Perang Drone vs Prajurit Baris-Berbaris

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019)
JAKARTA || Koranprogresif.id –
*Pendahuluan*
Perang tidak pernah bertanya “sudah siap atau belum”. Dia datang, lalu menelanjangi semua kepalsuan. Di Ukraina, drone FPV harga 2 juta rupiah berani mengejar tank T-90 harga 50 miliar. Di Lebanon, drone Hezbollah membuat tentara Israel yang punya Iron Dome tetap tidak bisa tidur. Di Azerbaijan 2020, 44 hari cukup untuk melumat pasukan Armenia yang jago baris-berbaris, dihajar drone Turki dari ketinggian 6 kilometer. Mereka tidak pernah sempat “tembak-menembak” seperti yang diajarkan Seskoad dulu.
Sementara itu, di barak kita, masih ada kompi yang paling bangganya bukan karena akurasi tembaknya, tapi karena barisannya paling lurus saat upacara 17 Agustus. Pertanyaannya sederhana: kita sedang menyiapkan prajurit untuk perang, atau sedang mencetak peserta lomba HUT RI?
*Ketika Musuh Datang dari Langit, Bukan dari Depan*
Perang abad 21, khususnya model AS vs Iran, sudah bergeser jauh. Dia bukan lagi adu nyali jarak dekat. Dia adu “otak, sensor, dan data”. AS menghajar target Iran dari jarak 2.000 km. Tidak ada kontak senjata. Yang ada rudal jelajah, drone swarm, cyber, dan perang elektronik. Iran membalas dengan rudal balistik dan drone kamikaze.
Di medan seperti itu, prajurit yang hanya kuat lari 20 km, tapi buta cara membaca spektrum frekuensi, akan mati duluan sebelum melihat musuh. Armenia 2020 adalah pelajaran mahal. Pasukannya militan, fisiknya kuat, doktrin konvensionalnya bagus. Tapi begitu langitnya dikuasai drone, seluruh sistem pertahanan daratnya lumpuh. Rudal anti-tank jadi besi tua karena tidak tahu dari mana ancaman datang.
Musuh modern tidak memberi kita kesempatan “baris dulu, hormat dulu, baru tembak”. Dia menekan tombol dari ruang ber-AC. Kalau kita masih berpikir perang itu soal siapa paling berani maju, maka kita sedang menyiapkan diri untuk kalah.
*Prajurit Baris-Berbaris di Barak Kita*
Saya katakan jujur, militansi TNI AD tidak pernah diragukan. Sejarah dari Ambarawa sampai Timor sudah membuktikannya. Tapi militansi tanpa pemahaman sistem, sama dengan berani mati tanpa tahu untuk apa.
Gejalanya bisa kita lihat.
*Pertama,* pendidikan dasar prajurit dipercepat. Dikmaba dan Dikmata yang dulu 6-7 bulan, sekarang dipadatkan karena anggaran terbatas dan kebutuhan personel mendesak. Logis. Tapi konsekuensinya: jam menembak reaksi dipotong, latihan navigasi malam dihapus, simulasi Command & Control dikurangi. Yang tidak pernah dipotong? Pendidikan baris-berbaris dan upacara. Hasilnya, prajurit hafal semua aba-aba, tapi gagap begitu radio dijamming GPS di-spoofing. Tahu bongkar pasang SS2, tapi tidak paham cara mengecoh drone yang mengincarnya dari atas.
*Kedua,* anggaran terbatas membuat kita jatuh ke jebakan “latihan murah”. Padahal perang modern justru menuntut latihan yang cerdas. Untuk apa membakar ribuan liter BBM kalau hanya untuk defile kendaraan tempur dan kendaraan administrasi,? kalau satu simulator drone FPV bisa melatih 1 peleton dengan biaya lebih murah, Simulasi perang dikomputer, latihan gabungan lintas matra, itu jauh lebih mematikan daripada sekadar jalan di lapangan.
*Ketiga,* kita lupa bahwa perang modern itu “network-centric”. Satu kompi tidak lagi bertarung sendiri. Dia harus nyambung ke batalyon, batalyon nyambung ke Korem, Korem nyambung ke Kodam, semua lewat data link. Kalau prajurit bawah tidak paham “kenapa data ini penting”, maka begitu satu node kena serangan siber, seluruh kesatuan jadi buta.
*Kembali ke Doktrin*
Jenderal Sudirman: Cerdas, Bukan Sekadar Berani
Jenderal Sudirman dulu menang bukan karena barisnya paling rapi. Beliau menang karena gerilyanya paling cerdas. Beliau paham medan, paham logistik, paham cara memukul lalu menghilang. Itu doktrin. Doktrin tidak pernah mati, hanya bentuknya yang berubah. Dulu gerilya di hutan, sekarang gerilya di spektrum elektromagnetik.
Lalu apa jalan keluarnya? Saya tidak punya resep ajaib. Tapi sejarah dan logika militer memberi dua arah.
*Satu,* kurangi kuantitas, kejar kualitas inti. Anggaran terbatas itu kenyataan. Maka jangan ditebar rata. Bentuk “batalyon contoh” satu per Kodam. Isi dengan prajurit yang benar-benar paham drone, radio, GPS, dan EW dasar. Latih mereka seperti pasukan elit. Lebih baik punya 1 yonif yang musuh takut, daripada 3 yonif yang musuh hanya kasihan.
*Dua,* ubah mindset latihan. Kurangi kebanggaan pada defile. Tambah kebanggaan pada simulasi. Bintara sekarang harus jadi “komandan mini”. Sersan harus paham cara memerintahkan drone, bukan hanya memerintah baris. Pendidikan Bintara dan Tamtama harus masuk materi Network-Centric Warfare. Mahal? Tidak. Lebih mahal kehilangan satu batalyon karena tidak paham cara kerja jammer.
*Penutup*
Prajurit tidak lahir dari parade. Prajurit lahir dari keringat latihan yang cerdas dan pemahaman doktrin yang benar. Jenderal Sudirman menang bukan karena barisnya paling rapi, tapi karena gerilyanya paling cerdas. Beliau paham medan, paham musuh, paham kapan memukul dan kapan menghilang.
Musuh kita besok tidak akan mengetuk pintu barak sambil minta hormat. Dia akan kirim drone dari ketinggian 5 kilometer. Kalau TNI AD masih bangga menjadi “prajurit baris-berbaris”, maka saat peluit perang berbunyi, kita hanya akan jadi penonton paling tertib di kuburan sendiri.
Pilihan ada di tangan kita: mencetak barisan, atau mencetak pemenang. ***










