Militer RI untuk PBB, saya menyaksikan sendiri bagaimana konflik di kawasan ini tak pernah mengenal waktu suci. Namun, melihat ketegangan yang kembali memuncak tepat di hari-hari yang penuh berkah ini, hati saya terasa perih. Stabilitas energi, jalur perdagangan laut, keseimbangan geopolitik, hingga arah kebijakan negara-negara besar, semua tetap bergerak mengikuti perkembangan di lapangan, tanpa sedikit pun rasa hormat kepada nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
Karena itu, peristiwa ini tidak dapat dibaca hanya sebagai ketegangan bilateral antara Washington dan Teheran. Yang sedang diuji hari ini adalah pertanyaan mendasar yang juga sangat religius: masih adakah ruang bagi akal sehat dan hati nurani di tengah gemuruh mesin perang? Apakah diplomasi masih cukup kuat untuk menahan laju eskalasi, atau selamanya akan kalah cepat oleh rudal bahkan di bulan-bulan yang penuh ampunan?
Refleksi ini saya tulis bukan sekadar untuk mengamati, tetapi untuk mengingatkan dengan nada yang tenang namun berwibawa. Dunia, dan khususnya Indonesia sebagai negara muslim terbesar, perlu bersiap. Tidak dengan ketakutan, tetapi dengan kesadaran penuh bahwa perdamaian adalah amanat agama.
*Ketika Diplomasi Menjadi Koridor Sempit di Antara Dua Serangan*
Saya pernah duduk di meja bundar Dewan Keamanan PBB. Suasananya dingin, steril, dan penuh perhitungan. Setiap kata ditimbang, setiap kalimat diplomasi. Namun di luar tembok itu, para jenderal di lapangan bergerak dengan hitungan menit. Ironinya, diplomasi dan kekuatan militer sering berjalan di jalur yang sejajar, tetapi tidak pernah benar-benar bertemu.
Serangan di tengah negosiasi adalah bentuk klasik dari apa yang oleh para ahli strategi disebut coercive diplomacy, penggunaan kekuatan militer untuk memengaruhi kalkulasi lawan sebelum keputusan politik diambil. Thomas Schelling, peraih Nobel Ekonomi sekaligus pemikir perang dingin, menggambarkannya sebagai “the diplomacy of violence”. Strategi ini cerdas dalam teori, tetapi sangat berbahaya dalam praktik, terutama di kawasan yang penuh luka lama seperti Timur Tengah.
Iran tidak bisa diam. Diam akan dibaca sebagai kelemahan, dan kelemahan di kawasan ini adalah undangan untuk terus ditekan. Sebaliknya, respons berlebihan justru dapat membuka pintu konflik yang tak dikehendaki siapa pun. Maka yang terjadi adalah sebuah tarian berbahaya: setiap langkah dibalas dengan langkah, dan tidak ada yang berani berhenti lebih dulu.
Saya khawatir, bukan pada niat perang, tetapi pada kegagalan mengendalikan irama eskalasi itu sendiri. Apalagi ketika semua ini terjadi di bulan yang penuh rahmat. Seakan-akan mesin perang tidak pernah libur, tidak pernah menghormati waktu-waktu suci.
*Selat Hormuz: Urat Nadi Dunia yang Hanya Selebar 33 Kilometer*
Saya ingin mengajak kita sejenak melihat peta. Di ujung Teluk Persia, ada sebuah jalur air sempit bernama Selat Hormuz. Lebarnya hanya 33 kilometer pada titik tersempit. Tapi jangan tertipu oleh ukurannya.
Setiap hari, hampir 20 persen minyak dunia dan sepertiga gas alam cair melewati selat ini. Tidak ada jalur laut lain yang sepenting dan serentan itu. Jika konflik melebar hingga mengganggu lalu lintas di Hormuz baik melalui ranjau, serangan asimetris, ancaman blokade, atau bahkan hanya ketakutan pasar maka dampaknya tidak akan berhenti di Timur Tengah.
Harga minyak bisa melonjak ke angka yang belum pernah kita bayangkan. Inflasi akan merambat ke seluruh negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Subsidi energi membengkak. Nilai tukar rupiah tertekan. Dan pada akhirnya, rakyat kecil yang paling merasakan.
