Opini

BALA-BALA PERSIB

Oleh: Ganjar Kurnia (Mantan Pejabat di Pemda Prov. Jabar)

 

BANDUNG || Koranprogresif.id – Pertandingan Persib melawan kesebelasan manapun, apalagi melawan Persija, bukanlah sekadar peristiwa sepak bola. Itu adalah peristiwa sosial, psikologis, kultural, bahkan kadang-kadang metafisik dengan melibatkan para ahli ilmu gaib. Bola memang bundar, tetapi emosi bobotoh bisa seperti gunung berapi yang siap meletus.

 

Sejak pagi, suasana sudah berbeda. Orang yang biasanya malas mandi mendadak bersih, wangi dan memakai jersey kebanggaan seperti hendak menghadiri sidang kabinet.

 

Di Bandung, warung kopi berubah menjadi pusat analisis taktik internasional. Semua orang mendadak menjadi pelatih. Tukang parkir membahas “pressing”. Tukang seblak menjelaskan transisi bertahan. Bahkan kucing di bawah meja ikut tegang, sebab setiap orang berteriak, ia merasa ada ikan asin yang diperebutkan.

 

“Mun eleh kumaha?” tanya seseorang.

 

Pertanyaan itu langsung membuat udara diam. Sendok berhenti di tengah jalan. Kopi kehilangan uap. Gorengan seperti merenungkan nasib bangsa.

 

“Ulah ngomong kitu,” jawab yang lain. “Pertanyaan kitu the, bisa membuat statistik cidera mental meningkat.”

 

Menjelang pertandingan, televisi menjadi benda paling suci di rumah. Remote diamankan seperti dokumen negara. Anak kecil dilarang mengganti channel kartun. Ibu-ibu yang biasanya berkuasa atas sinetron sementara mundur secara konstitusional, meskipun dengan catatan: “Mun éléh, tong ngambek ka piring.”

 

Begitu peluit pertama berbunyi, semua manusia berubah. Yang biasanya santun mendadak menjadi komentator dengan nada tinggi. Operan salah sedikit langsung dianggap pengkhianatan terhadap peradaban. Pemain terpeleset dianggap bagian dari konspirasi rumput. Wasit meniup peluit, seisi ruangan ikut meniup emosi.

 

“Wasitna kumaha ieu?”

Padahal pelanggarannya jelas terlihat. Tetapi dalam pertandingan besar, mata pendukung tidak lagi biologis. Mata berubah menjadi lembaga banding. Kalau pemain sendiri jatuh, itu pelanggaran. Kalau pemain lawan jatuh, itu sandiwara. Kalau bola kena tangan lawan, penalti. Kalau kena tangan sendiri, itu takdir.

 

Di lapangan, para pemain berlari mengejar bola. Di luar lapangan, jutaan orang mengejar ketenangan batin yang tidak pernah sampai. Setiap tendangan sudut seperti ujian akhir semester. Setiap serangan balik membuat jantung melakukan simulasi gempa. Kalau bola mendekati gawang, seluruh tubuh otomatis berdiri, meskipun sebelumnya sedang makan bala-bala.

 

Gol adalah ledakan kosmis. Jika Persib mencetak gol, Bandung seakan punya matahari tambahan. Orang yang tidak saling kenal tiba-tiba berpelukan. Tukang cilok digendong. Helm dipukul-pukul. Ada yang sujud syukur, ada yang berlari keliling gang, ada pula yang langsung menulis status: “Alhamdulillah, masih ada keadilan di muka bumi.”

 

Tetapi kalau grup lain menyerang, suasana berubah menjadi pengajian darurat. Semua do’a keluar, dari yang hafal sampai yang setengah hafal. Ada yang membaca istighfar, ada yang membaca susunan pemain sambil membaca “jangjawokan” dan kaki menggebrak bumi tiga kali.

 

Pertandingan Persib itu aneh. Satu bola ditendang oleh dua puluh dua orang, tetapi yang masuk angin bisa satu propinsi. Bermain sembilan puluh menit, tapi susah tidurnya bisa tiga hari. Pemain, mendapat kartu kuning, tapi yang tekanan darahnya naik, semua bobotoh.

 

Namun justru di situlah keindahannya. Sepak bola bukan hanya soal menang dan kalah. Ia adalah cara manusia belajar mencintai sesuatu dengan riang, tegang, kadang berlebihan, tetapi tetap manusiawi. Rivalitas boleh panas, suara boleh keras, tetapi akal sehat jangan ikut cedera hamstring.

 

Karena setelah peluit panjang berbunyi, hidup harus kembali berjalan, yang menang jangan sombong seperti baru menemukan planet baru, yang kalah jangan murung seperti WiFi putus saat bayar pajak online. Besok masih ada kopi, masih ada pekerjaan, masih ada cicilan dan tentu saja masih ada pertandingan berikutnya untuk membuat jantung kembali siap berdebar.

Persib akan terus bertanding, Sepak bola boleh panas, tetapi kepala harus tetap dingin. Kalau mau yang panas “mah”, bala-bala saja. ***

Show More

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon Untuk Menonaktifkan Adblock