Perundingan Islamabad Buntu, Nyawa Melayang

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad
(Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019)
JAKARTA || Koranprogresif.id – Dua minggu gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat selesai tanpa hasil. Putaran ketiga negosiasi di Islamabad, Pakistan, yang berlangsung lebih dari 21 jam, mentok total. Wakil Presiden AS JD Vance bilang Iran menolak “tawaran final dan terbaik” dari negaranya. Sebaliknya, Teheran mengatakan masih ada dua atau tiga masalah kritis yang belum ketemu solusi.
Saya baca laporan dari Bernama, TASS, dan Xinhua. Semua sepakat: negosiasi gagal. Lalu, apa yang sudah disepakati, apa yang masih digodok, dan apa yang mentok? Mari kita bahas sambil ngopi di kebun kelengkeng Ciletuh.
*Beberapa Poin yang Sudah Sepakat,*
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengaku bahwa pemahaman sudah tercapai di beberapa isu selama perundingan di Islamabad. Apa saja? Sumber diplomatik tidak merinci. Tapi fakta bahwa tim ahli kedua negara terus bertukar dokumen setelah pertemuan usai, itu pertanda baik. Pakistan sebagai mediator juga disebut sudah bekerja “luar biasa” dalam menjembatani perbedaan.
Intinya: pintu diplomasi masih terbuka. Meski cuma selebar rambut, tapi masih ada celah. Dalam perang, celah sekecil itu sering jadi penyelamat ribuan nyawa.
*Beberapa poin Masih Dibahas,*
Menurut pernyataan resmi Iran, ada Isu-isu yang masih dalam pembahasan, antara lain: Pertama, Pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri. Kedua, Pembayaran ganti rugi perang. Iran merasa dirugikan infrastruktur hancur. Ketiga, Pencabutan sanksi PBB selain sanksi sepihak AS.
*Beberapa poin yang Mentok,*
Ada tiga hal yang benar-benar mentok kayak dinding beton setebal satu meter. Tidak bisa ditembak, tidak bisa diledakin. Inilah kenapa negosiasi putaran ketiga gagal.
Pertama: Urusan Nuklir. AS, lewat Vance, minta komitmen permanen dai Iran untuk tidak membuat senjata nuklir selamanya, bukan cuma sekarang atau dua tahun ke depan. Iran menolak. Mereka bersikukuh bahwa pengayaan uranium untuk tujuan sipil seperti pembangkit listrik, riset medis dan itu merupakan hak berdasarkan Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT).
Kedua: Selat Hormuz yang merupakan Jantung Minyak Dunia. Iran menuntut pengakuan kontrol mereka atas Selat Hormuz, termasuk hak mengenakan biaya dari kapal-kapal yang lewat. Iran menjadikan itu sebagai hak permanen. Sementara AS bersikeras bahwa selat Hormuz harus bebas dan aman buat semua, gratis dan terbuka. Ini hampir tidak bisa dijembatani. Satu pihak merasa punya hak sejarah dan geografis, pihak lain menganggap itu pelanggaran hukum internasional.
Ketiga: Gencatan Senjata mencakup Lebanon. Ini yang membikin saya sebagai mantan prajurit geregetan. Iran bersikeras bahwa penghentian permusuhan harus berlaku di semua lini, termasuk di Lebanon dan Gaza. Sementara AS dan Israel menolak gencatan senjata dengan Iran mencakup Hizbullah di Lebanon Selatan.
*Prediksi ke Depan: Tiga Skenario*
Saya mencoba memprediksi apa yang akan terjadi kedepan sambil minum kopi pahit kesukaan,
*Skenario Satu:* Negosiasi Lanjut di Bawah Tekanan
Penarikan delegasi AS dari Islamabad bisa jadi taktik untuk menekan Iran. Kami pergi dulu, biar mereka mikir,begitu kira-kira logikanya. Tapi risikonya kebuntuan berkepanjangan. Diplomasi jalan di tempat, korban sipil terus berjatuhan.
*Skenario Dua:* Kembali ke Perang Besar
Ini yang paling ditakuti semua orang. Kalo diplomasi bener-bener gagal total, AS bisa kembali ke opsi militer. Target infrastruktur energi Iran, pulau Kharg, dan kemungkinan operasi darat terbatas. Dampaknya, Selat Hormuz ditutup total, harga minyak tembus 200 dolar per barel, inflasi meroket di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Petani yang paling menderita. Pupuk langka, harga pangan naik. Keluarga di Ciletuh bakal ikut menanggung perang orang lain?”