Seorang ekonom kawakan, Nouriel Roubini, pernah mengingatkan bahwa guncangan geopolitik di kawasan Teluk hampir selalu membawa dampak ekonomi yang lebih besar daripada radius konflik militernya. Saya setuju. Sebab dalam ekonomi global yang saling terhubung, tidak ada yang benar-benar terisolasi.
Kita di Indonesia memang tidak berada di pusat konflik. Tetapi kita juga tidak berada di luar jangkauan dampaknya. Itulah sebabnya, sebagai bangsa, kita harus membaca peristiwa ini bukan sebagai tontonan, tetapi sebagai peringatan dini terlebih di saat saudara-saudara kita sedang beribadah haji di tanah suci yang tidak terlalu jauh dari pusaran ketegangan.
*Bahaya Tersembunyi: Salah Kalkulasi di Bawah Tekanan*^
Pengalaman saya di PBB mengajarkan satu hal: ancaman terbesar dalam setiap krisis bukanlah niat jahat, melainkan kesalahan kalkulasi.
Henry Kissinger, arsitek realpolitik modern, pernah menulis dengan tajam: “Military force may create leverage, but peace requires political restraint.” Kekuatan militer bisa menciptakan pengaruh, tetapi perdamaian membutuhkan kemampuan menahan diri secara politik. Sayangnya, di Timur Tengah, kemampuan menahan diri itu sering menjadi barang langka.
Satu serangan terbatas bisa dibaca sebagai provokasi strategis.
Satu respons simbolis bisa diterjemahkan sebagai ancaman langsung.
Satu pernyataan diplomatik yang ambigu bisa dianggap sebagai ultimatum terselubung.
Dalam praktik militer modern, saya katakan bahwa musuh terberat bukanlah tentara lawan, tetapi ketidakpastian itu sendiri. Dan ketika ketidakpastian bertemu dengan tekanan waktu, lahirlah kesalahan yang tak bisa ditarik kembali.
Sejarah telah mencatat: Perang Dunia I tidak dimulai karena rencana besar, tetapi karena mobilisasi yang tak terkendali. Perang di Timur Tengah hari ini memiliki pola yang sama, hanya dengan kecepatan sepuluh kali lipat. Bayangkan, di saat jamaah haji memohon ampunan di Arafah, para jenderal dan politisi justru bermain api tanpa perhitungan yang matang. Ini bukan hanya kesalahan strategis, tetapi juga kegagalan moral.
*Langkah Konkret Dunia: Bukan Sekadar Seruan, Tapi Mekanisme*
Saya tidak percaya pada seruan kosong. “Menyerukan penahanan diri” sudah menjadi kebiasaan diplomatik yang kehilangan makna. Dunia membutuhkan tindakan struktural yang konkret, dan membutuhkannya segera.
Pertama, Dewan Keamanan PBB harus memastikan adanya jalur komunikasi darurat yang multilateral bukan hanya antara AS dan Iran, tetapi juga melibatkan Israel, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab. Karena konflik hari ini tidak lagi bilateral. Ia adalah jaringan yang setiap simpulnya bisa memicu getaran di seluruh kawasan.
Kedua, mediator kawasan seperti Qatar dan Oman perlu diberi ruang dan dukungan penuh untuk mempercepat diplomasi langsung. Mereka adalah aktor yang sering dilupakan, padahal memiliki akses yang tidak dimiliki negara besar.
Ketiga, jalur maritim strategis di Teluk harus diamankan melalui pendekatan stabilisasi, bukan provokasi tambahan. Jangan biarkan satu insiden kecil di laut membakar daratan.
Keempat, negara-negara besar harus menahan rivalitas mereka. Timur Tengah tidak boleh menjadi panggung baru bagi perang proksi antara Washington, Beijing, dan Moskow. Itu akan menjadi bencana yang tidak hanya meledakkan kawasan, tetapi juga tatanan global.
Semua langkah ini terdengar sederhana. Namun dalam praktiknya, ia membutuhkan sesuatu yang paling langka di dunia saat ini: kepercayaan dan keberanian untuk mundur. Di bulan Idul Adha, di mana semangat berkurban mengajarkan kita untuk mengorbankan egoisme demi kebaikan bersama, sudah saatnya para pemimpin dunia menunjukkan keteladanan itu.
