Kidung Damai di Kaki Borobudur: Saat Gema Vocabuler Bocelli Menautkan Hati Anak Bangsa

Oleh: Muhammad Rofik Mualimin
YOGYAKARTA || Koranprogresif.id – Malam itu, gerimis tipis membungkus pelataran Candi Borobudur. Di tengah pendar lampu yang temaram dan megahnya stupa yang telah berdiri melintasi zaman, terdengar lantunan suara tenor Andrea Bocelli menyanyikan The Prayer. Di barisan depan, tampak seorang kiai sepuh berpeci hitam dan serban putih duduk berdampingan dengan seorang cendekiawan Muslim muda. Mata mereka tampak berkaca-kaca, hanyut dalam buaian nada yang menembus batas-batas dogma.
Di tempat terpisah, beberapa hari kemudian, suasana serupa menyelimuti JiExpo Kemayoran Jakarta. Ribuan pasang mata dari pelbagai latar belakang agama dan suku melebur menjadi satu. Tidak ada sekat politik, tidak ada pertikaian partisan. Di sanalah jargon Love, Peace, and Humanity bukan lagi sekadar slogan propaganda yang hampa, melainkan sebuah realitas yang dihirup bersama.
Dukungan para ulama dan cendekiawan Muslim Indonesia terhadap konser sang maestro tuna-netra asal Italia ini mungkin mengejutkan sebagian pihak. Namun, jika dibaca dengan mata hati dan kejernihan sosiologis, langkah ini adalah terobosan kebudayaan yang teramat bernilai. Masyarakat kita hari ini sering kali terkoyak oleh polarisasi ideologis dan prasangka sektarian yang melelahkan. Di tengah kebisingan itu, seni dan keindahan hadir sebagai pemungut puing-puing kesatuan yang berserakan.
Secara akademis, dukungan para tokoh Islam ini menemukan pijakan teologis dan humanis yang kokoh. Sebagaimana ditegaskan oleh M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996, hlm. 345), Islam pada hakikatnya memandang manusia sebagai saudara dalam kemanusiaan (ukhuwah insaniyyah). Persaudaraan ini melampaui batas geografis dan keyakinan, menuntut kita untuk aktif membangun jejaring perdamaian dunia.
Fenomena ini juga sejalan dengan pembacaan tariqat kebudayaan. Dalam karya monumental Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (New York: Crossroad, 1989, hlm. 253), dijelaskan bahwa keindahan (al-jamal) adalah salah satu manifestasi Ilahi yang paling efektif untuk menyentuhkan jiwa manusia pada Kesadaran Agung. Musik yang membawakan pesan kesucian, seperti karya-karya Bocelli, bekerja persis di tataran tersebut—ia menyentuh fitrah manusia yang paling dalam tanpa perlu menggurui.
Melihat kiai dan cendekiawan Muslim berdiri menyambut pesan perdamaian Bocelli memberikan sinyal kuat: Indonesia adalah rumah besar bagi dialog peradaban. Senada dengan pandangan Taro Kono dalam Japan and the Middle East: Remaking Diplomacy (Tokyo: Japan Times Press, 2018, hlm. 112), diplomasi kebudayaan dan seni (cultural diplomacy) acapkali lebih ampuh melunakkan ketegangan geopolitik dan sosial ketimbang retorika politik formal.
Melalui resonansi suara Bocelli di Borobudur dan Jakarta, kita diingatkan kembali pada akar kebangsaan kita yang sarat dengan tenggang rasa. Konser ini bukan sekadar panggung hiburan borjuis, melainkan medium pembebasan emosional tempat warga bangsa merayakan nilai kemanusiaan universal. Ketika suara tenor itu melengking tinggi menyuarakan kasih sayang, ruang batin kita disembuhkan dari luka-luka perpecahan. Para ulama kita paham betul: menyelamatkan kemanusiaan adalah inti dari menjaga agama itu sendiri.***
Penulis adalah:
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren di Bantul Yogyakarta.