Tapi jangan panik dulu. Saya ragu skenario ini terjadi. Kenapa? AS sudah kalah dalam perang pertama. 13.000 target dibom, 38 hari bertempur, puluhan miliar dolar habis, hasilnya? Iran tidak menyerah. Malah posisi tawar mereka menguat. AS sadar: perang kedua tidak bakal beda.
*Skenario Tiga:* Damai Tanpa Tanda Tangan
Skenario “damai tanpa kesepakatan formal”. AS menghentikan serangan besar-besaran, Iran tetep mengontrol Selat Hormuz secara informal, konflik berlanjut di level rendah, tembak-tembakan sporadis di perbatasan, serangan siber, perang proksi. Bukan perdamaian sejati, tapi juga bukan perang total.
Dalam bahasa militer ini disebut “cease-fire in place” berhenti menembak di posisi masing-masing, tanpa kesepakatan formal. Kedua pihak bisa pulang dan klaim kemenangan di depan rakyatnya. AS bilang: “Kami berhasil menghentikan ambisi nuklir Iran.” Iran bilang: “Kami berhasil pertahankan kedaulatan dan Selat Hormuz.” Sama-sama menang dalam cerita masing-masing.
*Sekadar Catatan tentang PBB*
Saya pernah tugas di PBB, karena itu saya tahu kalau organisasi ini punya hati tapi tangannya pendek. Sekjen António Guterres mengirim utusan ke kawasan perang. Ia juga sudah mengecam serangan Israel di Lebanon. Tapi sekeras apapun suaranya, PBB tidak punya pasukan buat memaksa berhenti menembak.
Satu lagi kelemahan klasik hak veto di Dewan Keamanan. Selama AS masih duduk di kursi tetap, resolusi yang mengkritik keras sekutunya (Israel) hampir pasti gagal. Itu realitas pahit. Lalu apa gunanya PBB? PBB tetap penting sebagai jalur komunikasi cadangan saat negosiasi bilateral macet total, sebagai koordinator bantuan kemanusiaan para pengungsi, dan sebagai pencatat pelanggaran HAM sebagai pertanggungjawaban di masa depan.
Tapi jangan berharap PBB bisa memaksa perdamaian. Di dunia nyata, perdamaian lahir ketika kedua pihak yang bertikai sama-sama capek dan sama-sama rugi kalau perang terus lanjut. Bukan karena resolusi DK PBB.
*Penutup*
Saya sebagai petani di Geopark Ciletuh, Sukabumi. Setiap pagi lihat Gunung Puncak Darma, setiap sore minum kopi di kebun sambal lihat tanaman. Saya merasakan bagaimana harga pupuk naik, bagaimana keluarga resah karena anak mereka harus merantau ke kota mengingat biaya hidup di desa ikut melambung.
Di geopark ini, kami belajar satu hal: Tanaman tidak pernah bohong. Kalau tanaman dirawat dengan baik maka akan memberikan hasil baik demikian sebaliknya, kalau tanaman diterlantarkan maka jangan harap akan mendapatkan hasil yang baik melainkan menjadi semak belukar.
Perdamaian seperti itu, tidak bisa dipaksakan dalam sehari. Butuh waktu, butuh kesabaran, butuh kerelaan buat mengaku salah. Kalo cuma jadi tontonan diplomatik tanpa eksekusi nyata di lapangan tanpa penghentian bom di Lebanon, tanpa pengakuan atas kedaulatan dan hak asasi maka cuma ilusi.
Dan ilusi, seperti tanah longsor di Ciletuh, pada akhirnya bakal runtuh dan menimpa siapa aja yang ada di bawahnya. Biasanya, yang paling bawah rakyat biasa, petani, ibu-ibu, anak-anak yang paling parah tertimpa.
Saya tidak punya solusi ajaib. Saya cuma pensiunan tentara yang sekarang lebih akrab sama cangkul daripada pistol. Tapi satu hal yang saya yakini: perang tidak pernah menyelesaikan apa pun, kecuali menambah korban jiwa. Dan korban jiwa itu akan menambah kesedian dan penderitaan bagi keluarga yang ditinggalkan.
*Ciletuh, 13 April 2026*