*Langkah Strategis bagi Indonesia: Aktif, Tenang, Berwibawa*
Sebagai negara yang tidak berada di pusat konflik tetapi tidak pula kebal dari dampaknya, Indonesia harus mengambil sikap yang aktif, tenang, dan berwibawa. Tidak perlu ribut, tetapi juga tidak boleh membisu.
Saya menyampaikan beberapa rekomendasi kepada para pengambil kebijakan di Tanah Air.
Pertama, perkuat diplomasi bebas aktif. Indonesia memiliki kredibilitas yang tidak dimiliki banyak negara. Kita bisa bicara kepada Iran. Kita juga didengar oleh Arab Saudi dan negara-negara Teluk. Gunakan modal itu untuk mendorong de-eskalasi, bukan untuk mencari popularitas.
Kedua, tingkatkan kesiapan ketahanan energi nasional. Hitung skenario terburuk: jika harga minyak mencapai 150 dolar per barel, apakah APBN kita siap? Jika tidak, sekaranglah saatnya menyiapkan langkah antisipasi, bukan saat krisis sudah datang.
Ketiga, perkuat perlindungan WNI di kawasan Timur Tengah, terutama para jamaah haji yang saat ini berada di tanah suci. Perintahkan para kepala perwakilan kita di Teheran, Riyadh, Jeddah, Beirut, dan Kairo untuk menyusun peta risiko dan rencana evakuasi. Kesiapan adalah bentuk tanggung jawab tertinggi seorang pemimpin.
Keempat, bangun komunikasi strategis dengan ASEAN. Ketika krisis energi melanda, solidaritas kawasan akan sangat menentukan siapa yang selamat lebih dulu. Indonesia bisa menjadi inisiator.
Kelima, perkuat kewaspadaan nasional terhadap dampak geopolitik yang dapat memengaruhi ekonomi dan keamanan dalam negeri. Bukan dengan ketakutan, tetapi dengan intelijen yang tajam dan kebijakan yang cermat.
Indonesia memiliki suara yang dihormati. Sekarang saatnya bukan hanya bersuara, tetapi memimpin secara tenang dan berkelas, dengan jiwa keagamaan yang kuat namun tetap rasional.
*Penutup*
Di hari-hari yang seharusnya penuh dengan maaf, kasih sayang, dan pengorbanan, Timur Tengah justru berdarah-darah lagi. Ini bukan kebetulan. Ini adalah cermin bahwa politik dunia belum dewasa, dan bahwa kekuasaan sering lebih didengar daripada doa.
Saya tidak sedang menakut-nakuti. Saya hanya mengingatkan, karena itulah tugas seorang penasihat militer: bicara jujur tentang risiko, bahkan ketika risiko itu terjadi di tengah gelora takbir dan di tengah jutaan jamaah yang sedang wukuf di Arafah.
Serangan Amerika Serikat terhadap Iran di tengah negosiasi di bulan Dzulhijjah yang mulia telah menjadi pengingat bahwa perdamaian di Timur Tengah selalu berada di persimpangan antara diplomasi dan kekuatan, antara iman dan ambisi. Pintu damai belum tertutup. Namun ruangnya semakin sempit. Tekanannya semakin berat. Dan waktu untuk mengendalikan keadaan semakin terbatas, sementara jutaan jamaah haji masih memanjatkan doa untuk keselamatan umat manusia.
Dalam situasi seperti ini, dunia harus bergerak cepat. Diplomasi tidak boleh kalah cepat dari eskalasi. Dan sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan serta perdamaian, Indonesia tidak boleh tinggal diam. Kita tidak akan mengirim pasukan. Tetapi kita bisa mengirim suara. Suara yang tenang, berwibawa, berkelas, dan bernuansa iman.
Karena ketika rudal berbicara lebih dahulu daripada akal sehat dan hati nurani, yang dipertaruhkan bukan hanya keamanan kawasan. Yang dipertaruhkan adalah keseimbangan global dan martabat kemanusiaan itu sendiri.
Semoga di sisa hari raya ini, kita semua khususnya para pemimpin dunia mendapatkan hidayah untuk mengutamakan perdamaian. Karena tidak ada kemenangan yang lebih indah selain menyelamatkan nyawa, bukan meluncurkan rudal. Itulah pesan Idul Adha yang sesungguhnya: berkurbanlah untuk kebaikan, bukan untuk kehancuran. ***











